Raka terlalu sering berpikir mengenai apa yang ia lihat saat ini, sebab ia sendiri bahkan semakin tidak yakin apakah yang ia saksikan memang benar atau hanya halusinasi belaka. Raka merasa benar-benar terguncang dengan apa yang terjadi di ruang guru sebelumnya. Ia sama sekali tidak bisa menenangkan diri setelah apa yang terjadi kepada gurunya. Raka berkali-kali meraba bibirnya sendiri, termasuk menggigiti lidahnya. Ia bertanya-tanya mengapa perkataannya bisa membuat orang lain terpengaruh hingga tak sadar melakukan apa yang Raka ucapkan? Dipikirkan bagaimana pun, semua itu sungguh tidak logis.
Lalu sekarang, ia harus melihat hal aneh lagi.
“Ada apa Raka?” Ulang Ariana.
Raka kehilangan suaranya. Lidahnya bagai kelu. Ia hanya diam, membelalak dan tak berkedip menatap Ariana. Kulitnya puca