Tok! Tok!
"Siapa?" tanya Emer ketika pintunya dibuka dan menampilkan kepala menyembul seorang perempuan yang berumur tiga puluhan.
"Emer?"
" ... Ya?"
"AAAAAH, EMEEEER!!!" Wanita itu menjerit senang sembari berlari dengan bersemangat ke arah Emerald.
Tak hanya ketika berlari ia berteriak, bahkan saat sudah berada di hadapan Emer, wanita itu memeluknya dengan gemas dan berteriak hingga telinga Emer berdenging kesakitan.
"AAAAHHHH, EMERALD-KUUUUU!"
"GYAAAAH, LEPAAAAS!" jerit Emer antara ngeri dan jijik. Emer memang sedikit jijik jika dipeluk perempuan dewasa, ia tak suka jika kepala atau dadanya bersinggungan dengan bongkahan kenyal di d**a mereka—ew.
"EMEEER!"
"LEPASIN DULU, TANTE!" teriak Emer sambil meronta. Membuat perempuan itu langsung melepaskan dengan tak rela. "Tante siapa, sih?"
"Eitss, jangan panggil tante. Panggil 'mama'! Oke, coba panggil apa?"
"Tante."
Wanita bersurai blonde itu berdecak gemas, "Mama, Emer Sayang. Mama."
"S-sejak kapan papa menikah lagi?" tanya Emer sambil mengernyitkan dahinya, berpikir dengan gaya sok keren—yang justru terlihat lucu di mata sang ibu—"Apa papa tak kemari karena baru menikahi Tante?"
Wanita tiga puluh dua tahun itu bukannya menjawab malah mencubit kedua pipi gembil Emer pelan, "Mana ada menikah lagi? Ini Mama. Mama Brittany, ibu Emer. Kandung. Yang melahirkan Emer!"
"Eh? M-Mama Brittany?"
Brittany si rambut blonde itu mengangguk bersemangat, "Iya, mama kamu, Sayang!"
Alih-alih senang, Emer justru menundukkan kepalanya murung. "Papa pernah menceritakan Tante Brittany, ibu Emer. Tapi ... seorang ibu bukannya takkan meninggalkan anaknya?"
Keceriaan yang sedari tadi Brittany bawa langsung hilang seketika, yang tersisa hanyalah kesunyian yang mendadak canggung karena pertanyaan Emerald-nya.
Brittany pikir Emer akan dengan mudah menerimanya dengan keceriaan yang Brittany tunjukkan, tapi ternyata Emer bahkan terlalu dewasa untuk sekadar dibohongi dengan sebuah ekspresi semunya.
Astaga, anak tujuh tahun ini canggih sekali. Brittany sampai takjub melihatnya.
"Emer, dengarkan Mama," lirih Brittany masygul. "Mama minta maaf karena meninggalkan Emer, ya? Mama mengambil pilihan yang salah untuk meninggalkan kalian, meninggalkan Emer."
"Lalu, apa dengan kembali ke kami adalah pilihan yang benar?"
Lagi-lagi Brittany dibuat takjub akan didikan Eren pada Emer sehingga anaknya bisa menjadi seperti ini. "Tentu saja. Lagipula kalau ini salah, mengapa tak kita anggap menjadi benar saja?"
"Kemudian, kenapa Mama kembali?"
Syukurlah anak itu sudah mau menyebut Brittany 'mama'.
"Izinkan mama menebus kesalahan mama, oke? Mama sayang Emer hingga tak pernah untuk tak mengingat Emerald Jacob Markley-nya mama, mama selalu memikirkan Emer," ungkap sang wanita blonde sambil kembali menarik Emer ke pelukannya, tak erat tapi sangat lembut penuh kasih sayang.
"Mama ...," bisik Emer.
"Iya, mama di sini, Sayang."
"Tolong kalau sudah memilih kembali pada kami ... jangan pergi lagi, ya?"
Brittany meneteskan air matanya perlahan tatkala mendengar sindiran Emer, tapi ia justru terkekeh. Entahlah, terasa sedih, namun mengharukan, tapi juga menggelikan.
"Iya, mama janji."
-
Eren yang melihat pemandangan sepasang ibu dan anak di ruang inap Emer itu pun langsung mengembuskan napasnya lega.
Sedari tadi ialah yang membujuk Brittany untuk masuk—karena selama ini Brittany selalu mengawasi anaknya dari jauh—bahkan mengetukkan pintu dan mendorong Brittany untuk masuk, akhirnya wanita itu berhasil juga.
Menjadi pengecut bukan gaya Brittany sekali, ia jadi gemas sendiri.
Sahabat sekaligus mantan istrinya berhasil memasuki ruangan itu, pun memasuki kembali hati anaknya. Pemandangan yang sungguh mengharukan bagi seorang ayah sepertinya.
"Jadi, Emer dirawat di rumah sakit yang sama dengan ayahku?" Suara lelaki yang Eren kenal itu langsung memasuki pendengarannya dengan mulus—mengingat posisi pria ini menempeli punggungnya dan berbicara sangat dekat dengan telinganya.
Eren sontak berbalik sembari mendorong d**a bidang pria itu keras, ia juga langsung menatap lelaki tinggi itu dengan sengit. "Apa yang kau lakukan di sini, Kevin?"
Oh tentu saja, Kevin Baldwin. Lelaki yang rasanya selalu membawa masalah—juga cinta—selama beberapa bulan ini di antara kehidupan tenteramnya.
"Tidak, tidak. Tolong jangan emosi dulu. Aku hanya sekadar berjalan-jalan dan kemudian aku melihatmu di sini sedang mengintip Emer dan Brittany di balik kaca. Wow, Brittany tak terlihat berubah banyak, omong-omong."
"Aku tak peduli," respons Eren cuek.
"Eren, tak bisakah kau kembali pada—"
"Sudah kubilang aku tak mau kembali padamu!"
"—perusahaanku." Kevin melanjutkan dengan terbengong. Kaget saat Eren memotong ucapannya dengan pemikirannya sendiri.
Kevin terkekeh pelan. Oke, ia memang ingin menginginkan Emer untuk kembali ke dalam pelukannya. Tapi kalau dipikir-pikir, dengan segala kerunyaman ini, ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakan perkara hubungan mereka.
Dengan wajah memerah malu, Eren mengernyitkan dahinya sebal sembari menggigit bibirnya pelan. "Tidak, aku tidak akan kembali ke perusahaan ayahmu itu!"
"Eren, kau membutuhkan uang untuk biaya Emer bukan?" bujuk Kevin dengan nada merayunya. "Kau bisa kembali ke perusahaanku."
"Aku ... bisa bekerja di tempat lain!" tukasnya kilat.
"Emer, ayolah. Susah sekali mencari pekerjaan di negara ini. Aku akan—" Tangan si pria tinggi langsung menggenggam tangan si androgini, "—menaikkan gajimu? Jabatanmu?"
"Dan dianggap jalang oleh ayahmu ketika ia mengetahuinya? Tidak, terima kasih. Yang lalu-lalu sudah cukup bagiku," tolak si mungil dengan datar. Sudah cukup ayah Kevin mengatainya kemarin, tidak dengan di kemudian hari.
"Aku—"
"HUWAA!"
Tiba-tiba sandaran Eren di pintu yang tertutup malah jadi terbuka, membuat Eren nyaris terjatuh kalau saja wanita tiga puluh dua tahun itu tak menahan punggungnya, juga Kevin yang memegang sepasang pergelangan tangannya.
Eren malu, posisi nyaris jatuhnya tak elite sama sekali. Tapi bersyukurlah ia tak benar-benar terjatuh tadi.
"Ah, Eren! Maafkan aku!" sesal Brittany, "Aku mau ke mobilku karena ponselku tertinggal di sana dan tak melihatmu yang tengah bersandar. Maafkan aku, ya?"
"Iya, tak apa, Any."
"Tunggu, bukankah kau si Baldwin?" tanya si perempuan blonde ketika wajahnya berpaling dan bersibobrok dengan pandangan Kevin.
"Iya, aku Kevin. Lama tak berjumpa denganmu, Bri—"
BUGH!
Brittany tak membiarkan kalimat pria itu selesai, ia justru memberikan bogem mentahnya pada pipi kiri Kevin. Membuat dominan itu terhuyung beberapa langkah dari tempatnya yang semula.
"Kau menyakiti Eren-ku!" teriak Brittany, "Mau apa kau kembali, hah!?"
Antara fokus sakitnya, antara geli yang menggelitiki perasaannya, rasanya ia seperti kembali ke masa lalu. Di mana ia memberikan undangan pernikahannya pada Eren dan berakhir mendapatkan banyak jackpot dari Brittany.
Ialah sahabat fujoshi barbar-preman-urakan-tukang pukul milik Eren.
Perempuan yang melihat Kevin justru terkekeh setelah mendapatkan pukulan darinya pun kian naik pitam. Ia langsung meraih kerah kemeja Kevin untuk kemudian diremasnya kuat.
"Apa yang kau tertawakan, hah?!"
Kevin memilih mengalah, ia tak akan menyakiti fisik perempuan walaupun ia ingin. Kevin pun menunjukkan kedua telapak tangannya pertanda menyerah.
"Tidak, sepertinya ada salah paham di sini," bela Kevin pada dirinya sendiri. "Aku hanya menawari Eren pekerjaan saja kok, tak ada hal lain."
"Tidak, Eren akan bekerja di perusahaan ayahku, sialan!" maki Brittany, "Jauhi dia!"
Disuruh seperti itu membuat Kevin memelototkan matanya tak terima, "Memangnya kau siapanya? Kau bukan istrinya! Kau tak berhak mengaturnya!"
"Kau sendiri siapa memaksa Eren yang tak ingin bekerja di perusahaanmu? Kekasihnya? Kau bahkan sudah memiliki istri dan calon anak, b******n!"
"Perempuan ini!" Kevin nyaris saja ingin melayangkan tamparannya pada pipi mulus Brittany, namun tangannya dicekal oleh sang pujaan hati.
"Cukup," titah Eren. "Jangan pernah berani menyakiti Brittany."
Kevin melunak ditatap sedemikian tajam oleh si cantik Eren, maka dari itu ia langsung menarik tangannya paksa hingga terlepas.
"Dan Brittany benar. Aku akan bekerja di perusahaan ayahnya hingga aku takkan bertemu denganmu, aku tak akan mengganggu kehidupanmu lagi."
"Tunggu—Eren!"
Eren berlalu gesit memasuki ruang inap Emer—Kevin mau menyusul, tapi ia terlalu pengecut untuk melakukan hal itu. Karena demi Tuhan, final Eren kali ini terasa sangat mutlak nan sungguhan.
Dan Brittany, dengan pongah perempuan berambut pirang itu berjalan sambil menabrakkan kedua bahu mereka untuk berjalan di tengahnya lorong yang sepi.
Kevin membuang napasnya pelan, ia pun mengacak surainya frustrasi.
Kesempatannya untuk kembali pada Eren benar-benar semakin menipis saja.