Seusai kelas, Ana tidak langsung mengirim kabar. Ia berjalan ke taman bersama Bagas, minum air, dan membiarkan rasa gugupnya turun. Ia ingin memastikan keputusan itu memang berasal dari dirinya. Setelah beberapa menit, ia masih merasakan takut yang sama, tetapi ia juga masih ingin mencoba.
Ia membuka percakapan dengan Dean dan membaca nama kontak yang tersimpan di ponselnya. Dean pernah memasukkan nomornya dengan nama berawalan A agar mudah ditemukan. Ana tersenyum kecil mengingat kejadian itu. Kali ini ia tidak menghubunginya untuk meminta tumpangan atau bantuan pribadi; ia menyampaikan kabar yang berhubungan langsung dengan tugas panitia.
Ia mengetik pesannya dengan singkat, lalu menekan kirim. Setelah itu, ia menyimpan ponsel dan kembali mendengarkan Bagas berbicara.
Dean telah menerima susunan awal acara dari tim seminar saat Ana mengirim pesannya. Ia sudah membaca bahwa pembukaan membutuhkan pembaca puisi, tetapi nama yang tercantum masih kosong. Ia meletakkan pena dan membalas Ana dengan ucapan selamat. Setelah mendapat jawaban bahwa Ana masih takut, Dean menimbang kata-katanya sebelum mengirim balasan berikutnya.
Ia tidak ingin memberi janji bahwa semuanya pasti mudah. Ia juga tidak ingin membuat Ana merasa bahwa menerima tugas itu akan menyenangkan dirinya. Karena itu, ia menyebut latihan bertahap dan memberinya pilihan untuk mengatakan jika ada hal yang membuatnya tidak nyaman.
Dean membaca kembali pesan yang ia kirim. Tidak ada perintah atau tawaran yang harus diterima Ana. Ia meletakkan ponsel dan kembali bekerja. Sebagai panitia, ia perlu memastikan jadwal dan kebutuhan acara disiapkan dengan baik. Sebagai teman, ia perlu memberi ruang bagi Ana untuk menentukan seberapa jauh ia ingin dibantu.
Dean telah menerima susunan awal acara dari tim seminar saat Ana mengirim pesannya. Ia sudah membaca bahwa pembukaan membutuhkan pembaca puisi, tetapi nama yang tercantum masih kosong. Ia meletakkan pena dan membalas Ana dengan ucapan selamat. Setelah mendapat jawaban bahwa Ana masih takut, Dean menimbang kata-katanya sebelum mengirim balasan berikutnya.
Ia tidak ingin memberi janji bahwa semuanya pasti mudah. Ia juga tidak ingin membuat Ana merasa bahwa menerima tugas itu akan menyenangkan dirinya. Karena itu, ia menyebut latihan bertahap dan memberinya pilihan untuk mengatakan jika ada hal yang membuatnya tidak nyaman.
Dean membaca kembali pesan yang ia kirim. Tidak ada perintah atau tawaran yang harus diterima Ana. Ia meletakkan ponsel dan kembali bekerja. Sebagai panitia, ia perlu memastikan jadwal dan kebutuhan acara disiapkan dengan baik. Sebagai teman, ia perlu memberi ruang bagi Ana untuk menentukan seberapa jauh ia ingin dibantu.
Sore itu, Dean sedang memeriksa daftar kebutuhan seminar di ruang BEM ketika ponselnya menerima pesan dari Ana. Ia membaca pesan itu sekali, lalu menaruh pena.
Ana : Miss Diana memilihku jadi pembaca puisi pembuka Seminar Nasional. Aku sudah bilang bersedia.
Dean tersenyum. Ia bangga, meski belum tahu bagaimana Ana bisa menerima tugas sebesar itu. Ia membalas dengan cepat.
Deanova : Serius? Bagus, An. Lo pasti bisa.
Ana : Aku masih takut. Tapi Miss Diana bilang aku bisa latihan bertahap.
Deanova : Itu rencana yang bagus. Gue panitia acaranya, jadi nanti gue bisa pastikan lo tahu jadwal dan tempat latihan.
Ana : Terima kasih. Aku enggak mau merepotkanmu.
Deanova : Ini urusan acara. Bukan merepotkan. Tapi kalau lo enggak nyaman minta bantuan ke gue, bilang aja.
Ana membaca balasan itu di lorong gedung Sastra. Ia senang Dean langsung mendukung, tetapi ia juga menyadari bahwa kalimat terakhirnya berbeda dari kebiasaan Dean sebelumnya. Dean tidak menganggap dirinya berhak mengatur keputusan Ana. Ia memberi ruang untuk menolak.
Ana : Aku nyaman. Aku hanya belum terbiasa tampil di depan banyak orang.
Deanova : Kalau gitu kita mulai dari hal kecil. Nanti gue kirim susunan acara setelah panitia finalisasi.
Ana : Baik. Aku akan latihan dulu di kelas.
Dean : Semangat, An.
Ana menatap layar dan tersenyum. Pesan itu sederhana, tetapi membuat rasa takutnya tidak lagi terasa sebesar tadi. Ia menyimpan ponsel dan berjalan ke ruang baca untuk mengerjakan tugas. Ia tidak mengabari Dean tentang puisi yang ia tulis atau map yang kini disimpan Bagas. Rahasia itu tetap menjadi pilihannya sendiri.
Di ruang BEM, Dean kembali pada daftar acara. Ia mencatat nama Ana sebagai pembaca puisi pembuka, lalu memeriksa kebutuhan mikrofon dan waktu latihan. Ia tidak ingin membuat Ana merasa diperlakukan berbeda dari peserta lain. Yang bisa ia lakukan adalah memastikan informasi disampaikan jelas dan memberi kesempatan latihan yang cukup.
Gus melirik daftar di tangannya. ‘Ana jadi baca puisi?’
‘Iya. Miss Diana yang merekomendasikan.’
‘Lo sudah tahu?’
‘Dia barusan ngabarin.’
Gus menyeringai. ‘Sekarang ada alasan resmi buat sering komunikasi.’
Dean menatapnya tajam. ‘Ini acara kampus.’
‘Gue tahu. Gue juga enggak bilang apa-apa.’ Gus tertawa kecil. ‘Cuma bilang, jangan sampai lo malah bikin dia tambah gugup.’
‘Gue enggak akan.’
Dean meninjau lagi jadwal panitia. Ia menambahkan waktu latihan dan memastikan ruangan yang dipakai cukup tenang. Seminar masih dua bulan lagi. Ana punya waktu untuk berlatih dan memutuskan batas yang nyaman baginya. Dean tidak akan memintanya membacakan puisi di hadapannya sebelum hari itu.
Malamnya, Ana menerima susunan awal acara. Ia membaca bagian pembukaan dan melihat namanya tercantum di sana. Rasa gugup kembali muncul, tetapi kali ini ia mencoba mengubahnya menjadi persiapan. Ia membaca satu paragraf pelan di kamar, lalu mengulanginya tanpa suara. Setelah itu ia berhenti sebelum lelah, sebagaimana saran Miss Diana.
Ia mengirim pesan kepada Dean bahwa susunan acara sudah diterima. Dean membalas agar ia tidak perlu menghafal semuanya sekaligus. Ana berterima kasih, lalu menaruh ponsel. Untuk pertama kali, panggung itu terasa seperti sesuatu yang bisa ia hadapi sedikit demi sedikit.
Ia menutup buku dan mematikan lampu. Besok ia akan kembali berlatih, tanpa memaksa diri melampaui batas.
Ia tetap mencatat apa yang perlu diselesaikan sesudah ini. Urusan praktis dan perasaan tidak harus saling meniadakan; keduanya dapat dihadapi dengan kepala yang lebih dingin.