Sejak Senin pagi, Ana berusaha menjalani rutinitasnya tanpa terus memikirkan puisi yang ditempel di gedung FK. Ia menyelesaikan tugas kuliah, mengikuti diskusi kelas, dan mencatat bahan yang perlu dibaca sebelum pertemuan berikutnya. Namun setiap kali ponselnya bergetar, ia sempat berharap Dean mengirim kabar tentang puisi itu.
Ia tidak tahu apakah ia ingin Dean memuji tulisannya atau justru tidak menyebutkannya sama sekali. Dua keinginan itu saling bertentangan. Jika Dean membicarakan puisi, Ana harus berusaha menyembunyikan kegugupannya. Jika Dean tidak membicarakannya, ia mungkin akan bertanya-tanya apakah Dean sempat membaca.
Menjelang siang, Ana menutup buku dan memutuskan beristirahat sebentar di taman Fakultas Sastra. Ia memilih bangku yang tidak jauh dari gedung kelas. Tempat itu cukup teduh dan ramai, sehingga ia dapat duduk tanpa merasa terisolasi. Ia membuka tas, memeriksa catatan untuk kelas berikutnya, lalu memastikan map puisinya tertutup rapat.
Ana mencoba mengalihkan perhatian dengan membaca jadwal mata kuliah. Ia menandai tenggat tugas, membuat daftar bahan bacaan, dan menyusun waktu belajar untuk pekan itu. Kegiatan kecil tersebut membantu pikirannya kembali pada hal-hal yang bisa ia kendalikan. Setelah itu, ia menyimpan buku dan hendak mengambil lembar jadwal yang terselip di dalam map.
Sejak Senin pagi, Ana berusaha menjalani rutinitasnya tanpa terus memikirkan puisi yang ditempel di gedung FK. Ia menyelesaikan tugas kuliah, mengikuti diskusi kelas, dan mencatat bahan yang perlu dibaca sebelum pertemuan berikutnya. Namun setiap kali ponselnya bergetar, ia sempat berharap Dean mengirim kabar tentang puisi itu.
Ia tidak tahu apakah ia ingin Dean memuji tulisannya atau justru tidak menyebutkannya sama sekali. Dua keinginan itu saling bertentangan. Jika Dean membicarakan puisi, Ana harus berusaha menyembunyikan kegugupannya. Jika Dean tidak membicarakannya, ia mungkin akan bertanya-tanya apakah Dean sempat membaca.
Menjelang siang, Ana menutup buku dan memutuskan beristirahat sebentar di taman Fakultas Sastra. Ia memilih bangku yang tidak jauh dari gedung kelas. Tempat itu cukup teduh dan ramai, sehingga ia dapat duduk tanpa merasa terisolasi. Ia membuka tas, memeriksa catatan untuk kelas berikutnya, lalu memastikan map puisinya tertutup rapat.
Ana mencoba mengalihkan perhatian dengan membaca jadwal mata kuliah. Ia menandai tenggat tugas, membuat daftar bahan bacaan, dan menyusun waktu belajar untuk pekan itu. Kegiatan kecil tersebut membantu pikirannya kembali pada hal-hal yang bisa ia kendalikan. Setelah itu, ia menyimpan buku dan hendak mengambil lembar jadwal yang terselip di dalam map.
Senin siang, taman Fakultas Sastra terasa lebih ramai daripada biasanya. Beberapa mahasiswa duduk berkelompok di bawah pohon, membicarakan tugas yang harus dikumpulkan. Ana memilih bangku di sisi yang agak teduh. Ia baru selesai kuliah dan sedang mencari catatan untuk kelas berikutnya.
Map tipisnya ia letakkan di pangkuan. Di dalamnya terselip lembar-lembar puisi yang ia tulis selama beberapa bulan. Ana hendak memasukkan kembali satu kertas yang hampir terlepas ketika suara Bagas terdengar dari belakang.
‘An, lo bawa catatan yang kemarin?’
Ana tersentak kecil. Kertas itu hampir jatuh. Ia buru-buru menutup map dan merapatkannya ke dada.
‘Ada. Kamu butuh?’
‘Gue mau pinjam buat nyocokin bagian yang belum sempat gue salin.’ Bagas duduk di sebelahnya. ‘Lo kenapa? Kaget banget.’
‘Aku lagi enggak fokus.’
Bagas memandang map yang dipeluk Ana. ‘Isinya catatan semua?’
‘Sebagian.’
Jawaban itu tidak sepenuhnya bohong, tetapi Ana tahu Bagas mengenalnya cukup lama untuk menangkap sesuatu yang disembunyikan. Ia membuka tas dan mengeluarkan buku kuliah, berharap perhatian Bagas beralih ke sana.
‘Ini catatanku. Kamu boleh foto bagian yang kamu perlu.’
Bagas mengambil buku itu. ‘Makasih. Gue balikin sebelum kelas.’
Ana mengangguk. Ia berusaha terlihat biasa sambil membuka ponsel dan memeriksa jadwal. Map tetap berada di pangkuannya. Sejak tadi pagi, pikirannya berkali-kali kembali ke puisi yang ia tempelkan di gedung FK. Dean mungkin sudah membacanya. Ia tidak tahu apakah puisi itu disukai atau hanya dipotret karena Dean memang mengumpulkan semua tulisan Eidelweiss.
‘Lo nunggu seseorang?’ tanya Bagas.
‘Enggak.’
‘Dari tadi lihat pintu masuk.’
Ana menurunkan ponsel. ‘Aku cuma lihat jam. Kelas berikutnya sebentar lagi.’
Bagas tidak mendesak. Ia membaca catatan, sementara Ana mengambil selembar kertas dari map untuk memeriksa jadwal yang terselip di belakangnya. Map terbuka sesaat. Bagas melihat beberapa baris tulisan tangan dan satu tanda tangan kecil di bagian bawah lembar yang berada paling atas.
Eidelweiss.
Bagas berhenti membaca. Matanya bergerak dari kertas itu ke wajah Ana. Ana segera menutup map, tetapi ia tahu sudah terlambat.
‘An,’ kata Bagas pelan. ‘Itu puisi Eidelweiss?’
Ana tidak menjawab. Ia menggenggam sisi map erat-erat. Suasana taman yang ramai mendadak terasa jauh. Di antara suara mahasiswa dan langkah kaki yang lalu-lalang, ia hanya bisa memikirkan bagaimana Bagas bisa melihat tanda tangan itu.
‘Kamu enggak perlu jawab kalau enggak mau,’ Bagas melanjutkan. Ia meletakkan buku kuliah di sampingnya. ‘Gue cuma kaget. Tulisan itu yang sering dipotret Dean, kan?’
Nama Dean membuat Ana menunduk. Selama ini ia selalu menjaga agar dua bagian hidupnya tidak bertemu: dirinya sebagai Ana, yang berbicara dengan Dean setiap hari, dan Eidelweiss, penulis yang diam-diam dikagumi Dean.
‘Aku enggak mau Dean tahu,’ katanya akhirnya.
Bagas memandang map itu lagi. ‘Jadi benar?’
Ana menelan ludah. Ia tidak menjawab dengan suara, hanya mengangguk kecil.
Bagas menyandarkan punggung ke bangku. Ia tampak terkejut, tetapi tidak marah. ‘Sejak kapan lo nulis puisi dan menempelkannya di sana?’
‘Sudah lama.’
‘Dan Dean enggak tahu?’
‘Belum.’ Ana menarik napas panjang. ‘Aku tahu dia suka puisi Eidelweiss. Aku juga tahu dia berusaha mencari tahu siapa penulisnya. Tapi aku belum siap mengatakan kalau itu aku.’
Bagas menatapnya dengan perhatian yang tidak menghakimi. ‘Kenapa?’
Ana mengusap ujung map. ‘Aku belum bisa menjelaskan semuanya. Tolong jangan tanya dulu.’
Bagas mengangguk perlahan. Ia mengembalikan catatan kuliah, lalu membiarkan hening mengisi sela di antara mereka. Ana berterima kasih dalam hati karena Bagas tidak langsung menuntut jawaban. Namun ia tahu percakapan itu belum selesai. Ada rahasia yang sudah terbuka di antara mereka, dan ia harus meminta Bagas menjaganya.
Bel kelas terdengar dari gedung. Bagas berdiri dan menyampirkan tas ke bahu. ‘Kita masuk dulu. Lo enggak perlu cerita sekarang.’
Ana mengikuti langkahnya, map tetap ia pegang erat. Untuk pertama kalinya, ada orang selain dirinya yang tahu siapa Eidelweiss. Ia hanya berharap orang itu dapat menjaga jarak antara rahasia dan rasa ingin tahu.