"Emer, sudah siap?" tanya Eren di kala ia telah membereskan baju-baju Emer di dalam travel bag.
Dengan bersemangat, Emerald mengangguk. Anak itu senang sekali pulang ke apartemen mereka yang nyaman. Dan yang pasti, apartemen mereka tidak berbau obat-obatan seperti di sini.
"Papa!" Emer berseru meminta atensi sang ayah, "Kita mengunjungi Kakek Richard dulu, ya!"
Eren mengangguk mengiyakan. Tentu saja, setelah permintaan maaf pria tua itu dua hari lalu, Eren membebaskan Emerald untuk menemuinya. Dilihat-lihat juga Emer menyayangi Richard, apalagi dengan Richard yang menyayangi Emer hingga terasa sangat memanjakannya.
"Nenek Becca kemarin menjanjikan Emer robot-robotan lho, Pa!" ceritanya.
"Hei, jangan merepotkan, Emer. Jangan suka meminta sesuatu pada orang lain, oke?" peringat Eren sembari menyelipkan sikat gigi anak itu ke kantong depan travel bag.
"Emer tidak minta, kok. Nenek Becca sendiri yang bilang."
"Nenek Becca juga sendiri yang menjanjikanmu anak kucing tahun lalu," ujar Eren datar. "Sampai sekarang kucingnya belum lahir juga."
Emer terdiam sejenak, lalu mengangkat bahu dengan optimisme yang hanya dimiliki anak tujuh tahun. "Mungkin kucingnya lama hamilnya."
Eren menahan tawa dan mengacak rambut anaknya.
***
Kamar rawat Richard berada di lantai empat, sayap yang berbeda, dan sepanjang perjalanan ke sana Emer tidak berhenti bicara.
Eren mendengarkan setengahnya.
Setengah lainnya sibuk memikirkan kantong kertas kecil yang sampai pagi ini masih tersimpan di dalam tasnya, belum dibuka.
Dua hari sudah lewat sejak pria tua itu berdiri di koridor lantai tiga dan mengucapkan kalimat yang tidak pernah Eren duga akan ia dengar seumur hidupnya. Dua hari, dan Eren masih belum tahu harus menaruh perasaannya di mana.
Yang ia tahu hanya satu: ia belum sanggup membuka kantong itu.
"Pa," bisik Emer ketika mereka sampai di depan pintu. "Papa jangan galak, ya."
"Papa tidak pernah galak."
"Papa galak kalau lagi pura-pura tidak galak."
Eren menghela napas. "Masuk saja, Emer."
Richard sedang duduk di kursi dekat jendela ketika mereka masuk, dengan koran di pangkuan yang jelas-jelas tidak sedang dibaca.
"Kakek!"
"Nah, itu dia." Wajah pria tua itu langsung berubah. "Sudah boleh pulang?"
"Sudah! Suster bilang jahitan Emer bagus."
"Tentu saja bagus. Cucu siapa dulu."
"Cucu Papa."
Richard tergelak. "Iya, iya. Cucu papamu."
Eren berdiri di dekat pintu, tidak masuk lebih dalam, tidak juga pergi. Ia meletakkan travel bag di lantai dan menyilangkan tangan di depan dada.
Richard meliriknya sekilas, lalu kembali ke Emer, tidak memaksakan apa pun. Sikap itu—kesabaran yang tidak menuntut—adalah hal paling asing yang pernah Eren lihat dari ayahnya.
"Emer sudah pamit ke suster?" tanya Eren.
"Belum!"
"Sana pamit dulu. Suster Mira di ruang jaga."
"Siap!"
Bocah itu berlari kecil keluar—setengah berlari, setengah tertatih—meninggalkan dua orang dewasa di ruangan yang mendadak terasa terlalu sunyi.
Eren tetap berdiri.
"Terima kasih untuk cokelat-cokelatnya," ucapnya akhirnya.
"Itu bukan apa-apa."
"Itu banyak sekali dan sebagian besarnya tidak boleh dimakan anak seumur dia."
Richard mengangguk pelan. "Aku tidak tahu apa yang boleh."
"Anda bisa bertanya."
"Aku tidak tahu caranya bertanya."
Eren menatap ayahnya beberapa detik.
"Cokelat hitam tidak boleh. Permen keras tidak boleh, dia pernah tersedak waktu lima tahun. Jus kemasan boleh tapi satu sehari." Ia menyebutkannya dengan nada datar, seperti membaca daftar belanja. "Dan dia alergi kacang mete. Bukan kacang tanah. Mete."
Richard mengeluarkan ponsel dari saku piyamanya dengan tangan yang tidak digips, membukanya dengan susah payah, lalu menoleh.
"Boleh kuulang? Aku ingin mencatat."
"Anda serius?"
"Sangat."
Eren membuang muka ke jendela, dan butuh beberapa saat sebelum ia sanggup mengulanginya.
***
Nenek Becca menelepon ketika mobil mereka baru keluar dari gerbang rumah sakit.
"Halo, Bu Becca."
"Eren! Bagaimana anakku yang satu itu? Sudah keluar?"
"Sudah, Bu. Barusan."
"Alhamdulillah. Ibu sudah masak sop, nanti Ibu antar ke apartemen."
"Tidak usah repot-repot—"
"Ibu tidak repot. Ibu senang." Suara di seberang berhenti sebentar. "Eren."
"Ya, Bu?"
"Kata Emer, kamu sudah bertemu ayahmu."
Eren melirik spion, memastikan Emer masih sibuk dengan mainannya di kursi belakang.
"Sudah."
"Kamu marah sama Ibu?"
"Karena Ibu memberi tahu Emer tentang beliau?"
"Iya."
Eren diam cukup lama.
"Tidak, Bu," jawabnya akhirnya. "Emer berhak tahu."
Terdengar embusan napas lega di seberang.
"Ibu cuma tidak mau kamu suatu hari bangun dan ternyata sudah terlambat, Nak," ucap perempuan itu pelan. "Ibu pernah mengalaminya. Rasanya tidak enak."
Eren menggenggam setir lebih erat.
"Saya tahu, Bu."
"Ya sudah. Nanti Ibu antar sopnya jam tujuh."
"Bu, sungguh tidak usah—"
Sambungan sudah ditutup.
Eren memandangi layar ponselnya sebentar, lalu meletakkannya, lalu tertawa kecil sendirian.
***
Mereka sampai di apartemen sore harinya.
Emer langsung tertidur di sofa sebelum sempat membuka sepatunya, kelelahan oleh satu hari yang terlalu panjang untuk tubuh sekecil itu. Eren memindahkannya ke kamar, melepas sepatunya, menyelimutinya, dan berdiri memandangi anak itu cukup lama.
Lalu ia keluar, menutup pintu pelan-pelan, dan berjalan ke dapur untuk menyalakan pemanas air.
Sop Nenek Becca datang pukul tujuh, diantar seorang kurir, lengkap dengan catatan kecil bertuliskan "JANGAN DIPANASI DUA KALI" dalam huruf kapital.
Ketukan di pintu terdengar pukul delapan.
Eren berhenti bergerak.
Ia tahu ketukan itu. Tiga kali, jeda, dua kali. Sudah dua tahun ia mengenalnya.
Ia berjalan ke pintu dan membukanya.
Kevin berdiri di sana.
Pria itu tampak kacau—kemeja kusut, rahang tidak dicukur, lingkaran hitam di bawah mata yang jelas bukan hasil satu malam begadang. Di tangannya ada map cokelat tebal.
"Hai," ucap Kevin.
Eren tidak menjawab.
"Boleh aku masuk?"
"Emer tidur."
"Aku tahu. Aku sengaja menunggu sampai jam segini supaya dia tidak melihatku dalam keadaan begini."
Eren memandanginya beberapa detik, lalu mundur selangkah dan membuka pintu lebih lebar.
Kevin masuk, meletakkan map itu di meja makan, dan berdiri di sana tanpa duduk.
"Enam hari," ucap Eren.
"Aku tahu."
"Anakku bertanya setiap hari apakah kau sudah tidak mau lagi bersama kami."
Wajah Kevin berkerut seperti orang yang baru dipukul.
"Eren—"
"Kau bahkan tidak mengirim satu pesan pun."
"Karena kalau aku mengirim pesan, aku akan berbohong." Kevin mengangkat wajahnya. "Dan aku sudah berjanji pada diriku sendiri, aku tidak akan datang ke sini lagi sebelum aku bisa datang dengan tangan bersih."
Ia mendorong map cokelat itu ke tengah meja.
Eren menatapnya.
"Apa itu?"
"Masalah yang harus kita selesaikan," jawab Kevin. "Aku sudah menyelesaikan bagianku. Sisanya bagianmu."