Beberapa tahun kemudian ....
"Halo, Papa!"
"Hai, Papa! What's up!"
Sepasang ayah dan anak itu menyapa seorang lelaki cantik yang tengah memunggungi keduanya di dapur, untuk memasak makan malam mereka.
"Halo dan hai, Jagoan!" jawab si pria androgini itu sembari menatap kedua pria itu bergantian. Melepaskan tali celemek hitam polos miliknya dan menghampiri lelaki yang jauh lebih muda darinya itu.
"Oh, astaga, Emerald-ku!" Si androgini—alias Eren—memeluk anak laki-laki satu-satunya mereka, membawanya ke dalam dekapannya yang hangat. "Bagaimana kabarmu dari Amerika, huh? Betah sekali sepertinya sampai tak mengabari orang yang di rumah."
Yang lebih muda tertawa mendengar sindiran halus sang ayah—ooopsie, maksudnya salah satu ayahnya—ia menatap Eren dengan tampang menggodanya, "Aku sibuk di sana, Pa. Lagipula kalau aku telepon terus, nanti Papa bosan."
"Bosan?" Eren mencubit pipi anaknya yang sekarang harus ia jangkau dengan sedikit berjinjit. "Kau kira Papa ini siapa?"
"Aduh, aduh! Iya, iya, salah Emer!"
"Panggil apa tadi?"
"Salah aku, Papa."
"Nah."
Kevin tertawa dari arah meja makan sambil melonggarkan dasinya. Rambutnya sudah beruban di pelipis sekarang, dan kacamata bacanya tergeletak di atas tumpukan surat yang belum sempat dibuka.
"Sudah, Ren. Kasihan anaknya baru turun pesawat."
"Kau selalu membelanya."
"Karena dia mirip aku."
"Dia sama sekali tidak mirip kau."
"Sifatnya."
"Justru itu masalahnya."
Emerald—yang sekarang lebih tinggi daripada kedua ayahnya dan masih belum berhenti merasa aneh tentang hal itu—menjatuhkan dirinya ke kursi makan sambil mengembuskan napas panjang.
"Kalian berdua tidak berubah sama sekali."
"Kami sudah tua," ujar Eren sambil kembali ke kompor. "Orang tua tidak berubah, mereka cuma mengeras."
"Papa belum tua."
"Papa empat puluh dua."
"Itu belum tua."
"Kata anak dua puluh tahun."
"Dua puluh satu," koreksi Emer.
"Sejak kapan?"
"Sejak bulan lalu, Pa. Papa mengirimiku kue lewat aplikasi."
"Oh, benar juga."
Emer menoleh ke arah Kevin dengan tampang mengadu. "Dad, dengar itu."
"Aku dengar."
"Papa lupa umurku."
"Papamu juga lupa ulang tahun pernikahan kami dua kali," ujar Kevin santai sambil membuka amplop. "Kau masih beruntung."
Sebuah sendok kayu melayang dari arah dapur dan mendarat tepat di bahu Kevin.
"Aduh!"
"Itu sekali, dan itu karena aku sedang di rumah sakit menemani ayahku."
"Dua kali, Ren."
"Sekali."
"Emer, tolong jadi saksi."
"Aku tidak mau ikut campur." Emer mengangkat kedua tangannya. "Aku baru pulang. Aku mau makan dengan damai."
***
Makan malam itu berlangsung tiga jam.
Bukan karena makanannya banyak, meskipun memang banyak—Eren memasak seolah anaknya baru pulang dari perang, bukan dari semester pertukaran. Melainkan karena setiap kali salah satu dari mereka hendak berdiri, seseorang akan mulai bercerita lagi.
Emer bercerita tentang dosennya yang selalu memakai dasi kupu-kupu berbeda setiap hari. Tentang teman sekamarnya yang tidak bisa memasak nasi. Tentang kereta bawah tanah yang mogok di tengah terowongan selama empat puluh menit dan bagaimana seluruh gerbong akhirnya menyanyi bersama karena tidak ada lagi yang bisa dilakukan.
Kevin bercerita tentang kantor. Eren bercerita tentang klien yang meminta desain ulang tujuh kali lalu memilih versi pertama.
Dan di sela-selanya, tanpa pernah direncanakan, mereka bertiga tertawa terlalu keras untuk apartemen yang tetangganya sudah tidur.
"Oh iya." Emer meletakkan gelasnya. "Kemarin di resepsi, aku belum sempat tanya."
"Tanya apa?"
"Kenapa baru sekarang?"
Eren dan Kevin saling melirik.
"Maksudku," Emer melanjutkan, "kalian sudah bersama empat belas tahun. Aku sudah kuliah. Kakek sudah meninggal. Nenek Becca sudah pindah ke rumah anaknya. Kenapa baru sekarang menikahnya?"
Hening sebentar.
"Karena kami menunggumu," jawab Kevin.
Emer mengerutkan kening. "Menungguku?"
"Kau berumur tujuh tahun waktu aku pindah ke sini," ucap Kevin pelan. "Kau tidak punya pilihan waktu itu. Kau cuma diberi tahu bahwa mulai hari ini ada satu orang lagi di rumah ini."
"Aku senang, kok."
"Aku tahu kau senang. Tapi senang dan memilih itu dua hal berbeda." Kevin melipat tangannya di atas meja. "Aku tidak mau kau seumur hidup merasa bahwa keluargamu adalah sesuatu yang terjadi padamu. Aku mau kau cukup besar untuk bisa bilang tidak, dan tetap bilang iya."
Emer memandanginya lama sekali.
"Jadi kalian menunggu empat belas tahun cuma untuk itu?"
"Ya."
"Dan kalau aku bilang tidak?"
"Maka kami tidak akan menikah," jawab Eren dari seberang meja, tenang, tanpa keraguan sedikit pun. "Dan kami akan tetap tinggal di rumah yang sama sampai tua, seperti empat belas tahun terakhir."
Emer menunduk ke piringnya.
Bahunya bergerak sekali.
"Ya ampun." Eren langsung berdiri. "Emerald."
"Aku tidak menangis."
"Kau menangis."
"Aku kelilipan."
"Di dalam ruangan."
"Papa juga dulu bilang begitu," gumam Emer sambil mengusap matanya dengan lengan bajunya, persis seperti yang ia lakukan waktu tujuh tahun.
Eren merangkulnya dari samping dan mengecup pucuk kepala anaknya, yang sekarang harus ia raih dengan berjinjit.
"Kalian berdua bodoh sekali," ucap Emer serak.
"Kami tahu."
"Empat belas tahun."
"Kami tahu."
"Kalian bisa saja tanya waktu aku sepuluh tahun. Aku sudah bisa menjawab."
"Kau waktu sepuluh tahun percaya bahwa kucing Nenek Becca sedang hamil selama tiga tahun," ujar Kevin.
Emer tertawa di sela tangisnya.
***
Malam itu, setelah Emer tertidur di kamar lamanya yang tidak pernah diubah apa pun selama tiga tahun terakhir, Eren berdiri di balkon sambil memegang dua cangkir teh.
Kevin datang dan mengambil salah satunya.
"Dia besar sekali," ucap Eren.
"Dia memang seharusnya besar."
"Aku tahu. Tapi tetap saja."
Mereka berdiri berdampingan memandangi lampu-lampu kota yang tidak pernah benar-benar padam.
"Kev."
"Hm?"
"Kau ingat pertama kali kita bertemu lagi?"
"Di restoran itu." Kevin tersenyum. "Anak kecil menumpahkan jus ke celanaku dan aku hampir memarahinya."
"Kau memang hampir memarahinya."
"Lalu ayahnya datang."
"Lalu ayahnya datang," ulang Eren.
Kevin menoleh, dan menatapnya dengan tatapan yang sudah empat belas tahun tidak berubah sedikit pun.
"Aku pikir aku sedang berhalusinasi," katanya. "Aku pikir, tidak mungkin. Sepuluh tahun."
"Aku juga berpikir begitu."
"Lalu kau bilang 'maaf, Tuan' dengan nada paling formal di dunia, dan aku tahu kau mengenaliku."
"Aku panik."
"Kau panik selama dua tahun berikutnya."
"Kevin."
"Baik, satu tahun."
Eren tertawa dan menyandarkan kepalanya ke bahu pria itu.
Di bawah sana, kota terus bergerak. Di dalam, anaknya tidur di kamar yang sama seperti waktu tujuh tahun. Di jari mereka berdua, ada cincin yang baru dipakai kemarin, dan yang anehnya tidak terasa seperti sesuatu yang baru sama sekali.
Terasa seperti sesuatu yang sudah lama ada di sana, dan baru sekarang kelihatan.
"Ren."
"Hm?"
"Terima kasih sudah menunggu."
Eren memejamkan mata.
"Terima kasih sudah pulang," jawabnya.
TAMAT