Pagi berikutnya, Dean terbangun sebelum alarm berbunyi. Ia meraih ponsel di meja, lalu membuka percakapan dengan Ana. Pesan terakhir mereka masih tertahan di layar. Ia tidak tahu kenapa ia berharap ada pesan baru, padahal mereka baru saja mengucapkan selamat malam beberapa jam lalu.
‘Gue kenapa sih?’ gumamnya.
Dean bangkit, mandi, lalu sarapan bersama keluarganya. Dea sedang bercerita soal tugas sekolah, sementara Papa membaca berita dari tablet. Mama menyiapkan roti panggang dan sesekali memastikan Dean makan cukup.
‘Kamu berangkat pagi?’ tanya Mama.
‘Ada rapat BEM sebelum kelas.’
‘Temanmu yang kemarin, Ana, kuliah pagi juga?’
Dean mengangkat wajah. ‘Kayaknya.’
‘Kayaknya?’ Dea menyeringai. ‘Abang kan kemarin sibuk banget jadi sopirnya.’
‘Dea, sarapan.’ Mama menyodorkan piring kecil.
Dean menghela napas, tetapi sudut bibirnya bergerak. ‘Dia bukan penumpang tetap. Kemarin kebetulan sudah malam.’
‘Tapi Abang antar-jemput terus,’ Dea membalas.
‘Enggak terus.’
Mama tidak ikut menggoda. Ia hanya menatap Dean beberapa detik, seolah ingin bertanya lebih jauh, lalu mengurungkan niatnya. Dean kembali teringat perubahan raut wajah Mama semalam saat mendengar nama Ana. Ada pertanyaan yang ingin ia ajukan, tetapi ia memutuskan menunggu waktu yang lebih tepat.
Di kampus, rapat BEM berlangsung lebih lama daripada perkiraan. Dean duduk bersama beberapa pengurus membahas susunan acara Seminar Nasional dua bulan mendatang. Proposalnya sudah disetujui dekan dengan beberapa catatan, dan pagi itu mereka membagi tugas untuk memperbaiki jadwal serta menghubungi pembicara.
Dean mendengarkan laporan, mencatat perubahan, lalu memeriksa jam. Ponselnya tetap diam. Ia tidak ingin mengganggu Ana hanya untuk memastikan gadis itu sudah tiba, sebab Ana tidak sedang menumpang mobilnya pagi itu.
‘Lo nunggu kabar siapa?’ Gus bertanya ketika rapat selesai. Ia mengintip ponsel Dean dari samping.
Dean langsung mengunci layar. ‘Enggak nunggu siapa-siapa.’
‘Gue belum nanya siapa.’
‘Berarti jangan mulai.’
Gus terkekeh. ‘Tenang, Presiden. Gue cuma mau bilang rapatnya sudah selesai. Lo dari tadi lihat jam.’
‘Gue ada kelas.’
‘Kelas lo masih setengah jam lagi.’
Dean memasukkan ponsel ke saku. ‘Gue mau ke mading.’
Gus mengangkat alis. ‘Mading jurusan?’
‘Iya.’
‘Buat lihat nilai?’
Dean tidak menjawab. Ia berjalan lebih dulu, meninggalkan Gus yang tertawa pelan di belakangnya.
Di sisi lain kampus, Ana duduk di bangku dekat gedung Sastra bersama Bagas. Mereka sedang membahas bahan kuliah, tetapi pikiran Ana sesekali kembali ke malam sebelumnya. Ia telah mengatakan kepada Dean agar tidak lupa bahwa ia berhak menolak. Ucapan itu juga menjadi pengingat untuk dirinya sendiri.
‘Lo kepikiran sesuatu?’ tanya Bagas.
Ana menutup buku. ‘Aku cuma kepikiran kejadian kemarin. Aku merasa tidak enak karena ikut campur urusan Dean dan Adeline.’
‘Lo cuma ngomong jujur.’
‘Tapi aku enggak tahu cerita mereka dari awal.’
‘Dean sendiri yang cerita ke lo.’ Bagas menyandarkan punggung. ‘Kalau dia enggak mau dengar pendapat orang, dia bisa bilang. Lo enggak perlu memikul semua perasaannya.’
Ana mengangguk pelan. Bagas selalu tahu cara membuatnya melihat sesuatu lebih sederhana. Namun ada bagian dari pikirannya yang tidak bisa ia ceritakan: setiap kali Dean menyebut masa lalunya, Ana berusaha tersenyum seolah dadanya tidak terasa berat.
‘Aku tahu. Terima kasih, Gas.’
Bagas mengangguk, lalu kembali membuka buku. Ia tidak memaksa Ana bercerita lebih banyak.
Ketika jam kuliah mereka tiba, Ana berpamitan ke kelas berikutnya. Sebelum beranjak, ia sempat membuka ponsel. Tidak ada pesan baru dari Dean. Ia merasa lega sekaligus kecewa, lalu segera menutup layar karena tidak ingin mengurai perasaan itu.
Menjelang sore, Dean akhirnya mengirim pesan singkat.
Deanova : Rapat BEM kelar. Lo kuliah sampai jam berapa?
Ana membaca pesan itu setelah keluar dari kelas.
Ana : Sebentar lagi selesai. Aku pulang sama Bagas hari ini.
Dean menatap balasan itu. Ia ingin menawarkan tumpangan, tetapi teringat kalimat Ana tentang batas. Ia mengetik, menghapus, lalu mengetik lagi.
Deanova : Oke. Hati-hati di jalan.
Ana : Kamu juga. Jangan lupa makan.
Balasan itu membuat Dean tersenyum. Percakapan mereka sederhana, tetapi untuk pertama kalinya ia tidak berusaha mengatur perjalanan Ana. Ia hanya mengingatkan dan membiarkan gadis itu menentukan pilihannya sendiri.
Setelah Gus pergi menuju kelas, Dean benar-benar berjalan ke kantin. Ia mengambil nasi dan lauk sederhana, lalu duduk di meja dekat jendela. Ponselnya ia letakkan terbalik di samping gelas. Ia sengaja tidak terus memeriksa layar, meski pikirannya beberapa kali kembali pada percakapan singkat tadi.
Ia menyadari perhatian Ana tidak terasa seperti tuntutan. Ana mengingatkannya makan, tetapi tidak bertanya berulang kali atau menunggu laporan. Gadis itu memberi ruang yang selama ini Dean sendiri jarang berikan kepada orang lain. Ia menertawakan dirinya pelan; baru beberapa hari mengenal Ana, tetapi sudah terlalu banyak memikirkan kebiasaan gadis itu.
Di kelas berikutnya, Dean berusaha mengikuti penjelasan dosen. Ia mencatat hal-hal penting, menjawab pertanyaan ketika diminta, dan tidak membuka ponsel sampai kuliah selesai. Saat keluar ruangan, pesan dari Gus tentang revisi jadwal seminar sudah menunggu. Dean membalasnya, lalu berjalan ke ruang BEM untuk memastikan daftar tugas pengurus tidak tertukar.
Pekerjaan itu menyita sebagian besar sore. Ia membagi tugas secara jelas, memastikan setiap orang mendapat waktu yang cukup, lalu menutup rapat tanpa menahan pengurus yang sudah selesai. Biasanya ia menganggap itu hal biasa. Hari ini ia memikirkan lagi betapa mudahnya perhatian berubah menjadi tekanan apabila ia memutuskan semuanya sendiri.
Menjelang pulang, ia tidak menawarkan tumpangan kepada Ana. Ia tahu gadis itu bersama Bagas dan menghormati pilihan tersebut. Sebelum meninggalkan kampus, Dean mengirim pesan singkat agar Ana berhati-hati. Balasannya datang beberapa menit kemudian, hanya ucapan terima kasih dan pengingat agar Dean juga makan. Sesederhana itu, tetapi cukup membuat sore yang melelahkan terasa lebih ringan.
Ia memasukkan ponsel ke saku dan kembali pada daftar tugas. Untuk hari itu, ia membiarkan percakapan mereka berakhir tanpa mencari alasan untuk memperpanjangnya.
Ia tahu tidak semua jawaban datang pada waktu yang sama. Karena itu, pertanyaan yang belum terjawab dipakai sebagai alasan untuk lebih teliti pada langkah berikutnya.