Punggungnya terasa hangat saat ia membuka kedua matanya. Ia mengerjap dan menoleh ke belakang dimana sinar mentari pagi menyorot tubuhnya, datang melewati sebuah jendela besar.
Oh Tuhan. Ini sudah pagi dan aku masih disini. Felix mengamati seluruh ruangan dan ia menjadi geram. Caesar tentunya tak punya niat sedikitpun untuk melepasnya. Semalam ia tidak kembali dan Felix menatap marah kepada pintu hingga ia ketiduran. Ia tertidur, yang benar saja! Ia tertidur dengan kepalanya yang terkulai sepanjang malam.
Kini, lehernya terasa sangat sakit dan ia menjadi pusing. Satu sensasi tak tertahankan yang terjadi di perut bagian bawahnya membuat ia mengerang. Ia kedinginan. Ia ingin buang air kecil. Ia ingin ke kamar mandi. Ia merinding dan bergidik.
"Sial." Felix bergidik saat ia menahan air kencingnya. Ia tidak mau sampai mengompol dan mempermalukan dirinya sendiri. Terkutuklah dia jika melakukannya dihadapan b******n itu. Ia akan menjadi bahan tertawaan, tak diragukan lagi. "Oh, benarkah ini terjadi?"
Sepanjang malam, Felix mencoba melepaskan dirinya, namun simpul yang dibuat oleh anak buah si b******n Caesar rupanya sangat erat dan rapi. Ia menghela napas karena kelelahan mencoba. Akhirnya, ia benar-benar tertidur.
"Aku harus bisa pergi." kata Felix menyemangati dirinya. Ia menggerak-gerakkan kedua pergelangan tangan dan kakinya. "Ayo Felix, jangan menyerah. Jangan. Oh, aku ingin sekali memukul wajahnya."
"Kapan kau bangun?" suara Caesar terdengar.
Felix menoleh ke samping dan menemukan Caesar menuruni tangga. Caesar tampak basah dan memakai jubah mandi putihnya. Ia tersenyum kecil pada Felix dan berjalan ke meja bar berwarna putih dari batu yang kokoh dan halus.
"Anggur, Felix?" tawar Caesar agak terlalu ramah untuk seorang penyandera.
Felix tidak menjawab dan Caesar menaikkan kedua bahunya. Ia memiliki wiski untuk dirinya sendiri dan berjalan ke hadapan Felix. Ia berdecak saat melihat perempuan itu memandangnya, menantangnya dengan kedua matanya yang hijau dan besar.
"Kau marah." kata Caesar.
"Tidak," jawab Felix. "Aku murka. Bisakah kau melepaskanku? Aku ingin kencing."
"Apa? Kau menahan kencingmu semalaman?"
"Kau tak perlu tahu."
"Lakukan saja di tempatmu."
"Terkutuklah aku jika melakukannya," kata Felix tak tahan. "Lepaskan aku."
"Apakah kau baru saja memerintahku?"
"Ya." jawab Felix tidak keberatan. "Ayo. Lepaskan aku."
"Kau harus melakukannya sendiri." kata Caesar. Ia berjalan ke belakang meja bar, menarik laci dan membawa sebuah pisau lipat dari sana. Ia kemudian menghampiri Felix dan menyerahkan pisau lipat itu ke tangannya.
"Apakah kau serius?" Felix begitu geram karena ia harus berjuang sendiri. Ia menyesal karena mengharapkan Caesar sudi untuk memotong tali-tali yang mengikat tangan dan kakinya.
"Ya. Aku akan menontonmu berjuang untuk hidupmu." Caesar tertawa kecil. "Silakan."
Felix mendengus dan mulai bergerak. Ia mengerang dan mengumpat sementara Caesar bersandar kepada piano berwarna hitam yang terbuka. Ia tertawa saat Felix kegirangan karena berhasil melepas ikatan tangan kirinya. Dalam waktu singkat, Felix berhasil lepas dari semua ikatan. Ia berdiri dan menatap pisau lipat di tangannya.
"Apakah kau ingin membunuhku dengan pisau lipat itu? Atau kau sudah lupa akan keinginanmu untuk membuang air kencingmu?" tanya Caesar terdengar mengejek.
"Ah," Felix mengerang kecil saat sensasi itu datang lagi. Ia menjatuhkan pisau lipat itu dan berlari masuk ke sebuah pintu.
Caesar mengambil pisau lipat itu kemudian menyusul Felix. Pintu itu adalah pintu memasuki sebuah kamar dengan ranjang besar yang menakjubkan. Caesar mendengar suara air di dalam sebuah pintu putih berukir emas. Felix pasti tengah melakukan sesuatu di dalam sana dan ingin menyamarkan suara aktivitasnya dengan suara aliran air.
"Keluar." perintah Caesar mengalahkan suara air. Ia rasa Felix sudah cukup lama di dalam sana.
Felix menoleh ke pintu dan berubah menjadi panik. Ia telah melaksanakan apapun yang ingin ia lakukan di dalam kamar mandi. Ia buang air kecil dan membasuh wajahnya. Ia mencoba mencari jalan untuk melarikan diri. Tapi, bahkan tak ada jendela di dalam sini. Sial. Aku terperangkap. Felix menutup keran air dan menatap dirinya di cermin. Sial, sial sekali. Dia akan menyetubuhiku sekarang. Sialnya aku. Arrrrghhhhhhhh.
Sadar mustahilnya akan ada jalan lain, Felix membuka pintu dan keluar. Caesar berdiri di dekat jendela besar dan menyesap minumannya.
"Aku ingin pergi." kata Felix.
"Tentu saja." jawab Caesar berbalik.
"Aku tidak percaya padamu." kata Felix.
"Aku juga." jawab Caesar mengangkat bahunya. "Itu tak diperlukan."
"Bagus. Aku tak tahan menjadi tawanan seseorang." kata Felix. "Sebaiknya kita melakukan ini dengan cepat."
"Baiklah," kata Caesar. Ia menyimpan gelas di nakas dan menghampiri Felix. "Lepas pakaianmu."
Felix patuh dengan cepat dan ia tidak merasa keberatan. Ia ingin semua ini berakhir. Kini, ia berdiri telanjang bulat di hadapan Caesar yang memandangnya dengan dingin. Felix segera tahu bahwa Caesar tak terkesan dengan tubuhnya yang kurus. Tapi, Felix tak peduli. Ia hanya harus ditiduri oleh Caesar dan semua ini akan berakhir. Benar, kan?
"Tuhan, apakah kau bahkan makan dengan benar?" tanya Caesar. Ia memandang tubuh Felix dengan tatapan merendahkan dan tidak berminat. "Apa kau bahkan tahu apa yang pria inginkan?"
"Kau tidak bernafsu padaku," kata Felix. Ia memunguti pakaiannya dan mendekapnya di dadanya. "Itu bagus. Aku bisa menghisap penismu sekali lagi sebagai gantinya dan kita impas. Aku ingin segera pergi."
"Persetan denganmu," kata Caesar kesal. "Kau kurang ajar dan tidak tahu diuntung. Seharusnya seseorang yang mencuri dariku akan kehilangan nyawa mereka. Tapi, kau beruntung karena aku menyukai wajahmu. Perempuan sial."
"Apa kau bilang?" teriak Felix marah. Ia merasa begitu hina. Ia memang merasa terhina sejak semalam anak buah Caesar mendobrak rumahnya dan mengganggu kencan makan malamnya dengan pasta. "Kau b******n. Kau menculikku, ini perbuatan kriminal."
"Kau merampokku terlebih dahulu, jalang." kata Caesar.
"Itu--" Felix kehilangan kata. "Kau yang tergoda olehku! Siapa suruh!"
"b******k, ini masih pagi dan aku sudah marah-marah. Ini sangat tidak perlu." kata Caesar. Ia menghela napasnya dan mencoba mengatur emosinya. "Kau, bersihkan dirimu dulu. Aku akan mencobamu."
Felix memandang marah untuk beberapa saat kepada Caesar kemudian masuk ke kamar mandi. Ia menyimpan pakaiannya di tepi bak mandi yang kering dan dari pualam pucat. Ia kemudian berdiri di bawah pancuran dan menekan sebuah tombol.
"Sial! Dingin sekali." gumam Felix terkejut saat aliran air dingin menyiram tubuhnya. Saat ia menekan tombol yang satunya lagi, aliran air hangat mulai mengalir. Ia menghela napas dan menunduk mengamati kedua kakinya. Sial, kapan kedua kakiku akan keluar dari tempat terkutuk ini.
"Aku hampir kasihan padamu."
Felix begitu terkejut hingga ia berbalik dan menemukan Caesar begitu dekat dengannya. Lelaki ini telanjang, basah dan berkulit kecokelatan. Felix baru menyadari bahwa Caesar begitu tinggi menjulang. Tubuhnya serupa dengan patung-patung berwarna pucat di museum--terbentuk sempurna. Kedua matanya berkilat-kilat dan begitu kelam.
"Kau kecil dan ringkih." kata Caesar. Ia berdecak, "Berapa usiamu sebenarnya?"
"Cukup tua."
"Berapa?"
"Kenapa kau ingin tahu?"
"Karena aku tidak mau kalau aku sampai menyetubuhi anak dibawah umur." hardik Caesar. Ia bersungguh-sungguh.
"Kubilang aku sudah cukup tua."
"Dari kosa kata berbicaramu yang kaya, aku tak meragukan itu."
"Kenapa kau disini? Aku sedang mandi." kata Felix. Ia membelakangi Caesar dan berpura-pura menggosok lehernya.
"Buka kakimu." kata Caesar tiba-tiba.
"Apa?" Felix hendak menoleh namun Caesar menarik rambutnya hingga ia mendongak. Ia memejamkan kedua matanya karena air segera menghujami wajahnya. "Sial, apa yang coba kau lakukan?"
"Kubilang buka kakimu." kata Caesar.
"Kau akan menyetubuhiku disini?"
Caesar membuka paksa kedua kaki Felix dan tak membuang waktu untuk memasuki miliknya yang kering dan tidak siap. Penisnya telah menegang sejak Felix menelanjangi tubuhnya sendiri. Felix mengerang, kesakitan. p***s Caesar menggesek lubang miliknya yang sama sekali tidak siap.
"Sakit," kata Felix. Tangannya menggapai tombol dan menekannya. Air segera berhenti dan Felix membuka kedua matanya. "Sakit, Caesar."
"Tentu saja," kata Caesar hampir berbisik. "Karena kau belum menerima rangsangan."
Caesar membalikkan tubuh Felix dan mulai menguasainya.