Beberapa bulan kemudian ....
"Kau sedang memasak apa?"
Eren langsung merasakan tubuhnya berjengket kaget merasakan bisikan dan sentuhan di pinggang serta bahunya.
"Kau mengangetkanku, Kev!" protes Eren setelah menetralkan detak jantungnya yang sempat berdetak lebih cepat, bertalu-talu.
Si tinggi hanya tertawa pelan tanpa merasa bersalah. Ia pun mengetatkan pelukannya pada si pendek, menggusakkan pucuk hidungnya pada leher Eren, mengendusi pria itu dengan nikmat.
"Papa masak—Daddy!" Emer yang tadinya datang dengan lemas sembari mengucek matanya dengan nyawa yang masih tercecer, mendadak memekik bersemangat. "Daddy, kakek atau nenek menitipkan sesuatu tidak buat Emer?"
"Lihat saja di ruang tengah," sahut Kevin tanpa menoleh, ia hanya fokus ber-lovey dovey sepihak dengan Eren.
"YEAY!"
Suara kaki kecil menghambur ke ruang tengah, disusul bunyi kertas kado yang dirobek tanpa ampun, disusul pekikan kedua yang jauh lebih nyaring daripada yang pertama.
"ROBOTNYA JALAN SENDIRI!"
Eren menoleh ke arah suara, lalu kembali menatap pria yang masih memeluknya dari belakang.
"Robot?"
"Dari Nenek Becca," jawab Kevin santai. "Dia titip kemarin. Katanya sudah telat setahun."
"Kevin."
"Hm?"
"Kau tahu berapa harga robot yang bisa jalan sendiri dan matanya menyala?"
"Aku tidak membelinya."
"Kau menemani Bu Becca membelinya."
"Itu beda."
Eren berbalik di dalam pelukan pria itu dan menatapnya dengan mata menyipit. "Kevin."
"Baik, baik." Kevin mengangkat kedua tangannya. "Aku yang bayar. Tapi idenya Bu Becca, sumpah."
"Kau memanjakan anak itu."
"Anak itu berbaring di rumah sakit selama dua belas hari," ucap Kevin, dan nada bercandanya menghilang seluruhnya. "Aku boleh memanjakannya sedikit."
Eren membuka mulut untuk membantah, lalu tidak jadi.
Ia hanya menempelkan dahinya ke dada pria itu sebentar, lalu mendorongnya menjauh.
"Sarapan sudah hampir gosong."
"Salahmu, kau yang menoleh."
"Salahmu, kau yang menyelinap."
***
Sudah tiga bulan mereka tinggal bertiga di apartemen ini.
Awalnya Eren menolak. Ia menolak selama dua minggu penuh, dengan berbagai alasan yang semuanya masuk akal dan tidak satu pun jujur: apartemen ini terlalu kecil, Emer butuh waktu menyesuaikan diri, orang-orang akan bertanya.
Kevin mendengarkan semuanya tanpa membantah, lalu bertanya satu hal.
"Kau takut aku pergi lagi?"
Dan Eren, yang selama sembilan tahun terakhir sudah sangat mahir menyembunyikan segalanya, tidak sanggup menjawab.
Malam itu juga Kevin pindah, membawa dua koper dan satu kardus buku, dan tidak pernah sekali pun menyinggungnya lagi.
Yang ia lakukan sebagai gantinya adalah pulang. Setiap hari. Bahkan pada hari-hari ketika rapat selesai pukul sebelas malam dan ia hanya sempat masuk kamar Emer untuk membetulkan selimut anak itu sebelum tertidur di sofa dengan sepatu masih terpakai.
Eren menghitungnya diam-diam.
Sembilan puluh satu hari. Tidak ada satu pun yang bolong.
***
Map cokelat itu selesai urusannya pada minggu kelima.
Eren tidak ikut ke pengadilan. Kevin yang memintanya begitu—"ini bukan bagianmu, ini bagianku"—dan Eren menurut, meski ia menghabiskan seluruh pagi itu dengan mencuci piring yang sudah bersih.
Kevin pulang pukul dua siang.
"Selesai?"
"Selesai."
"Bagaimana?"
Kevin melepas jasnya, menggantungnya, lalu duduk di kursi meja makan dan memandangi tangannya sendiri cukup lama.
"Sharon minta maaf," ucapnya.
Eren mengangkat wajahnya. "Padamu?"
"Padaku." Kevin mengangguk pelan. "Katanya dia minta maaf karena sudah menahanku selama sepuluh tahun di sesuatu yang dia sendiri tahu tidak akan pernah jadi apa-apa."
"Dan kau bilang apa?"
"Aku bilang aku yang seharusnya minta maaf, karena aku yang lebih dulu tahu dan tetap diam."
Eren menarik kursi dan duduk di seberangnya.
"Dia baik-baik saja?"
"Dia hamil."
Eren berkedip. "Apa?"
"Empat bulan." Kevin tersenyum tipis, dan yang mengejutkan Eren adalah bahwa senyum itu tulus. "Namanya Daniel. Dokter hewan. Mereka bertemu tahun lalu, dan Sharon menahan diri selama sepuluh bulan karena dia merasa bersalah."
"Merasa bersalah pada siapa?"
"Padaku." Kevin mengusap wajahnya. "Kami berdua menghabiskan sepuluh tahun untuk merasa bersalah pada orang yang sebenarnya tidak keberatan, Eren. Sepuluh tahun."
Eren mengulurkan tangan ke seberang meja dan menggenggam tangan pria itu.
"Kau sedih?"
"Sedikit." Kevin menggenggam balik. "Bukan sedih kehilangan. Sedih karena kalau saja salah satu dari kami berani jujur lima tahun lebih awal, kami berdua tidak perlu membuang lima tahun itu."
Eren tidak menjawab.
Karena ia mengerti persis. Karena ia juga sudah membuang sembilan tahun.
"Kev."
"Hm."
"Kita jangan begitu."
Kevin mengangkat wajahnya.
"Kalau suatu hari nanti ada yang tidak beres di antara kita," ucap Eren, "aku mau kau bilang. Hari itu juga. Walaupun jelek. Walaupun aku akan marah besar."
"Setuju."
"Jangan langsung setuju."
"Aku sudah membuang sepuluh tahun karena tidak berani bilang," ujar Kevin. "Aku tidak akan mengulanginya."
***
Sore itu, Emer duduk di karpet ruang tengah dikelilingi tiga generasi sekaligus.
Richard datang membawa kantong berisi barang-barang yang tidak berhubungan satu sama lain—sekarang dengan catatan di ponselnya, dan tanpa satu pun kacang mete. Nenek Becca datang membawa panci sop yang tidak boleh dipanasi dua kali. Keduanya bertengkar selama dua puluh menit soal cara yang benar mengupas apel, lalu berdamai sendiri tanpa ada yang meminta maaf.
Kevin duduk di lantai membantu Emer memasang baterai robot.
Eren berdiri di ambang dapur sambil mengeringkan tangannya, memandangi semuanya.
Sembilan tahun lalu, ia keluar dari rumah di Manhattan dengan satu ransel dan kalimat "terima kasih untuk semuanya", dan berjalan menyusuri jalan yang gelap sambil berpikir bahwa mulai malam itu ia tidak punya siapa-siapa.
Ia salah.
Ternyata ia hanya belum bertemu mereka.
"Papa!" Emer mengangkat robotnya tinggi-tinggi. "Lihat, matanya menyala!"
"Papa lihat, Sayang."
"Papa kenapa berdiri di situ terus?"
Eren tertawa, melempar lap ke wastafel, dan berjalan ke tengah ruangan untuk duduk bersama mereka semua di atas karpet.