Dean baru menyadari betapa dinginnya malam ketika ia kembali ke ruang tengah. Pintu yang tadi ia tinggalkan masih terbuka sedikit. Ia menutupnya rapat, memastikan kuncinya terpasang, lalu mengembuskan napas panjang. Bayangan Ana yang duduk di kursi penumpang masih tertinggal di pikirannya, begitu pula tatapan Adeline di ambang pintu.
‘Abang!’
Dea muncul dari arah dapur sambil membawa piring. Di atasnya tinggal setengah donat almond yang sudah digigit.
Dean menatap piring itu. ‘Itu donat buat Abang.’
‘Aku cuma nyobain.’ Dea mengangkat bahu, sama sekali tidak tampak menyesal. ‘Yang cokelat habis. Yang ini paling enak.’
‘Tadi Abang sudah bilang sisain.’
‘Masih ada setengah.’
Dean hendak membalas, tetapi Mama datang dari belakang Dea. Perempuan itu membawa segelas air dan menatap putranya dengan cermat.
‘Adeline tadi datang?’ tanyanya.
Dean terdiam sejenak. ‘Iya.’
‘Mama baru dapat pesan dari ibunya. Katanya Adeline mau mampir sebentar.’ Mama meletakkan gelas di meja. ‘Dia datang sendiri?’
‘Dia datang tanpa diundang. Dean sudah bilang jangan datang lagi.’
Mama menunduk, merapikan posisi gelas yang sebenarnya sudah lurus. ‘Mungkin dia masih belum terbiasa dengan keadaan kalian.’
‘Keadaan kami sudah selesai, Ma.’ Suara Dean tidak keras, tetapi tegas. ‘Dia tahu itu.’
Dea memandang mereka bergantian. ‘Adeline yang dulu sering main ke sini?’
Mama menoleh cepat. ‘Dea, kamu sudah makan malam?’
‘Sudah.’
‘Kalau begitu, cuci piringnya dan bersiap tidur. Besok sekolah.’
Dea mengerutkan hidung, namun membawa piringnya ke wastafel. Dean memperhatikan Mama yang kembali mengalihkan pembicaraan. Ia mengenal cara itu sejak lama: setiap kali nama Adeline muncul, Mama seakan menemukan pekerjaan mendadak atau pertanyaan lain yang perlu dijawab.
‘Ma, kenapa Mama selalu mengubah topik kalau soal Adeline?’
‘Mama tidak mengubah topik.’ Mama mengambil gelasnya lagi. ‘Mama hanya tidak mau malam ini berubah jadi pertengkaran.’
‘Dean juga enggak mau bertengkar. Dean cuma ingin Mama tahu, Dean tidak mengundangnya. Dia datang sendiri, lalu menghalangi pintu waktu Ana mau pulang.’
Raut Mama berubah sedikit saat mendengar nama itu. Hanya sesaat, begitu singkat hingga Dean hampir mengira dirinya salah lihat. Namun sebelum ia sempat bertanya, Mama sudah tersenyum tipis.
‘Temanmu yang tadi kamu antar?’
‘Iya.’
‘Besok-besok kalau ada tamu, pastikan pintunya terkunci sebelum pergi.’
Dean menatap Mama. Jawaban itu sama sekali bukan jawaban atas pertanyaannya. Ia memilih tidak mengejar. Malam ini ia sudah terlalu lelah memikirkan Adeline, dan ia tidak ingin membuat rumah menjadi tempat interogasi.
‘Iya, Ma. Maaf.’
Dean membawa setengah donat almond ke kamarnya. Ia menaruhnya di piring kecil, lalu mengganti kemeja dengan kaus. Ponselnya bergetar di atas meja.
Ana : Kamu sudah sampai rumah?
Dean duduk di tepi ranjang dan membalas.
Deanova : Udah. Lo juga udah sampai kos?
Ana : Sudah. Terima kasih sudah mengantar. Cewek tadi baik-baik saja?
Dean membaca pesan itu dua kali. Ia teringat Ana yang tadi berkali-kali melihat ke arah rumah, cemas karena Adeline tertinggal di ambang pintu. Ana tidak mengenal Adeline, tetapi tetap memikirkan perasaan perempuan itu. Dean sendiri masih kesal karena Adeline kembali mengabaikan batas yang sudah ia sampaikan.
Deanova : Dia bukan urusan lo, An. Dia mantan gue. Gue sudah bilang ke dia supaya jangan datang lagi.
Beberapa menit berlalu sebelum pesan Ana masuk.
Ana : Aku tahu kamu sudah bilang begitu. Aku cuma berharap semuanya bisa selesai dengan baik. Tapi kalau dia datang tanpa izin, kamu tetap boleh menjaga batasmu.
Dean membaca kalimat terakhir lebih lama. Ada sesuatu yang menenangkan dalam cara Ana berbicara. Ia tidak menyuruhnya memaafkan Adeline, juga tidak menuntut penjelasan tambahan.
Deanova : Lo selalu mikirin orang lain, ya?
Ana : Tidak selalu. Aku juga bisa memikirkan diriku sendiri.
Dean tersenyum kecil. Ia teringat bagaimana Ana tadi membela Adeline, lalu bagaimana gadis itu berusaha menyembunyikan rasa tidak nyaman saat Adeline menatapnya.
Deanova : Bagus. Jangan sampai lo lupa itu.
Ana : Kamu juga. Jangan lupa kamu berhak bilang tidak.
Dean tidak langsung membalas. Kalimat sederhana itu seolah diarahkan kepadanya, bukan hanya kepada Adeline. Ia baru sadar bahwa selama beberapa hari ini ia terlalu mudah memutuskan apa yang dianggap baik untuk Ana. Antar-jemput, perjalanan pulang, bahkan kapan Ana seharusnya menerima bantuannya. Ia memang berniat melindungi, tetapi niat baik tidak otomatis membuat setiap keputusan benar.
Deanova : Iya. Gue ingat.
Ana : Selamat malam, Deanova.
Deanova : Malam, An.
Ia meletakkan ponsel, lalu menatap donat yang tinggal setengah. Rasa kesalnya pada Dea tadi terasa konyol. Di luar kamar, terdengar Mama memastikan pintu rumah terkunci. Dean memejamkan mata, tetapi pertanyaan tentang sikap Mama belum benar-benar hilang.
Ia kembali duduk dan memikirkan percakapan mereka di dapur. Mama tidak membela Adeline, tetapi juga tidak tampak terkejut mendengar perempuan itu datang tanpa diundang. Barangkali Mama sudah menerima pesan lebih dulu dan berharap kunjungan itu berlangsung biasa. Dean tahu Mama dan Papa pernah dekat dengan keluarga Adeline; ia sendiri tidak ingin hubungan lama kedua keluarga itu menjadi alasan bagi Adeline untuk mengabaikan batasnya.
Dean mengambil ponsel sekali lagi. Ia ingin memastikan Ana tidak salah paham tentang percakapannya dengan Adeline. Namun pesan terakhir mereka sudah cukup jelas. Ana tahu perempuan itu mantannya dan tahu Dean tidak ingin kembali. Mengirim penjelasan tambahan hanya karena ia gelisah bisa membuat Ana merasa harus menenangkannya lagi.
Ia meletakkan ponsel dengan layar menghadap ke bawah. Besok ia akan bertemu Ana di kampus, tetapi ia tidak akan meminta gadis itu membicarakan Adeline. Jika Ana ingin bertanya, ia akan menjawab; jika tidak, urusan itu tetap menjadi tanggung jawab Dean sendiri.
Ia menarik selimut sampai dada dan akhirnya memejamkan mata. Di luar, malam tetap tenang, tetapi pikirannya masih berputar sebentar sebelum tertidur. Lama-lama napasnya melambat dan rasa lelah mengalahkan kegelisahannya.
Dengan pemahaman itu, ia kembali pada keadaan di hadapannya. Ia siap menghadapi kelanjutan hari tanpa menghapus perasaan yang sudah mengajarkannya sesuatu.