Raka benar-benar tidak tahu harus bersikap seperti apa saat ini. Ketika ia sampai di kelasnya, teman-teman sekelasnya langsung menatap kedatangan Raka seolah ia adalah tersangka utama. Raka sudah berkali-kali mendapatkan tatapan seperti itu. Tatapan menghakimi dan seolah mengusirnya secara tak langsung. Dengan banyaknya kejadian yang terjadi, Raka seharusnya sudah terbiasa dengan pandangan-pandangan buruk kepadanya, namun tidak, Raka sungguh tidak terbiasa dengan semua itu. Ia memiliki keinginan untuk pergi saat itu juga, namun Raka harus mengutamakan sekolahnya. Hanya beberapa bulan lagi, dan Raka akan terbebas dari sekolah ini.
“Katanya kamu ada di tempat kejadian, ya?”
Raka menoleh. Seorang gadis menghampirinya dengan ekspresi tertarik. Raka tidak ingat siapa namanya. Meskipun Raka su