Hari yang cerah kala mentari menampakkan bias sinarnya pagi ini. Semangat memupuki wajah-wajah manusia di Jakarta. Beberapa telah larut dalam kesibukannya, beberapa masih bersiap untuk menghadapi kesibukan, dan beberapa lagi sedang memikirkan akan sibuk apa hari ini. Aku memperhatikan wajah mereka satu persatu, ada wajah yang dipaksakan untuk ceria, ada pula yang secara tulus menjalani hari-harinya. Dari sebuah rumah yang sederhana, sambil mencuci sepeda motor kesayanganku, aku menyambut pagi orang-orang yang lewat di depan rumah ini.
Dari dalam rumah, seorang paruh baya yang wajahnya penuh cinta keluar membawa kopi dan sepiring pisang goreng. Ia tersenyum lalu menawarkan apa yang dibawanya kepadaku. “Raka, kopinya diminum, ini ibu gorengin pisang juga,” serunya.
“Iya bu, ngeringin mot