"Tak ada rencana membawa Emer pulang?" tanya Brittany ketika dirinya dan Eren tengah berjalan di tengah koridor rumah sakit. "Kurasa Emer hanya tinggal pemulihan saja. Dan di rumah pun bisa."
Eren menggeleng sambil menatap Brittany kalem, "Kata dokter, Emer harus di sini paling tidak selama seminggu sembari menunggu jahitannya kering. Emer anaknya aktif sekali. Entah apa yang dilakukannya sampai-sampai jahitannya ada yang terbuka lagi kemarin."
"Ya, bocah itu sering sekali berjalan-jalan saat kita tak ada. Benar-benar—"
"Benar-benar bandel sepertimu?" potong Eren sambil tersenyum miring mengejek.
Oh, ibu dari anaknya ini memang bandel sedari dulu. Untung hanya sekitar 25% genetika Emer yang diwarisi ibunya—untuk tingkat kecerobohan dan kenakalannya—lainnya adalah sifatnya. Eh, tapi tak tahu lagi. Mungkin saja semua sifat dan perilaku Emer belum terlihat sempurna akan lebih condong ke siapa, semoga saja terus condong pada dirinya.
Kalau sampai condong ke sifat dan perilaku ibunya, siap-siap saja ia migrain berkepanjangan.
Satu Brittany saja sudah pusing, apalagi replika Brittany. Tidak, terima kasih. Semoga hal itu tidak akan benar-benar terjadi.
"Tapi kalau dibilangi jangan keluar dulu, dia akan tetap pergi. Ia keras kepala sepertimu, tahu!"
"Tetapi ia membangkang sama sepertimu!"
"Aish, bahkan kalau dipaksa untuk tetap tinggal, anak itu akan mengucapkan kata-kata pedas yang menusuk. Sangat kau sekali, Eren!"
"Oke, oke baiklah. Emerald memang anak kita, jadi sifatnya menurun oleh sifatku juga sifatmu."
"Itu tahu!" celetuk Brittany.
Kemudian, hening.
Tapi, sedetik kemudian tawa keduanya sontak datang secara bersamaan. Menertawai kebodohan akan sikap tak mau kalah mereka akan sifat-Emer-dapat-dari-siapa itu.
Astaga, mereka bahkan sudah tiga puluh dua, bisa-bisanya mereka berkelahi seperti remaja berumur delapan belas hanya karena anak mereka.
Ah, anak mereka ....
Eren tiba-tiba tersenyum tipis menatap Brittany yang masih sibuk meredakan tawanya.
"Any," panggil Eren pelan.
"Hm?" sahut Brittany.
"Terima kasih sudah mau mengandung dan melahirkan Emerald," ujar Eren. "Maaf juga karena telah menghamilimu saat itu."
Brittany tersenyum ringan, "Untuk ucapan terima kasihmu, kujawab sama-sama. Tapi untuk permintaan maafmu, jujur saja itu tak perlu. Aku bahkan tak pernah marah padamu. Lagipula jangan pernah menyesal menghamiliku karena jika tidak, Emer tak akan berada di sini bersama kita."
"Aku ... merasa bersalah karena merusak masa depanmu." Eren menundukkan kepalanya, mengingat betapa hancurnya Brittany setelah ia dinyatakan hamil tepat empat hari setelah pemerkosaan yang dilakukannya.
Pemerkosaan? Terdengar keji. Tapi memang itulah adanya.
Eren yang hobi mabuk-mabukan pasca pernikahan Kevin itu tiba-tiba bertemu dengan Brittany yang baru pulang sehabis dari pesta ulang tahun temannya. Brittany yang sedang berbaik hati menawarkan tumpangan malah jadi bahan perkosaan Eren.
Sebenarnya, ia tak kalah brengseknya dengan Kevin dulu.
"Apa sih maksudmu?" Brittany menonjok bahu Eren main-main, mencairkan suasana yang mendadak mellow. "Tak ada yang masa depannya rusak di sini, Eren. Aku baik-baik saja. Lihat! Setelah melahirkan Emer, aku masih bisa melanjutkan S2, bahkan S3-ku. Aku bekerja dengan baik di perusahaan ayahku, aku pun melanjutkan hidup dengan sangat baik. Kau mengizinkanku untuk melanjutkan hidupku yang semestinya untuk kalian, dan aku berterima kasih untuk itu."
Senyum Eren semakin lebar mendengar penuturan Brittany. Syukurlah ia dipertemukan dengan orang seperti Brittany. Temannya, sahabatnya, saudaranya, keluarganya. Eren tak bisa untuk tak menyayangi Brittany lebih dari apa pun—perempuan ini masih di bawah Emer tentu saja, Emer tetap nomor satu.
"Aku ingin memelukmu," pinta Eren sambil memasang ekspresi merajuk. Terlihat menggelikan, karena demi Tuhan ini ekspresi yang jarang sekali Eren tampilkan.
"Ew, so gay," Brittany mencemooh sok jijik, "tapi becanda! Sini, peluk aku!"
Lalu, mereka pun berpelukan. Bukan pelukan romantis penuh keintiman atau cinta, hanya pelukan sahabat yang berputar-putar bak adegan di film teletubbies.
"Cukup, sialan! Kepalaku pusing!" keluh Brittany sambil menepuk lengan Eren kencang untuk memberhentikan pelukan berputar mereka. "Haaah, aku merasa bumi sedang bergoyang~"
"Emer pasti sudah menunggu kita, ayo!" Eren menarik tangan Brittany tak sabaran.
Sedangkan Brittany yang kepalanya masih pening pun mengumpati Eren dalam perjalanan, "KAU TAK ADA BERPERIKEWANITAAN SAMA SEKALI, YA? KAU BARU MEMBUATKU PUSING DAN SUDAH MENARIKKU SEPERTI SAPI."
"Oh, kau wanita?"
"Menurutmu?!"
"Bukannya kau sapi jantan?" goda Eren.
"Aku benar-benar akan membuat Emer yatim setelah ini!"
Eren tak memedulikan sumpah serapah Brittany, pria tiga puluh dua tahun itu dengan bersemangat langsung membuka ruang inap Emerald.
"Hai, Em—"
"Ke mana dia?" tanya Brittany dengan raut kebingungannya juga.
Emer menghilang.
Brittany dan Eren langsung kalang kabut mencari anak mereka tatkala memasuki kamar, hanya ada keheningan dan kasur dingin Emer yang menyambut mereka.
"Bagaimana ini?" tanya Brittany setelah mengecek kamar mandi, bahkan bawah kasur pun tak ada jejak-jejak Emer sama sekali.
"Begini, kita berpencar saja mencari Emer-nya. Yang bertemu Emer duluan harus menghubungi yang lain, setuju?" usul Eren.
Brittany mengangguk gelisah. Kedua insan itu pun berjalan berlawanan dari arah pintu kamar Emer, berpencar.
-
Di lain sisi ....
"Kakek sendirian?" tanya Emer saat melihat seorang pria tua yang terduduk seorang diri di bangku taman.
"Menurutmu?"
Wow, galak sekali, batin Emer.
Emer sedikitnya kasihan pada kakek-kakek itu. Beliau terduduk sendirian di taman dengan perban di kepalanya, penyangga leher, dan gips di tangan kanannya juga terdapat bebatan perban di telapak tangan kirinya.
Di hadapan pria itu ada makanan, lalu bagaimana pria itu makan? Apa harus menunduk seperti anjing? Astaga, bahkan penyangga leher itu takkan bisa membungkukkannya dengan sempurna kalau tak ingin berakhir dengan nyeri sendi.
"Kakek mau makan?" tanya Emer lagi.
"Tak usah," jawab kakek itu dengan ketus lagi. "Aku tak lapar."
Kruuukkk ....
"Tapi perut kakek berbunyi barusan," ejek Emer sembari terkekeh pelan di saat kakek itu memalingkan wajahnya malu. "Sini, kusuapi."
Emer pun menaruh kruk kecilnya. Ia langsung terduduk di samping orang tua tersebut setelah mengambil makanan yang rumah sakit siapkan di meja depan sang kakek.
"Kakek, hadap sini. Tolong berdoa dulu," titah Emer sembari ikut memejamkan matanya di hadapan nasi lembek di hadapannya. "Tuhan, tolong berkati makanan kami. Berikan kami gizi yang cukup dalam makanan kami, berikan kami kesehatan dan keberkahan akan rezeki yang Engkau berikan siang hari ini. Engkau adalah pemilik kami, maka kami pasrahkan diri kami untuk-Mu. Terima kasih atas kemurahan hati-Mu, Tuhan. Amin."
Emer pun membuka matanya, disambut dengan sang kakek yang terbengong takjub menatapnya.
Astaga, berapa banyak orang yang disebutkan takjub dengan anak didikan Eren ini?
"Siapa namamu?" tanya pria tua itu sembari mengunyah nasi yang disuapkan anak kecil yang menghadapnya itu.
"Emerald, tapi cukup panggil Emer saja, Kek."
"Aku Richardo Baldwin."
"Oke, Kakek Rich! Haha, terdengar seperti kakek kaya!"
Memang, sahut Richard dalam hati. Sifat arogannya itu memang sulit sekali dipisahkan darinya.
"Kau ... kecil-kecil sudah luka-luka seperti ini. Ada apa denganmu?"
"Emer bermain sepeda, Kek, tapi jatuh. Padahal kemarinnya lancar sekali lho!" adu Emer sembari mengerucutkan bibirnya lucu. Ia menceritakan kronologisnya dengan sangat menggebu.
Kakek tua itu terkekeh pelan. Muka garang dan mulut pedasnya tadi terkikis perlahan.
"Dasar payah," ejek Richardo Baldwin itu.
"Emer tidak payah! Hanya sedang tidak bernasib baik saja!"
Kedua lelaki dengan perbedaan umur sangat jauh itu pun terus mengobrol hingga tak terasa makanan si pak tua itu tersisa sesuap lagi saja.
"Kek, setelah makanan habis, Emer harus kembali ke kamar Emer," ungkap Emer sedikit sedih, pasalnya kakek ini seru sekali diajak berbincang.
"Kenapa terburu-buru sekali, Anak Muda?"
"Karena mungkin mama dan papa sudah datang dan akan mencari Emer nantinya," jawab Emer.
Padahal orang tuanya itu saat ini sudah kelimpungan mencari keberadaanya.
"Baiklah," respons Tuan Baldwin. "Di mana kamarmu?"
"Di kamar 421. Kakek kalau mau mengunjungi Emer, datang saja!"
"Siapa juga yang mau mengunjungimu? Kau ini percaya diri sekali," elak si tua.
"Eiy, siapa tahu kakek merindukan Emer. Kan kakek yang bisa berjalan lancar di sini. Nanti kakek Emer suapi, deh."
Pria tua itu terkekeh, "Ya, ya, ya."
"Oke, sudah habis!" pekik Emer. "Kalau begitu Emer pergi duluan ya, Kakek Rich! Dah!"
Emer pun berdiri perlahan dengan kruknya. Setelah posisinya dengan kruk itu pas, ia pun mulai berjalan dengan tongkat itu tertatih pelan.
"Jadi itu anakmu, Eren?" gumam Tuan Baldwin menatap punggung bocah itu dari bangkunya. "Baguslah, kau mendidik anakmu dengan sangat baik."