Dean tiba di gedung Fakultas Kedokteran ketika lorong masih sepi. Ia berjalan menuju mading yang sama, melewati papan pengumuman akademik dan deretan kursi tunggu. Di sana, selembar kertas baru sudah tertempel rapi.
Ia berhenti.
Puisi Eidelweiss.
Dean mengeluarkan ponsel, tetapi sebelum mengambil gambar ia membaca seluruh baitnya dari awal sampai akhir. Puisi itu terasa lebih tenang daripada tulisan sebelumnya. Tidak ada kalimat yang memohon atau menuntut. Ada seseorang yang belajar menjaga jarak tanpa memutuskan harapan.
Dean membaca ulang baris terakhir. Ia tidak tahu kenapa kalimat itu membuatnya memikirkan Ana. Mungkin karena percakapan mereka semalam, atau karena ia mulai memperhatikan bagaimana Ana selalu memastikan orang lain tidak merasa disudutkan.
Ia mengangkat ponsel dan memotret puisi itu. Lalu ia melihat ke arah lorong. Tidak ada siapa-siapa selain seorang petugas kebersihan yang sedang membawa ember.
Dean menghampiri penjaga gedung yang duduk di dekat meja keamanan. ‘Pak, boleh tanya sebentar?’
‘Silakan, Mas.’
‘Puisi yang di mading itu biasanya ditempel siapa, ya?’
Penjaga itu mengikuti arah pandang Dean. ‘Wah, saya kurang tahu. Saya sering lihat sudah ada sebelum gedung ramai. Kadang saya baru datang, kertasnya sudah tertempel.’
‘Bapak enggak pernah lihat orangnya?’
‘Belum pernah. Mungkin ditempel waktu masih gelap atau saat petugas pergantian.’ Ia tersenyum meminta maaf. ‘Saya juga tidak terlalu memperhatikan.’
Dean mengucapkan terima kasih. Jawaban itu tidak memberinya banyak petunjuk, tetapi setidaknya ia tahu penulisnya datang lebih pagi. Ia kembali ke mading, berdiri beberapa saat, lalu menyimpan ponsel.
‘Presiden BEM sudah jadi penggemar tetap mading?’
Dean menoleh. Gus berdiri di belakangnya dengan tas ransel tersampir di satu bahu.
‘Lo datang pagi juga?’
‘Ada kelas. Tapi gue enggak menyangka ketemu lo duluan di sini.’ Gus melirik mading. ‘Puisi baru?’
‘Iya.’
‘Lo foto lagi?’
Dean memasukkan ponsel ke saku. ‘Gue cuma suka tulisannya.’
Gus tersenyum lebar. ‘Gue tahu. Lo sudah mengoleksi berapa sekarang?’
‘Dua minggu terakhir.’
‘Berarti lebih dari dua.’
Dean tidak menjawab. Ia kembali membaca puisi itu dari jauh. Gus mengikuti arah pandangnya, lalu menggeleng kecil.
‘Lo serius mau cari penulisnya?’
‘Gue penasaran siapa yang bisa menulis seperti ini.’
‘Penasaran sama tulisannya atau orangnya?’
‘Sama-sama.’
Gus tertawa. ‘Nah, akhirnya jujur.’
Dean menyenggol bahu temannya. ‘Jangan bikin cerita sendiri.’
‘Gue enggak bikin. Lo sendiri yang bilang penasaran.’
Mereka berjalan menuju kelas. Dean sempat menoleh sekali lagi ke mading. Tidak ada tanda siapa yang menempelkan puisi itu. Tidak ada tulisan tangan tambahan atau nama lain. Hanya tanda tangan Eidelweiss di bagian bawah.
Dalam perjalanan, ia bertanya kepada Gus apakah ada mahasiswa FK yang mengenal penulis puisi itu. Gus menjawab tidak tahu, lalu mengingatkan bahwa gedung Sastra berada jauh dari FK. Dean mendengarkan, namun ia tidak ingin membuat dugaan tanpa dasar. Bisa saja penulisnya mahasiswa fakultas lain, atau seseorang yang hanya sesekali datang ke gedung mereka.
‘Kalau lo mau tahu, kenapa enggak bikin pengumuman?’ Gus bertanya.
‘Gue enggak mau bikin dia merasa diburu.’
Gus mengangkat alis. ‘Tumben mikir perasaan orang yang belum lo kenal.’
‘Gue enggak perlu kenal dulu buat menghormati batas orang.’
‘Bagus. Simpan prinsip itu buat semua orang.’
Dean tidak membalas. Ucapan Gus mengingatkannya pada pesan Ana semalam. Jangan lupa kamu berhak bilang tidak. Ia mengeluarkan ponsel, melihat foto puisi yang baru diambil, kemudian menguncinya kembali.
Penjaga gedung lalu kembali pada pekerjaannya. Dean tidak ingin mengganggunya lebih lama. Ia berjalan pelan mengitari lorong, mencoba membayangkan seseorang datang ketika lampu gedung baru menyala. Mungkin orang itu tidak pernah bertemu dengannya. Mungkin ia hanya ingin menyampaikan sesuatu kepada siapa pun yang bersedia membaca.
Dean berhenti di depan papan pengumuman lain. Di sana tertempel jadwal kuliah, pemberitahuan laboratorium, dan selebaran seminar. Puisi itu berbeda dari semua kertas tersebut. Tidak meminta perhatian dengan warna mencolok, tetapi cukup membuat orang berhenti. Dean menyadari bahwa ia pun berhenti bukan karena ingin mencari hiburan, melainkan karena kalimat-kalimat itu memberinya perasaan dikenali.
‘Kalau nanti lo ketemu penulisnya, jangan langsung wawancara seperti rapat BEM,’ kata Gus.
‘Gue enggak akan begitu.’
‘Bagus. Mulai dari halo saja.’
Dean tersenyum tipis. ‘Kalau gue ketemu, gue bakal tanya apa dia keberatan puisinya dibaca orang.’
‘Itu lebih baik.’
Bel masuk terdengar dari ujung gedung. Mereka mempercepat langkah. Dean tidak menoleh lagi sampai tiba di kelas. Pagi itu ia menyimpan rasa penasarannya untuk nanti dan mencatat materi seperti biasa. Ia belum menemukan siapa penulis Eidelweiss, tetapi setidaknya ia tahu bahwa mencari jawaban tidak memberinya hak untuk menerobos ruang pribadi seseorang.
Selama kuliah, ia sesekali mengingat bait yang baru dibacanya. Ia mencoba memikirkan makna lain, tetapi tidak memaksa dirinya mendapatkan satu tafsir yang benar. Setiap orang mungkin membaca puisi dengan pengalaman yang berbeda. Bisa jadi penulisnya menulis tentang seseorang yang jauh darinya; bisa juga tentang hal sederhana yang tidak berkaitan dengan cinta.
Ketika dosen meminta mahasiswa membentuk kelompok kecil untuk membahas materi, Dean ikut berdiskusi seperti biasa. Ia memberikan pendapat, mendengarkan koreksi teman, dan mencatat kesimpulan. Tidak ada yang tahu ia tadi berdiri lama di depan mading. Ketika kelas selesai, ia kembali ke kegiatan BEM, memastikan revisi proposal dikirim sesuai tenggat.
Di sela kesibukan, ia tidak mencari-cari kemungkinan siapa Eidelweiss. Ia mengingat jawaban penjaga: puisi sudah tertempel sebelum gedung ramai. Itu saja petunjuk yang ia punya, dan belum cukup untuk menuding siapa pun. Ia memutuskan menunggu Senin berikutnya tanpa mengubah kebiasaan orang lain atau meminta teman-temannya mengawasi mading.
Setelah kelas, ia kembali melewati mading. Puisi itu masih di sana, kini dikelilingi beberapa mahasiswa yang membacanya. Dean tidak mendekat. Ia hanya berjalan lewat, membiarkan orang lain membacanya tanpa merasa harus menjadi pemilik pertama atau terakhir.
Ia juga menolak menjadikan satu kejadian sebagai alasan untuk menghakimi seluruh masa lalu. Yang perlu dilihat adalah pola tindakan, bukan sekadar kata-kata yang terdengar baik pada saat tertekan.