Siang itu, Dean kembali membuka foto puisi di ponselnya ketika duduk sendirian di bangku dekat taman FK. Ia memperbesar gambar agar bisa membaca satu baris yang tadi tertutup bayangan. Kalimat-kalimatnya sederhana, tetapi membuatnya berpikir tentang hal yang tidak pernah ia pertimbangkan sebelumnya: mungkin seseorang bisa menyayangi tanpa meminta balasan.
‘Lo masih lihat itu?’ Gus menjatuhkan diri di bangku sebelahnya.
Dean menutup gambar. ‘Lo enggak ada kelas?’
‘Kelas gue baru nanti. Dan gue tanya duluan.’
‘Gue cuma membaca.’
‘Dari foto yang sudah lo simpan.’
Dean memasukkan ponsel ke saku. ‘Gue bilang gue suka tulisannya.’
‘Gue enggak bilang lo enggak boleh suka.’ Gus mengangkat kedua tangan, pura-pura menyerah. ‘Cuma lucu aja. Lo biasanya paling malas baca hal yang bukan materi kuliah.’
Dean menatapnya datar. ‘Orang bisa berubah.’
‘Bisa. Apalagi kalau ada seseorang yang bikin berubah.’
‘Gus.’
‘Oke, gue berhenti.’ Gus tertawa kecil, lalu membuka botol minumnya. ‘Tapi lo mau ngapain sekarang?’
Dean berpikir sejenak. ‘Belum tahu.’
Jawaban itu membuat Gus menoleh. ‘Lo enggak punya rencana buat mencari penulisnya?’
‘Punya. Tapi bukan berarti gue harus langsung memasang pengumuman atau tanya semua orang.’
‘Terus?’
‘Gue akan memperhatikan. Kalau ada kesempatan yang wajar, baru gue tanya.’
Gus mengangguk. ‘Itu kedengaran lebih masuk akal.’
Mereka berbicara tentang jadwal kuliah dan rapat BEM. Beberapa menit kemudian, Dean menerima pesan dari Ana.
Ana : Hari ini kamu sudah makan siang?
Dean tersenyum samar sebelum membalas.
Deanova : Belum. Lo?
Ana : Aku baru selesai makan. Jangan lupa makan, ya.
Deanova : Iya, Bu Ana.
Ana : Jangan bercanda. Kamu sering lupa kalau sibuk.
Deanova : Lo tahu dari mana?
Ana : Kemarin kamu bilang rapatmu panjang dan kamu belum makan sampai sore.
Dean membaca percakapan itu sambil menggeleng kecil. Ana memperhatikan hal-hal kecil, bahkan yang tidak ia anggap penting. Ia membalas bahwa ia akan pergi ke kantin setelah Gus selesai mengejeknya. Ana mengirim emotikon senyum, lalu percakapan berhenti.
Di gedung Sastra, Ana baru saja kembali dari gedung FK. Ia datang sebelum mahasiswa memenuhi lorong, menempelkan puisi, lalu pergi seperti biasa. Ia tidak melihat Dean di mading. Namun ketika keluar dari gedung, ia sempat melihatnya dari kejauhan berjalan bersama Gus. Ana tidak menghampiri mereka. Ia tidak ingin keberadaannya menjadi petunjuk yang membuat Dean curiga.
Bagas sedang menunggunya di taman Sastra. ‘Lama juga. Dari mana?’
Ana merapatkan tali tas di bahu. ‘Ke perpustakaan sebentar.’
Bagas melihat map tipis yang sedikit menyembul dari tasnya. ‘Bawa bahan tugas?’
Ana mengangguk. ‘Iya. Catatan kuliah.’
Ia duduk di samping Bagas dan mengeluarkan buku yang benar-benar berisi catatan. Map puisinya ia rapikan diam-diam di dalam tas. Bagas tidak bertanya lagi. Mereka membahas tugas kelas, lalu berpisah ketika jadwal kuliah berikutnya tiba.
Sore harinya, Dean berdiri sekali lagi di depan mading sebelum pulang. Mahasiswa yang tadi membaca puisi sudah pergi. Kertas itu masih tertempel rapi. Ia tidak mengambilnya dan tidak menulis apa pun di sampingnya. Ia hanya membaca tanda tangan kecil di bagian bawah.
Eidelweiss.
Nama itu tetap menjadi teka-teki. Namun untuk pertama kali, Dean merasa ia tidak perlu memaksa jawaban datang cepat. Ada hal-hal yang memang harus menunggu sampai orang yang menyimpannya siap membukakan pintu.
Ia melangkah pergi, menyimpan foto puisi itu di ponsel bersama foto-foto sebelumnya. Senin berikutnya masih jauh, tetapi kini ia tahu apa yang akan ia lakukan: datang lagi, membaca, dan tidak mengganggu siapa pun yang ingin tetap tak terlihat.
Dalam perjalanan ke parkiran, ia melewati sekelompok mahasiswa yang sedang membahas jadwal seminar. Dean berhenti sebentar untuk menjawab pertanyaan mereka tentang perubahan waktu rapat, lalu melanjutkan langkah. Sehari tetap berjalan dengan urusan kuliah, proposal, dan tanggung jawab BEM. Puisi itu hanya satu bagian kecil dari pagi, tetapi efeknya menetap lebih lama daripada yang ia duga.
Sore hari, Dean duduk di mobil sebelum menyalakan mesin. Ia membuka foto puisi itu sekali lagi, membaca tanda tangan di bawahnya, lalu menutup galeri. Ia tidak akan mengunggah gambar tersebut atau membagikannya ke grup. Ia ingin tulisan itu tetap berada di papan dan dibaca oleh orang-orang yang melewatinya, tanpa menjadikan penulisnya bahan pembicaraan.
Ponselnya bergetar. Ana mengirim pesan menanyakan apakah rapat seminar berjalan lancar. Dean membalas bahwa semuanya baik-baik saja, lalu bertanya tentang kelasnya. Ana menjawab singkat bahwa tugasnya selesai. Percakapan mereka tidak panjang, tetapi terasa wajar. Dean tidak bertanya ke mana Ana pergi pagi tadi atau apa yang ada di dalam mapnya. Ia tidak punya alasan untuk menanyai hal itu.
Saat mobil mulai bergerak, Dean menyadari bahwa rasa penasarannya terhadap Eidelweiss dan keinginannya mengenal Ana adalah dua hal yang berbeda. Ia belum tahu bagaimana keduanya akan berhubungan. Untuk sekarang, ia memilih tidak membuat kesimpulan. Ia akan datang lagi hari Senin, membaca puisi baru jika ada, lalu membiarkan penulisnya menentukan apakah suatu hari mereka akan berbicara.
Perjalanan pulang berlangsung lancar. Dean mengikuti arus kendaraan, berhenti ketika lampu lalu lintas berubah merah, dan menunggu dengan sabar saat jalanan padat. Ia tidak memutar kembali percakapan tadi untuk mencari arti tersembunyi. Ana bertanya tentang rapat karena ia peduli sebagai teman; ia tidak perlu mengubah kebaikan itu menjadi tanda lain.
Di rumah, Papa bertanya apakah persiapan seminar berjalan baik. Dean menjelaskan bahwa beberapa jadwal perlu disesuaikan, tetapi tidak ada masalah besar. Dea menyela dengan cerita sekolahnya, dan Dean mendengarkan sambil makan malam. Rutinitas keluarga membuat pikirannya kembali pada hal-hal biasa.
Sebelum tidur, ia memeriksa pesan Ana sekali lagi. Tidak ada pesan baru, dan ia tidak mengirim pesan tambahan. Ia meletakkan ponsel di meja, lalu memikirkan kalimat terakhir dalam puisi: seseorang boleh pergi bila perlu. Dean tidak tahu mengapa baris itu terasa begitu dekat. Ia hanya tahu bahwa Senin berikutnya ia akan membaca lagi, bukan menuntut penulisnya menjelaskan.