"Lama tak bertemu, Pria Jalang," kata Baldwin senior itu. "Dan kau pun masih menjadi jalang Kevin bahkan setelah ia menikah, huh?"
Kasar sekali.
"Ayah, jangan menyebut Eren seperti itu!" peringat Sharon.
Oh, betapa baiknya wanita ini. She don't deserved a jerk like Kevin. She deserve all of the more happiness in this world.
Pria tua itu menulikan pendengarannya. Ia justru tetap memandang Eren dengan tatapan merendahkannya, persis seperti sebelas tahun yang lalu. Masa ketika Kevin memaksa Eren untuk memperkenalkan dirinya dengan keluarga Baldwin, keluarga Kevin.
"Kau ... parasit. Masih berani kau mendekati anakku? Seberapa banyak uang Kevin yang mengaliri rekeningmu, hm? Aku bahkan bisa membayarmu lebih dari dia membayarmu, lalu pergilah kau dari ketenteraman keluarga kami."
"Ayah ...," lirih Sharon tak menyangka ucapan sekasar itu bisa keluar dari sang mertua. Pasalnya, ayah mertuanya ini adalah pria terbaik selain ayahnya yang pernah ia kenal. Tapi ... kenapa? Kenapa pria ini berubah menjadi sosok yang sangat kontras jika bertemu dengan Eren? Ada apa sebenarnya di antara mereka?
Eren mengepalkan kedua tangannya di sisian tubuh, menatap ayah Kevin dengan dahi mengernyit sebal. Orang ini selalu sama, dari dulu ucapannya selalu menyakitinya. Tak pernah berubah.
"Oh, atau kau menyukai p***s anakku? Kau bahkan bisa mencari p***s yang sama atau bahkan lebih besar dari punya anakku di gay club mana pun, Jalang." Pria itu melanjutkan, menggoreskan luka tak kasatmata yang semakin mendalam pada Eren. "Kau bisa bebas mengangkang sepuasmu pada mereka."
"Ayah, kumohon hentikan." Sharon yang ikut mendengarkan ucapan itu pun langsung menatap Eren sungkan, "E-Eren, lebih baik kau ... kembali bekerja saja—"
"Oh, dia bekerja di sini?" tanya Mr. Baldwin dengan wajah sok terkejutnya, "Kalau begitu, kau kupecat."
"Ayah!" pekik Sharon tertahan. "Jangan—"
"Ada apa ini?" Kevin tiba-tiba datang di tengah situasi ini. Ia yang mendengar keributan di depan ruangannya memutuskan untuk keluar dan justru melihat pemandangan ayahnya yang tengah mencecari Eren—membuatnya merasa seperti deja vu seketika. Flashback ke beberapa tahun silam.
"Ayah tak berhak memecat Eren. Ia karyawanku—"
"Tapi ia berada di bawah naungan perusahaanku, kalau kau lupa," potong pria enam puluh tahun itu dengan raut pongah.
"Perusahaan yang sudah Ayah berikan padaku."
Sepasang ayah dan anak itu pun saling berpandangan dengan sengit, sama-sama tak ingin kalah melancarkan argumentasi masing-masing.
"Ayah, Kevin, tolong hentikan." Sharon berusaha menengahi. Tubuh mungilnya harus berada di tengah-tengah kedua pria yang memiliki tinggi di atas rata-rata itu sebagai perantara. "Sudah, sudah."
"Kalian berhentilah." Eren angkat bicara, meminta atensi dari keluarga itu, "Saya akan mengundurkan diri. Dan Kevin, surat pengunduran diriku akan menyusul lewat e-mailmu."
Tiga pasang mata dengan ekspresi yang bermacam-macam itu sontak memusatkan pandangannya pada si pria cantik.
"Eren!" Satu-satunya wanita di sana langsung membeo, menatap Eren dengan manik tak percaya.
"Eren, kau tak bisa—"
"Pilihan yang sangat tepat, anak muda." Baldwin senior itu langsung tersenyum puas, merasa menang.
"Kalau begitu, saya pergi," pamit Eren seraya berjalan melewati ketiga orang di hadapannya, berjalan seolah tak memedulikan semuanya.
Lebih baik begini. Ia tak mau menjadi sumber keributan di tengah keluarga bahagia mereka. Eren tahu diri, lebih baik ia pergi.
-
Eren berjalan gontai ketika berjalan di lorong rumah sakit yang agak lenggang hari ini. Ia bingung akan bekerja di mana setelah ini, sedangkan ia kemarin baru saja mengeluarkan banyak uang untuk operasi patah tulang Emer dan menjahit beberapa bagian yang terluka. Tak lupa uang ganti rugi pada teman Emer yang ikut celaka bersama anaknya. Eren harus bertanggung jawab karena Emer-lah yang membawa sepeda temannya kala itu.
Setelah ini ia harus kembali memikirkan biaya inap anaknya. Sebenarnya tak apa untuk rawat jalan di rumah, tetapi Eren harus bekerja. Otomatis rawat inap rumah sakit adalah hal yang dipilihnya. Ia tak mau Emer tak kunjung sembuh karena kelalaiannya. Tidak, jangan lagi. Cukup kemarin ia melalaikan Emer hingga anaknya celaka. Jangan sampai terjadi lagi.
"Papa?" Emer memiringkan kepalanya saat tiba-tiba papanya memasuki ruang inapnya, "Papa sudah pulang? Tumben cepat sekali?"
Eren tersenyum lebar, ia harus mengubah ekspresi lemasnya menjadi seolah tak terjadi apa-apa. Ya, ia tak apa-apa. Besok ia akan berusaha mencari pekerjaan baru dengan giat!
"Iya, hari ini papa pulang lebih cepat," jawab Eren. "Karena Papa sudah rindu sekali dengan pangeran kecil Papa!"
Dengan riang Eren memeluk tubuh yang lebih kecil, menggusak-gusakkan rambutnya di pipi dan leher Emer hingga membuat anaknya terkekeh kegelian.
"Papa! Geli, tahu!" Bocah tujuh tahun itu menggeliat minta dilepaskan dengan jeritan melengking yang penuh tawa.
Karena kasihan melihat anaknya yang tertawa sampai menangis, Eren pun menghentikan aksinya sambil menyeka air mata sang anak. "Emer sudah makan siang?"
"Sudah dong."
"Minum air yang cukup sehabis makan?"
"Ya, satu gelas penuh!"
"Kalau minum obat?"
"Sud—ung ... Emer mengantuk." Emer langsung pura-pura menguap dan merebahkan tubuhnya dengan nyaman.
Eren mengulum senyumnya dengan menggeleng-gelengkan kepalanya pelan, "Pasti Emer belum minum obat."
"Sudah kok ...," cicit anak itu sembari menunduk memainkan jarinya, kebiasaannya saat sedang gugup.
"Sepertinya Papa pernah bilang tak boleh berbohong~" Eren menggoda anaknya—dengan nada yang sok imut—agar mengaku.
"Iya, iya. Emer belum minum obat." Emer cemberut menatap sang ayah dengan tampang memelas bak anak anjing di tengah hujan. "Tapi obatnya pahit, Papa!"
"Ya sesudah minum obat, makan roti yang papa belikan kemarin saja. Kan itu manis."
"Um ... rotinya sudah Emer habiskan semuanya tadi," aku anak kecil itu dengan lirih. "Habisnya enak."
"Lima-limanya Emer habiskan?"
"Iya, hehehe." Bocah itu cengengesan, menampilkan deretan gigi susunya yang nampak rapi.
Lagi, Eren menggeleng-gelengkan kepalanya pasrah. "Emer sudah makan yang manis-manis tadi, jadi sekarang harus minum obat."
"Tapi tak ada penangkal pahitnya, Papa!" Emer dengan keras kepala menggelengkan kepalanya brutal. Ia masih mengingat betapa pahitnya obat itu di kerongkongannya.
"Emer, kalau Emer tak mau minum obat, nanti tulang Emer yang kemarin patah akan patah lagi. Semakin banyak sampai keropos, lalu akan membusuk. Membusuknya tidak di kaki saja, tapi bisa menjalar ke tangan, kaki, kepa—"
Emer memelototkan matanya dan dengan kecepatan kilat langsung kembali mendudukkan dirinya.
"Papa! Emer mau minum obat, tolong ambilkan obatnya. Iya, benar! Obatnya! Tolong kemarikan semuanya. Emer tak mau tubuh Emer membusuk seluruh badan dan dimakani ulat. Tidak, tidak, tidak!" Emer yang panik langsung meminum obat-obatnya walau terlihat ekspresi mengernyit tak enaknya—rasa obat-obatan itu benar-benar pahit!
Ya, namanya juga obat. Kalau tak pahit, nanti banyak orang yang menyemili obat atau tak berusaha menjaga kesehatan mereka.
"Anak pintar," puji Markley senior sembari mengelus rambut Emer sayang.
"Papa, Emer belum boleh pulang ke apartemen, ya?"
"Belum. Emer belum pulih betul. Lagipula, nanti siapa yang menjaga Emer di rumah dengan keadaan seperti ini?"
"Kan ada Papa?"
"Papa kan bekerja, Emerald Sayang."
"Ah, benar juga."
Syukurlah Emer anak yang penurut sehingga Eren tak perlu pusing-pusing membujuk anaknya untuk tetap tinggal di rumah sakit ini lebih lama lagi.
"Papa sudah makan?" tanya anak itu pada papanya.
"Sudah kok."
Padahal belum.
"Papa baik-baik saja?"
Emer menyentuh pipi papanya. Entah kenapa sebagaimana Eren menyembunyikan ekspresinya, anak kelewat pekanya itu selalu bisa menemukan celah kesedihan yang padahal sangat kecil dan terlalu sukar untuk dapat terlihat oleh siapa pun.
"Papa sangat baik!" Eren terus berusaha menekan kesedihannya.
Padahal tidak.
Ia memang lemah, sekalinya ada orang yang menanyakan keadaannya saat ia sedih, rasanya ia mau menangis saja bawaannya.
"Papa, maaf ya kalau Emer selalu membebani Papa, membuat Papa semakin banyak masalah karena Emer ...," ungkap Emer pelan, kepalanya menunduk dengan dalam.
Sedikitnya Eren tercengang. Astaga, anaknya yang baru berumur tujuh tahun mengapa bisa berpikir demikian? Terlalu dini bagi Emerald untuk merasa bersalah karena merasa dirinta menyusahkan.
Demi Tuhan, Eren berani bersumpah bahwa anaknya bukanlah beban. Emerald adalah karunia yang Tuhan berikan untuknya.
"Tidak, Emer. Emer jangan berbicara seperti itu. Emer anak yang baik, tidak pernah menjadi beban atau masalah Papa. Kan Emer anak kesayangan Papa."
"Papa sayang Emer?"
"Aish, pertanyaan macam apa itu? Tentu saja! Emer adalah yang paling papa sayangi di dunia ini!" Sang ayah lantas mendekap tubuh kecil anaknya, memberikan kehangatan penuh kasih agar Emer dapat merasakan bahwa anak itu adalah kesayangannya. Dunianya.
-
Bruk!
Eren yang berjalan pelan hendak ke swalayan rumah sakit tiba-tiba merasakan bahunya terbentur lumayan kencang oleh seseorang.
"Ah, maaf. Saya tak sengaja!" panik seorang perempuan paruh baya yang baru saja menabrak Eren hingga membuat keduanya mundur beberapa langkah. "Saya buru-bu—Eren?"
"Bibi Becca?"
"Eren! Anak cantikku, ini benar-benar kau?" Mata yang sudah memerah itu pun kian memerah kala air mata itu kembali keluar sambil menatap Eren penuh haru. "Kemarilah sayang, bibi sangat merindukanmu."
Tubuh kecil wanita tua itu langsung memeluk Eren dengan erat, sangat hangat.
Sama seperti dulu.
"Bagaimana kabarmu sekarang? Kau semakin cantik setelah sekian lama tak berjumpa." Wanita itu selalu saja heboh saat melihatnya.
Melihat Bibi Becca, melempar ingatannya pada kejadian sebelas tahun yang lalu. Di mana wanita ini adalah satu-satunya orang yang menyambutnya dengan hangat dan heboh di tengah rumah besar Kevin yang terkesan kaku.
Ialah Rebecca Baldwin, istri dari Richardo Baldwin, juga ibu dari Kevin Baldwin.
Wanita inilah orang pertama di keluarga Kevin yang mengetahui hubungannya dengan Kevin di masa lalu. Wanita ini tak menentang mereka, kala itu Bibi Becca hanya tersenyum penuh keibuan serta mengharapkan kebahagiaan bagi keduanya.
Sedikitnya, Eren menyayangkan bagaimana bisa wanita sebaik Bibi Becca bertahan dengan lelaki otoriter seperti Richardo Baldwin itu?
Eren menggeleng-gelengkan kepalanya, berusaha menghalau pikiran absurd yang tiba-tiba mampir ke dalam pikirannya.
"Eren?" Bibi Becca mencoba menyadarkan Eren yang mendadak tampak aneh.
"O-oh? Ya, aku baik, Bibi. Bagaimana kabar Bibi?"
"Syukurlah aku pun baik-baik saja." Bibi Becca menatap Eren dengan sangat lembut, sangat keibuan sekali.
"Lalu, untuk apa Bibi kemari?"
"Astaga! Aku lupa!" pekik nyonya Baldwin, "Aku harus buru-buru! Ayah Kevin baru saja kecelakaan sepulang bekerja—"
"Tuan Baldwin kecelakaan?"
Bibi Becca mengangguk gusar. "Ah, Eren, bisa Bibi meminta nomor ponselmu?"
Tanpa persetujuan, sedikit tergopoh perempuan lima puluh lima tahun itu menyerahkan ponselnya dan langsung diterima oleh Eren untuk kemudian memasukkan nomor ponselnya.
"Bagaimana bisa Tuan Baldwin kecelakaan?"
Eren terkejut tentu saja. Baru tadi siang pria tua itu memaki-makinya, sorenya ia sudah kecelakaan.
Balasan dari Tuhan cepat sekali, pikir Eren melenceng.
"Iya, tadi kecelakaan beruntun di jalan tol," jawab perempuan itu terlihat murung, "Kalau begitu Bibi pergi dulu, ya. Semoga lain kali kita bisa kembali bertemu, hiduplah dengan baik-baik saja. Tuhan memberkatimu, anak cantikku!"
Semoga.
Sebelum berjalan, Bibi Becca menyempatkan diri untuk mencuri cubitan gemas di pipi Eren dengan tersenyum senang. "Sampai jumpa, Sayang!"
"Hati-hati, Bibi. Sampai jumpa!"