Latihan pertama belum berlangsung. Ana dan Dean baru menyelesaikan rapat koordinasi singkat untuk membahas urutan pembukaan seminar. Ana membawa catatan kecil berisi hal-hal yang belum ia pahami, sedangkan Dean memegang salinan jadwal panitia.
Mereka membicarakan durasi pembacaan, kebutuhan mikrofon, dan kapan latihan akan dimulai. Dean menjawab pertanyaan Ana satu per satu tanpa menyuruhnya menghafal jadwal. Ana berterima kasih dan menyimpan catatannya kembali. Setelah urusan selesai, Dean menawarkan tumpangan pulang. Ana setuju karena memang sedang ingin pulang bersamanya dan tidak punya rencana lain.
Ketika mereka keluar dari gedung, udara terasa lembap dan angin membawa bau tanah basah. Ana memeriksa langit sebentar, lalu memastikan earphone berada di kantong tas. Ia berharap hujan tidak turun deras sebelum mereka tiba di kos.
Hari itu mereka pulang setelah rapat singkat mengenai kebutuhan seminar. Ana sudah menerima jadwal latihan awal dan membawa salinannya di dalam tas. Dean memastikan bahwa ia tidak perlu menunggu panitia lain selesai, lalu mengantar Ana sesuai kesepakatan mereka. Perjalanan biasanya memakan waktu cukup lama ketika lalu lintas padat, tetapi keduanya tidak terburu-buru.
Sebelum keluar dari area kampus, Ana sempat memeriksa cuaca lewat jendela. Awan kelabu menutup sebagian langit. Ia membawa earphone seperti biasa dan menaruhnya di kantong depan tas, tempat yang mudah dijangkau. Ia tidak mengumumkan kekhawatirannya kepada Dean; ia hanya menyiapkan benda yang biasanya membantu.
Dean melihat gerakan itu, tetapi tidak bertanya. Ia tahu Ana selalu membawa earphone. Ia menyalakan mobil dan menunggu kendaraan di depan bergerak. Mereka membicarakan jadwal latihan dan pilihan puisi untuk acara, menjaga percakapan tetap ringan.
Hari itu mereka pulang setelah rapat singkat mengenai kebutuhan seminar. Ana sudah menerima jadwal latihan awal dan membawa salinannya di dalam tas. Dean memastikan bahwa ia tidak perlu menunggu panitia lain selesai, lalu mengantar Ana sesuai kesepakatan mereka. Perjalanan biasanya memakan waktu cukup lama ketika lalu lintas padat, tetapi keduanya tidak terburu-buru.
Sebelum keluar dari area kampus, Ana sempat memeriksa cuaca lewat jendela. Awan kelabu menutup sebagian langit. Ia membawa earphone seperti biasa dan menaruhnya di kantong depan tas, tempat yang mudah dijangkau. Ia tidak mengumumkan kekhawatirannya kepada Dean; ia hanya menyiapkan benda yang biasanya membantu.
Dean melihat gerakan itu, tetapi tidak bertanya. Ia tahu Ana selalu membawa earphone. Ia menyalakan mobil dan menunggu kendaraan di depan bergerak. Mereka membicarakan jadwal latihan dan pilihan puisi untuk acara, menjaga percakapan tetap ringan.
Beberapa hari kemudian, Dean mengantar Ana pulang setelah mereka menyelesaikan urusan seminar di kampus. Langit sejak sore tampak kelabu, tetapi hujan belum turun. Ana duduk di kursi penumpang dengan tas di pangkuan, sementara Dean mengemudi menyusuri jalan yang mulai padat.
‘Makasih sudah bantu urus jadwal latihan,’ kata Ana.
‘Itu memang tugas panitia.’
‘Tetap saja, kamu menjelaskan semuanya dengan sabar.’
Dean tersenyum kecil. ‘Lo juga jelas kalau bertanya. Jadi gampang.’
Ana memandang jalan di luar jendela. Beberapa tetes hujan jatuh di kaca, lalu segera disusul titik-titik lain. Dalam beberapa menit, suara air membesar, menutupi bunyi kendaraan dan membuat kaca depan buram.
Jari Ana mencengkeram tali tas. Napasnya menjadi pendek. Ia berusaha menunduk, menatap telapak tangan, dan mengingatkan diri bahwa ia sedang berada di dalam mobil. Namun kilatan petir membuat bahunya tersentak. Tangannya bergerak menutup telinga.
Dean segera menepi ke tempat yang aman. Ia tidak menyentuh Ana. ‘An, gue berhenti dulu. Lo mau gue bantu?’
Ana tidak langsung menjawab. Ia mengangguk kecil, tetapi tetap menutup telinga.
‘Mau pakai earphone?’ tanya Dean. ‘Gue bisa nyalain lagu. Kalau enggak mau, bilang aja.’
Ana mengangguk lagi. Dean mengambil earphone yang selalu tersedia di konsol mobilnya, lalu mengulurkannya tanpa mendekat. Ana menerima satu sisi dan memasangnya sendiri. Dean menunggu sampai ia memberi isyarat bahwa ia siap.
Baru setelah itu Dean memasang sisi yang lain di telinga Ana dengan gerakan perlahan. Ia memutar lagu Payung Teduh dengan volume rendah, lalu meletakkan ponselnya kembali. Tidak ada pertanyaan selama beberapa menit. Dean hanya menunggu, memastikan mobil tetap berada di tempat aman.
Perlahan, napas Ana mulai teratur. Jari-jarinya tidak lagi mencengkeram tas sekuat tadi. Ia menatap lampu-lampu di luar yang kabur oleh hujan. Lagu yang mengalun menjadi pegangan kecil untuk memusatkan pikirannya.
Dean mematikan musik setelah Ana melepas satu sisi earphone. ‘Lo sudah lebih baik?’
‘Iya. Maaf, kamu jadi harus berhenti.’
‘Enggak perlu minta maaf.’ Dean menjaga jarak, tidak meraih tangannya. ‘Lo mau lanjut atau tunggu hujannya sedikit reda?’
Ana melihat ke luar. Hujan masih deras. ‘Tunggu sebentar saja.’
‘Oke.’
Mereka duduk dalam diam. Dean tidak mencoba mengisi jeda dengan candaan. Ia tahu Ana membutuhkan waktu. Beberapa menit kemudian, ia bertanya dengan suara hati-hati, ‘Kalau lo enggak keberatan, gue boleh tanya kenapa hujan bikin lo takut?’
Ana menegang lagi. Ia menatap kaca yang dipenuhi air, lalu menggeleng perlahan.
‘Aku belum siap cerita.’
‘Oke. Lo enggak harus cerita sekarang.’
Ana memandang Dean, sedikit terkejut karena ia tidak mendesak. ‘Kamu enggak penasaran?’
‘Penasaran, tapi itu bukan alasan buat maksa lo.’ Dean menatap jalan. ‘Kalau suatu hari lo mau cerita, gue dengerin. Kalau enggak, gue tetap bisa bantu sebisanya.’
Ana menunduk. Ia ingin mengatakan bahwa hujan mengingatkannya pada malam ketika ibunya pergi, tetapi kalimat itu tertahan di tenggorokan. Ia belum siap membuka bagian hidupnya yang paling sakit.
‘Terima kasih,’ katanya pelan.
Hujan mulai mengecil. Dean menunggu beberapa menit lagi sebelum kembali ke jalan. Ia menyalakan musik dengan volume rendah, memastikan Ana tidak keberatan. Ana mengangguk dan membiarkan lagu itu menemani perjalanan.
Ketika mobil tiba di dekat kos, Dean berhenti di tempat yang aman. Ana melepas sabuk pengaman dan mengembalikan earphone.
‘Makasih, Deanova.’
‘Sama-sama. Kabari kalau sudah masuk.’
Ana tersenyum kecil. ‘Iya.’
Dean tidak meminta lebih dari itu. Ia menunggu sampai Ana turun dan berjalan masuk ke area kos, lalu baru menjalankan mobil. Hujan masih turun tipis, tetapi kali ini Ana berhasil melewatinya dengan napas yang lebih tenang dan tanpa harus menceritakan hal yang belum siap ia bagi.