“Tolong jangan bunuh aku.”
Raka mengernyit semakin bingung. Arfanio terus mundur dan berusaha menjauh dari Raka dengan ekspresi ketakutan. Apa yang Raka lihat kali ini benar-benar berbeda dengan bagaimana Arfanio bersikap sebelumnya. Raka tidak mengerti mengapa Arfanio secara tiba-tiba berubah seperti itu. Raka bahkan merasa ngeri karena perubahan mendadak tersebut.
“Hei, kau baik-baik saja ‘kan?” Raka mendekat, berusaha untuk menyentuh lengan Arfanio. Jujur saja, Raka tidak tahu apa yang sebenarnya ia pikirkan hingga harus mempedulikan seseorang yang beberapa menit lalu baru saja memaki-maki dirinya dan hendak menghantam Raka dengan batu. Tetapi lagi-lagi, nurani Raka selalu mengambil peran besar dalam setiap tindakan yang ia lakukan, dan ini lah hasilnya.
“Jangan bunuh aku!” Jerit Arf