Hujan masih mengguyur sepanjang perjalanan sampai kini aku tiba di kantor bersama Senja. Kehangatan yang Senja berikan sebelumnya ketika lampu merah membuat kami bertambah akrab. Tiada lagi kecanggungan yang tercipta di antara kami berdua. Senja sudah melebur di dalam diriku, jangan tanya tentang hatinya, sudah tentu menjadi milikku. Meski merasa seperti itu, pikiran menganai Tere terus membayang di kepalaku. Bukan berarti aku mengingatnya, hanya saja aku sedikit bingung, tentang apa perlu aku bercerita pada Senja bahwa Tere menghubungiku.
Melihat keceriaannya hari ini, aku rasa tidak akan menjadi masalah jika menceritakan soal tadi pagi. Karena memang sepengalamanku pada perempuan, biasanya mereka tidak terlalu suka membicarakan perempuan lainnya dengan pasangan, meski ceritanya hanya se