"Emer?"
"Eh? Paman Kevin?" Emerald menyapa balik pria yang memanggilnya sembari mendongakkan kepalanya pelan. "Paman Kevin sedang apa di sini?"
"Harusnya d-daddy yang bertanya," Kevin berdeham gugup ketika dirinya menyebut daddy pada dirinya sendiri, "sedang apa Emer berjalan sendirian di sini?"
Anak kecil itu mengedikkan bahunya santai, "Hanya berjalan-jalan."
"Mau menemani Daddy makan es krim atau membeli makanan ringan?"
Emer yang semula terburu-buru mau ke ruang inapnya karena takut orang tuanya khawatir, langsung lupa begitu ditawari hal menggiurkan seperti itu oleh Kevin.
Maka tanpa banyak berpikir, Emerald pun mengangguk dengan bersemangat bak boneka yang berada di atas dashboard mobil Sharon.
"Mau! Emer mau!" antusiasnya.
"Kalau begitu daripada Emer kelelahan, kruknya Daddy bawakan, ya? Emer Daddy gendong," pinta Kevin sambil berjongkok di hadapan Emer.
"OKE!"
Emer makin bersemangat tentu saja, sedari tadi ia berjalan tertatih setengah melompat-lompat dengan perlahan rasanya lelah sekali. Maka tanpa berunding apa pun, anak itu langsung menjatuhkan tubuhnya kepada punggung lebar Kevin.
Kemudian, kedua lelaki berbeda umur itu pun berjalan santai ke arah kafe yang berada di depan rumah sakit.
-
"Halo, Mama, Papa!" sapa Emer berteriak tepat di samping telinga Kevin, sampai rasanya telinga Kevin berdengung saking cemprengnya suara itu memasuki indranya.
"ASTAGA, EMER!" Eren memekik menghampiri Emer yang berada di balik punggung Kevin. Wajah lelah berbalur kekhawatiran itu tak bisa ia sembunyikan dari siapa pun kali ini.
Lelaki yang lebih mungil dari Kevin itu langsung mengambil alih Emer dari gendongan Kevin, dengan panik lelaki tiga puluh dua tahun itu memberikan serentetan pertanyaan pada Emer. Seperti:
"Dari mana saja, Emer?"
"Apa yang Emer lakukan sampai pulang malam begini?"
Brittany langsung menatap tajam Kevin. Sedangkan pria tinggi yang ditatap sedemikian rupa langsung menelan ludahnya gugup.
Astaga, rubah betina ini! Bukannya menampilkan d**a besar, perempuan ini malah menampilkan taring buas tak kasatmatanya pada Kevin. Kan Kevin jadi merinding dibuatnya.
"Kau ini benar-benar, ya!"
BUGH!
Lagi, kali ini Brittany memukulnya lebih keras dari kemarin. Emosinya sudah menumpuk, rasa khawatir dan lelahnya sudah mencapai ubun-ubun—ditambah anaknya pulang dengan lelaki yang sangat dibencinya—membuat amarah langsung menguasainya, memberikan banyak kekuatan pada bogemannya.
Kevin yang tak siap akan pukulan mendadak itu, seketika limbung dengan luka sobek di sudut bibirnya.
"Mama!" teriak Emer separuh kagum.
Wow, barbar juga ibunya ini.
"P-Paman Kevin hanya mengantarkan Emer saja tadi. Emer tadi berjalan-jalan di taman dan bertemu Paman Kevin," jelas Emer takut-takut menatap mamanya.
"Hah? Maaf!" Brittany yang tersadar dirinya salah paham langsung menatap Kevin tak enak hati. Maka dari itu, perempuan satu-satunya di sana langsung mengulurkan tangannya pada Kevin.
"Lalu, kenapa Kevin berjalan-jalan di taman sampai selarut ini? Tadi papa cari di taman tidak ada." Emer bertanya kembali dengan lembut.
"Soalnya Emer di tamannya sampai sore. Sorenya lagi Emer diajak beli es krim dan kue di kafe—"
"Berarti paman ini menculikmu dong, Emer!" Brittany yang mendengar ucapan Emer langsung melepaskan tangan yang berniat membantu Kevin, sehingga Kevin kembali terjatuh duduk di kerasnya ubin kamar inap Emer.
"Hanya makan es krim!" bela Emer.
"Aish, benar-benar kau ini, Kevin!" Brittany menatap Kevin gemas—gemas bukan dalam artian baik.
Bugh!
"Sudah dibilang jangan dekati Emerald!"
Bugh!
"Kenapa kau terus mendekatinya, bodoh! Urusi saja istri dan anakmu!"
Bugh!
"Mama, berhenti!"
"Any, berhenti!"
Sepasang ayah dan anak itu langsung berteriak histeris tatkala wanita pirang itu terus memukuli Kevin membabi buta.
Sebenarnya Kevin bisa saja membalas, tapi ini yang memukulinya adalah wanita. Ini juga salahnya yang memulangkan bocah lelaki itu terlalu malam—tak terlalu sih, hanya jam tujuh malam.
Brittany dengan napas terengah, langsung melepaskan cengkeramannya pada kerah kemeja Kevin.
"Kubilang hentikan ulahmu, Kevin," desis Brittany dengan wajah memerah murkanya. "Kau punya keluarga yang lebih membutuhkanmu. Emer masih memiliki orang tua yang lengkap, sedangkan janin yang berada di dalam kandungan istrimu hanya memiliki ibunya dan kau. Kalau dirimu tak bisa menyayanginya, apa yang harus anak tak berdosa itu lakukan?"
"Bry," panggil Kevin dengan wajah memelasnya. Lelaki itu pun melongokkan kepalanya ke belakang tubuh Brittany, melihat dua laki-laki kesayangannya yang tengah berangkulan menatapnya iba.
"Pergilah, Kevin," sahut Eren pelan. Sedikitnya pria itu kasihan pada Kevin yang harus mendapat pukulan dari Brittany yang tak main-main sakitnya.
Tak mendapat pembelaan sama sekali, Kevin pun membuang napasnya pasrah.
Dengan gontai, pria tinggi itu langsung berdiri dari dinginnya ubin rumah sakit dan berjalan keluar ruangan. "Baiklah, aku pergi. Selamat tinggal."
"Hati-hati ... Daddy ...," cicit Emer sambil membenamkan wajahnya pada perut rata Eren, yang sayangnya terdengar sangat jelas di telinga papanya.
-
"Hei, kau tak apa?" tanya Brittany ketika melihat seorang wanita hamil tengah terisak pelan di ruang tunggu depan ruangan dokter kandungan. Siang-siang bolong pula.
"Ah!" Wanita itu tersentak kaget. Ia yang semula menunduk tersedu, langsung mengangkat kepalanya cepat.
Dengan canggung, perempuan itu mengalihkan pandangannya pada Brittany guna mengusap air matanya sendiri.
"A-ada apa?" Brittany terduduk di samping wanita itu, dengan berhati-hati bertanya dengan simpati.
"T-tidak apa-apa. Ya, aku baik-baik saja. Terima kasih," sahut wanita itu sembari menarik ingusnya pelan. Ia malu ketika ada yang memperhatikan wajah menangisnya seperti ini.
"Apa kau sedang mengecek kandungan? Kau sedang hamil?!" Brittany melotot kaget.
Baiklah, Brittany terlihat sangat bodoh sekarang. Ia bertanya seolah di hadapannya ini adalah seorang perempuan berumur di bawah tujuh belas tahun yang sedang frustrasi akan kehamilannya.
Nyatanya, orang di sampingnya ini adalah wanita berumur dua puluh lima lebih. Sangat wajar jika sudah hamil, bukan?
"Oh, maafkan aku. Aku terlalu agresif ya menanyaimu?" Brittany menatap wanita yang terus bungkam itu dengan tak enak hati.
"T-tidak," cicit wanita itu akhirnya. Sangat pelan sampai-sampai Brittany rasa salah mendengar.
"Namaku Brittany Jackson."
"Bri-Brittany Jackson?" ulang wanita itu dengan dahi mengerut heran, menatap perempuan di sampingnya ini dengan saksama.
"Iya, namamu?"
"Sharon ...."
Oke, tunggu. Sharon? Seperti tak asing di telinga Brittany.
Tapi tentu saja, dengan segala kebodohan dan kelambatan otak Brittany, perempuan pirang ini malas sekali untuk berpikir keras mengingat-ngingat siapa nama Sharon yang rasanya sangat tak asing di telinganya.
"Lalu, ada apa denganmu yang menangis di sini? Kau sedang hamil?" Dengan gencar Brittany kembali bertanya. Wanita satu ini sangat ingin banyak tahu apa pun.
"Ya ... aku sedang hamil. Hamil anak pertamaku, Britty."
"Britty?! Kau memanggilku Britty?!" Brittany bertanya dengan suaranya yang melengking. Ia membelalakkan matanya pada perempuan anggun—yang sangat kontras dengannya—di depannya itu dengan terkejut. "Bagaimana kau tahu panggilan masa kecilku?!"
"Kau tak mengingatku?" Sharon melihat Brittany dengan tampang sakit hati yang dibuat-buat—ia hanya mendramatisir saja, omong-omong.
Brittany mencermati wajah Sharon. Ia mengerutkan dahinya sangat dalam, sangat kentara bahwa Brittany sedang berpikir keras.
"Brittany Jackson, kau lupa denganku? Aku Sharon McCartney. Shawie."
"HAH?"
Oke, beruntunglah Sharon bahwa Brittany sudah menggosok giginya tadi pagi.
"Shawie ... tetangga lamaku di Manhattan?"
Dengan mata teduhnya, Sharon mengangguk disertai senyum manisnya. "Iya, Britty."