"Kakek!" teriak Emer dengan nyaringnya saat dilihat seorang pria tua enam puluh tahunan itu menghampiri kamar Emer dengan tangan gips-annya. "Wah, Kakek bawa apa itu?"
Mata Emer langsung berbinar senang—oh, bocah itu memang selalu senang di kala senior Baldwin itu menghampirinya. Tentu saja karena pria tua itu selalu membawakannya makanan. Entah itu cokelat, kacang, atau sekadar roti-rotian.
Omong-omong, Emerald masih tak mengetahui siapa jati diri sang kakek kesayangan, pun dengan hubungan pria tua itu dengan sang daddy yang bahkan tak menampakkan batang hidungnya dalam kurun hampir seminggu ini.
"Kau mau lolipop atau cokelat? Hm ... atau mau snack kentang? Apa lagi yang kubeli, ya? Mau roti? Ternyata tadi aku beli jus dan s**u. Hm ... seingatku, aku tak membeli es krim tadi—"
"EMER MAU SEMUANYA!" pekik bocah tujuh tahun itu dengan mata berbinar-binar, membuat Richard tergelak sampai bahunya berguncang.
"Serakah sekali cucuku ini."
"Emer kan sedang sakit, Kek. Orang sakit boleh makan banyak."
"Siapa yang mengajarimu berkilah seperti itu?"
"Papa."
Richard terdiam sepersekian detik, lalu tertawa lagi—kali ini lebih pelan, dan ada sesuatu di dalamnya yang tidak dimengerti Emer.
Pria tua itu meletakkan kantong belanjaannya di meja kecil samping ranjang dan duduk di kursi dengan susah payah. Tangan kanannya yang terbungkus gips membuat setiap gerakan menjadi dua kali lebih lambat.
"Kakek juga sakit, ya?"
"Sedikit."
"Kenapa tangan Kakek begitu?"
"Jatuh."
"Jatuh dari mana?"
"Dari tangga."
"Kakek main-main di tangga, ya?" Emer menggeleng-geleng dengan wajah sok dewasa. "Papa bilang, tangga itu bukan tempat bermain."
Richard menatap bocah itu lama sekali.
Hidungnya. Bentuk hidung anak itu persis sama dengan hidung anak laki-lakinya yang tidak pernah lagi ia sapa selama sembilan tahun terakhir. Begitu juga caranya mengangkat sebelah alis ketika sedang menghakimi orang dewasa.
"Iya," jawab Richard akhirnya. "Kakek memang bodoh."
***
Eren datang pukul delapan malam, membawa dua kantong plastik dan wajah yang jelas-jelas belum tidur.
Richard sudah kembali ke kamarnya satu jam sebelumnya. Mereka masih belum bertemu muka—Richard selalu pulang sebelum Eren datang, dan Eren tidak pernah bertanya siapa yang meninggalkan cokelat di meja anaknya setiap sore.
"Papa!"
"Halo, Jagoan." Eren mengecup kening anaknya, lalu menempelkan punggung tangannya ke dahi Emer, kebiasaan yang sudah tujuh tahun tidak pernah ia tinggalkan. "Sudah makan?"
"Sudah. Dua kali."
"Dua kali?"
"Yang pertama dari suster, yang kedua dari Kakek."
Tangan Eren berhenti bergerak.
"Kakek?"
"Iya! Kakek yang tangannya digips itu." Emer menunjuk ke arah meja. "Tuh, dia bawa banyak sekali. Emer sampai kekenyangan."
Eren menoleh ke meja kecil di samping ranjang.
Cokelat batangan. Sekantong kacang. Dua bungkus roti. Sebotol jus. Dan di paling ujung, sebungkus permen lolipop warna-warni yang jelas dibeli oleh seseorang yang tidak tahu apa-apa tentang anak kecil dan hanya membeli semuanya untuk berjaga-jaga.
Eren mengenali kebiasaan itu.
Dulu, setiap kali ayahnya pulang dari perjalanan dinas, meja makan mereka akan penuh oleh benda-benda yang tidak ada hubungannya satu sama lain, karena pria itu tidak pernah tahu apa yang disukai anaknya dan terlalu gengsi untuk bertanya.
"Papa?"
"Hm?"
"Papa nangis?"
"Enggak." Eren mengusap wajahnya cepat-cepat dan tersenyum. "Papa cuma capek."
Emer memandanginya dengan mata yang terlalu jeli untuk anak tujuh tahun.
"Papa," ucapnya pelan. "Papa baik-baik saja, kan?"
Pertanyaan itu membuat sesuatu di dada Eren mengempis.
Sudah hampir seminggu ini ia bolak-balik: pagi mengurus urusan kantor yang menumpuk, siang menemani Emer terapi, malam tidur di kursi rumah sakit yang membuat punggungnya nyeri sampai ke tulang ekor. Ia sudah kehilangan empat kilogram dalam sepuluh hari, dan pipinya cekung sampai suster yang biasa berjaga malam menawarinya vitamin dua hari lalu.
Tapi bukan itu yang membuat Emer bertanya. Eren tahu persis bukan itu.
"Papa baik-baik saja," jawabnya.
"Papa bohong."
"Emer."
"Daddy sudah enam hari tidak datang," ucap bocah itu, dan suaranya jatuh di akhir kalimat.
Eren menarik napas panjang.
Ia sudah menyiapkan puluhan versi jawaban sepanjang minggu ini, dan tidak satu pun yang terasa layak diucapkan kepada anak berumur tujuh tahun.
"Daddy sedang menyelesaikan sesuatu," katanya.
"Sesuatu apa?"
"Sesuatu yang harus dia selesaikan sendiri."
"Kenapa harus sendiri?"
"Karena itu urusannya, bukan urusan kita."
Emer memainkan ujung selimutnya. "Apa Daddy tidak mau lagi sama kita?"
"Bukan begitu."
"Kata anak di kamar sebelah, kalau orang dewasa menghilang, artinya dia tidak mau lagi."
"Anak di kamar sebelah itu berumur delapan tahun dan pernah bilang bahwa dokter bedah adalah pekerjaan tukang potong daging." Eren mengetuk hidung anaknya pelan. "Jangan percaya semua yang dia bilang."
Emer terkikik.
Tapi tawa itu tidak bertahan lama.
"Pa."
"Ya?"
"Boleh Emer minta sesuatu?"
"Minta apa?"
"Emer mau bertemu Kakek besok. Sendirian."
Eren mengerutkan kening. "Kenapa sendirian?"
"Ada yang mau Emer bicarakan."
"Bicarakan apa?"
"Rahasia."
"Emerald."
"Papa, ini rahasia laki-laki." Bocah itu bersedekap dengan wajah paling serius yang bisa ia buat. "Papa juga punya rahasia yang tidak Papa ceritakan ke Emer, kan?"
Eren membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
Anak ini terlalu pintar. Itu selalu jadi masalah.
"Baiklah," ucapnya akhirnya. "Tapi tidak boleh lama-lama. Kakinya masih belum sembuh betul."
"Siap, Papa!"
Emer mengangkat tangannya memberi hormat, lalu meringis karena gerakan itu menarik jahitan di sisi tubuhnya.
Eren buru-buru menahan bahu anaknya. "Sudah, sudah. Tidur."
"Papa juga tidur."
"Papa tidur nanti."
"Papa selalu bilang nanti." Emer menarik selimutnya sampai ke dagu dan memandangi ayahnya dari balik kain itu. "Papa, kalau Papa sakit, siapa yang jaga Emer?"
Eren terdiam.
Lalu ia mematikan lampu utama, menyalakan lampu kecil di sudut ruangan, dan berbaring di sofa panjang di samping ranjang untuk pertama kalinya dalam enam malam terakhir.
"Sudah. Papa tidur. Puas?"
"Puas."
"Sekarang tutup matamu."
"Sudah."
"Belum. Papa lihat kamu masih mengintip."
Emer tertawa, lalu benar-benar memejamkan mata.
Lima menit kemudian napas anak itu sudah teratur.
Eren berbaring memandangi langit-langit gelap dan mendengarkan bunyi monitor dari kamar sebelah, bunyi troli yang lewat di koridor, dan bunyi ponselnya sendiri yang tidak berdering sejak enam hari lalu.
Ia menoleh ke meja.
Di sana, di antara cokelat dan kacang dan permen lolipop yang dibeli seseorang yang tidak tahu apa-apa tentang anak kecil, ada satu benda yang baru ia sadari sekarang.
Sebuah kantong kertas kecil, terlipat rapi, dengan tulisan tangan di bagian depannya.
Tulisan tangan yang sudah sembilan tahun tidak ia lihat.
Untuk Eren.
Eren menatap kantong itu sampai matanya panas, lalu memalingkan wajah ke dinding dan memaksa dirinya tidur.