"Kakek?" Kepala Emerald menyembul dari pintu kamar inap seniornya Baldwin itu. "Kakek sibuk?"
"Emer? Ada apa kau kemari?" tanya beliau. Sedikitnya pria tua itu juga bingung, bagaimana Emer tahu letak kamarnya? Anak itu bahkan tak pernah dibawanya kemari.
"Emer boleh masuk?" tanya Emer dengan berjalan tertatih. Anak itu sudah mulai pulih dari cederanya kemarin.
Richard mengangguk pelan, "Masuklah."
"Kakek, tolong maafkan Papa Emer, boleh? Papa juga sudah memaafkan Kakek, katanya," papar Emer sesaat setelah mendaratkan bokongnya di kursi samping ranjang. "Oh, iya. Kalau Kakek marah dan tidak mau memaafkan papa ..., tolong jangan benci papa, ya? Kasihan papaku. Dia telah ditinggalkan oleh banyak orang ...," lirih Emerald.
Lelaki tua itu mengernyitkan dahinya melihat kemurungan bocah tujuh tahun itu.
"Kenapa kau berkata begitu, Emer?"
"Karena itu benar." Anak itu mengayun-ayunkan kakinya yang tidak sampai ke lantai. "Papa sudah ditinggalkan Ibu, ditinggalkan Kakek, ditinggalkan teman-teman Papa yang dulu. Sekarang Daddy juga pergi."
Richard merasakan sesuatu menusuk di bawah tulang rusuknya.
"Daddy siapa?"
"Daddy Kevin."
"Kevin ...." Nama itu diucapkan pria tua itu pelan-pelan, seperti sedang mencicipi rasanya. "Dia baik pada papamu?"
"Baik sekali." Emer mengangguk penuh semangat. "Dia yang antar Emer ke sekolah kalau Papa lembur. Dia beli sepatu Emer yang menyala kalau dipakai jalan. Dia juga yang bawa Emer ke sini waktu Emer jatuh."
"Bukan papamu?"
"Papa lagi di kantor. Daddy yang gendong Emer sampai ke ambulans." Emer menunduk. "Tapi sekarang dia tidak datang-datang."
Richard tidak menjawab.
Ia memandangi bocah itu—kaki kecil yang berayun, perban di lengannya, hidung yang persis sama dengan hidung anaknya—dan merasakan sembilan tahun terakhir hidupnya berdiri di depan matanya sekaligus, tanpa satu pun bagian yang bisa ia banggakan.
"Emer."
"Iya, Kek?"
"Papamu pernah bercerita tentang Kakek?"
Anak itu menggeleng. "Papa tidak pernah cerita apa-apa tentang Kakek. Emer tahu Kakek dari Nenek Becca."
"Becca?"
"Nenek yang suka kirim kue." Emer mengangkat bahu. "Katanya dia teman lama Papa. Dia yang bilang, Emer punya kakek yang tinggal di kota ini, dan namanya Richard."
Richard menutup matanya sebentar.
Rebecca. Tentu saja Rebecca. Perempuan itu memang tidak pernah bisa diam.
"Kakek." Emer menarik lengan piyama rumah sakit pria tua itu. "Kakek marah sama Papa karena apa?"
Pertanyaan itu diajukan tanpa nada menuduh sedikit pun. Hanya rasa ingin tahu yang polos, dan justru karena itulah Richard merasa tidak punya tempat untuk bersembunyi.
"Karena Kakek bodoh," jawabnya.
"Papa juga bilang Kakek bodoh."
"Papamu bilang begitu?"
"Bukan begitu." Emer menggeleng cepat. "Papa bilang, 'Kakek bukan orang jahat, Emer. Kakek cuma orang yang tidak pernah belajar cara menyayangi orang yang berbeda dari yang dia bayangkan.'"
Richard membuka mulut, tetapi tidak ada suara yang keluar.
Kalimat itu. Kalimat yang diucapkan anaknya kepada cucunya, tentang dirinya, dan bukan satu pun katanya berisi kebencian.
Sembilan tahun lalu, di ruang makan rumah mereka di Manhattan, Richard berdiri sambil menggebrak meja dan berkata kepada anak laki-laki satu-satunya bahwa mulai malam itu ia tidak punya anak lagi.
Eren waktu itu berumur dua puluh dua.
Ia tidak berteriak balik. Ia tidak menangis. Ia hanya mengambil ranselnya, membungkuk sopan seperti yang selalu diajarkan ibunya, dan berkata "terima kasih untuk semuanya" sebelum keluar lewat pintu depan.
Richard mengira anak itu akan kembali dalam seminggu.
Ia kembali sembilan tahun kemudian, sebagai nama di daftar tamu rumah sakit tempat Richard dirawat, dan bahkan itu pun bukan untuk menjenguknya.
"Kek?"
Richard membuka matanya.
"Kakek kok diam?"
"Kakek sedang berpikir."
"Berpikir apa?"
"Berpikir bahwa cucu Kakek jauh lebih pintar daripada kakeknya."
Emer nyengir lebar, memamerkan gigi depannya yang tanggal satu.
"Jadi Kakek mau memaafkan Papa?"
Richard menghela napas panjang.
"Emer, dengarkan Kakek baik-baik." Ia mencondongkan badannya, meski itu membuat gipsnya berdenyut. "Bukan Kakek yang harus memaafkan papamu."
Kening Emer berkerut. "Lalu siapa?"
"Papamu yang harus memaafkan Kakek."
"Tapi Papa bilang Papa sudah memaafkan Kakek."
"Papamu berbohong."
"Papa tidak pernah bohong!"
"Papamu berbohong supaya kau tidak sedih," ucap Richard lembut. "Itu jenis kebohongan yang dilakukan orang tua yang baik. Kakek dulu juga sering melakukannya, sebelum Kakek lupa caranya."
Emer terdiam lama sekali, memikirkan itu dengan sungguh-sungguh.
"Kalau begitu," katanya akhirnya, "Kakek minta maaf saja."
"Kakek tidak berani."
"Kenapa?"
"Karena kalau Kakek minta maaf dan papamu bilang tidak," Richard menelan sesuatu yang pahit, "maka semuanya benar-benar selesai. Selama Kakek belum minta maaf, Kakek masih bisa berpura-pura bahwa mungkin suatu hari nanti."
Emer memandanginya dengan kepala miring.
"Kakek takut?"
"Iya."
"Kakek kan sudah tua."
"Justru karena itu."
Bocah itu turun dari kursinya, berjalan tertatih ke sisi ranjang, dan meraih tangan Richard yang tidak digips dengan kedua tangannya yang kecil.
"Kakek," ucapnya, "Emer temani."
Richard menatap tangan-tangan mungil itu.
"Kau menemani Kakek?"
"Iya. Kalau Papa bilang tidak, kan Kakek jadi tidak sendirian." Emer mengangkat bahu. "Papa juga tidak akan marah-marah kalau ada Emer. Papa tidak pernah marah kalau ada Emer."
Richard tertawa. Bunyinya serak, patah di tengah, dan berakhir menjadi sesuatu yang lain sama sekali.
Pria tua enam puluh tahunan itu menangis di depan cucunya yang berumur tujuh tahun, di kamar rawat berbau obat, sambil digenggam oleh dua tangan kecil yang bahkan tidak cukup besar untuk melingkari pergelangan tangannya.
"Kakek jangan menangis," ucap Emer panik. "Nanti gipsnya basah."
"Gipsnya tidak apa-apa."
"Emer panggil suster, ya?"
"Jangan." Richard menggeleng sambil tertawa di antara tangisnya. "Jangan panggil siapa pun. Duduk saja di sini."
Emer naik kembali ke kursi dan duduk dengan tenang, kakinya berayun, tangannya tidak melepaskan tangan kakeknya.
Mereka duduk seperti itu cukup lama, sampai cahaya sore yang masuk lewat jendela berubah warna menjadi jingga tua.
"Emer."
"Iya, Kek?"
"Besok pagi, sebelum kau pulang," Richard mengusap wajahnya dengan punggung tangan, "antarkan Kakek menemui papamu."
Wajah Emer langsung berbinar.
"Sungguh?"
"Sungguh."
"YEAY!"
"Pelan-pelan, jahitanmu."
"Aduh."
"Sudah Kakek bilang."
Dan untuk pertama kalinya dalam sembilan tahun, Richard Baldwin tidur malam itu tanpa memikirkan bagaimana caranya menunda sesuatu sampai besok.
***
Keesokan paginya, pukul setengah sembilan, Richard berdiri di koridor lantai tiga dengan kemeja yang sudah disetrika suster dan rambut yang disisir ke belakang.
Emer menggenggam jari telunjuknya.
"Siap, Kek?"
"Tidak."
"Kalau begitu tarik napas dulu. Papa selalu bilang begitu kalau Emer takut disuntik."
Richard menuruti cucunya. Ia menarik napas panjang, menahannya sebentar, lalu mengembuskannya.
Tidak membantu sama sekali.
Eren muncul dari dalam kamar sambil membawa gelas kosong, dan langkahnya berhenti tepat di ambang pintu.
Sembilan tahun.
Ayahnya lebih pendek daripada yang ia ingat. Itu hal pertama yang disadari Eren, dan entah kenapa hal itulah yang paling menyakitkan—bukan rambut putihnya, bukan gipsnya, bukan kerut di wajahnya. Melainkan kenyataan bahwa selama sembilan tahun ini, di dalam kepalanya, ayahnya tetap berdiri setinggi hari ketika pria itu menggebrak meja makan.
"Eren," ucap Richard.
"Tuan Baldwin."
Pria tua itu tersentak mendengar panggilan tersebut, tetapi tidak mundur.
"Aku minta maaf," katanya.
Eren tidak bergerak.
"Aku tidak akan menjelaskan apa pun," lanjut Richard, matanya menatap lantai. "Aku tidak akan bilang aku tidak tahu, atau bahwa zaman dulu berbeda, atau bahwa aku hanya khawatir. Itu semua bohong. Aku tahu persis apa yang kulakukan malam itu, dan aku melakukannya karena aku lebih peduli pada bagaimana orang lain memandangku daripada pada anakku sendiri."
Jari-jari Eren mengepal di sisi tubuhnya.
"Aku tidak minta kau memaafkanku. Aku tidak berhak minta apa pun." Richard mengangkat wajahnya. "Aku hanya ingin kau tahu bahwa aku tahu apa yang kulakukan, supaya kau berhenti bertanya-tanya apakah aku pernah menyesalinya."
Koridor itu sunyi cukup lama sampai seorang suster lewat sambil mendorong troli dan pura-pura tidak melihat apa pun.
"Sembilan tahun," ucap Eren akhirnya. Suaranya keluar lebih serak daripada yang ia inginkan. "Sembilan tahun, Pa."
Richard menutup mulutnya dengan tangan yang tidak digips. Kata "Pa" itu jelas menghantamnya lebih keras daripada apa pun yang lain.
"Aku belum bisa memaafkan Anda," lanjut Eren. "Belum. Mungkin butuh waktu lama sekali."
"Aku mengerti."
"Tapi Emer boleh punya kakek." Eren menoleh ke arah anaknya, yang berdiri menggenggam jari telunjuk kakeknya dengan wajah paling tegang di dunia. "Itu haknya. Bukan hak saya untuk mencabutnya."
Richard menunduk dalam-dalam, bahunya berguncang tanpa suara.
"Kek, jangan menangis lagi," Emer panik. "Nanti gipsnya basah."
"Iya, iya."
"Papa, Kakek menangis lagi."
"Papa lihat, Emer."
"Papa juga menangis."
"Papa tidak menangis."
"Papa bohong."
"Emerald."
"Papa yang bilang, bohong itu tidak boleh."
Richard tertawa di sela tangisnya, dan Eren—entah bagaimana—ikut tertawa juga, dan untuk beberapa detik koridor rumah sakit berbau obat itu terasa seperti tempat yang sama sekali lain.