Pagi itu Ana datang ke kelas lebih awal. Ia memilih tempat duduk yang biasa ditempatinya, membuka buku, dan memeriksa tugas yang akan dibahas. Ia sudah mendengar bahwa beberapa mahasiswa diminta membacakan pekerjaan mereka di depan kelas, tetapi belum tahu siapa yang akan dipilih.
Ketika Miss Diana memuji tugasnya, Ana sempat mengira pujian itu hanya pembuka sebelum koreksi. Ia mendengarkan dengan saksama, mencoba menangkap setiap saran. Ada dua bagian yang perlu ia rapikan, tetapi keseluruhan tugasnya dinilai kuat. Ia mencatat masukan tersebut sebelum percakapan beralih ke Seminar Nasional.
Ana belum pernah membaca puisi di hadapan audiens sebesar itu. Ia membayangkan lampu panggung, mikrofon, dan suara orang-orang yang memenuhi aula. Ia juga teringat bahwa acara berlangsung saat musim hujan. Kekhawatiran itu nyata, tetapi ia ingin tahu apa yang bisa dilakukan untuk menghadapinya.
Ia tidak ingin menerima hanya karena takut mengecewakan Miss Diana, dan tidak ingin menolak hanya karena membayangkan kemungkinan terburuk. Ia mengambil waktu sejenak untuk menimbang keduanya sebelum memberikan jawaban.
Seminar Nasional masih dua bulan lagi, tetapi panitia sudah mulai menyusun susunan acara. Di kelas, Ana pernah membacakan tugasnya dengan suara jelas dan tenang. Namun membaca satu halaman di depan teman-teman tidak sama dengan berdiri di panggung besar. Ia tahu perbedaan itu, dan itulah yang membuatnya mempertimbangkan tawaran Miss Diana dengan serius.
Sebelum kelas berakhir, ia menyiapkan buku-bukunya dan merapikan meja. Beberapa teman sudah keluar ketika Miss Diana meminta ia tinggal. Ana segera membayangkan apakah ada bagian dari tugasnya yang keliru. Ia membuka buku catatan, siap menerima koreksi.
‘Saya ingin bicara soal tugas puisimu,’ kata Miss Diana.
Ana duduk kembali. Ia menyimak dengan hati-hati, berusaha tidak menebak-nebak maksud dosennya. Ketika pujian datang, ia hanya tersenyum kecil; ia belum tahu bahwa tawaran berikutnya akan meminta keberanian lebih besar darinya.
Keesokan harinya, Miss Diana meminta Ana tinggal sebentar setelah kelas. Mahasiswi lain mulai keluar, meninggalkan suara kursi yang digeser dan obrolan di koridor. Ana memasukkan buku ke tas, lalu mendekati meja dosennya.
‘Ada apa, Miss?’
Miss Diana merapikan beberapa lembar tugas. ‘Tugas puisimu bagus. Kamu punya kepekaan yang kuat memilih kata, tetapi tidak berlebihan.’
Ana tersenyum sopan. ‘Terima kasih, Miss.’
‘Saya ingin menawarkan satu kesempatan. BEM akan mengadakan Seminar Nasional dua bulan lagi. Mereka sedang mencari pembaca puisi untuk pembukaan acara. Saya mengusulkan namamu.’
Senyum Ana memudar. ‘Saya?’
‘Iya. Kamu tidak harus menerima sekarang. Pikirkan dulu.’
Di kepalanya, panggung besar langsung terbentuk: lampu terang, deretan kursi, banyak pasang mata, dan suara yang menggema. Ia pernah membaca di depan kelas, tetapi seminar BEM akan jauh lebih ramai. Ditambah kemungkinan hujan yang bisa datang kapan saja, tubuhnya terasa menegang.
Miss Diana memperhatikan perubahan wajahnya. ‘Kamu boleh menolak, Ana. Ini bukan kewajiban.’
Ana meremas tali tas. Ia teringat bagaimana selama ini ia menghindari banyak hal karena takut. Ia tidak ingin memaksakan diri sampai panik, tetapi juga tidak ingin selalu mundur sebelum mencoba.
Ia meminta waktu sebentar untuk memikirkan tawaran itu. Miss Diana tidak keberatan. Dosen itu menjelaskan bahwa Ana tidak perlu langsung menentukan pilihan puisi atau menghafal teks. Untuk saat ini, yang dibutuhkan hanya kesediaan menjadi pembaca acara. Pilihan karya dan latihan dapat dibicarakan setelah tema seminar diumumkan.
Penjelasan itu membuat Ana bisa membedakan antara menerima kesempatan dan memaksa dirinya menghadapi semua ketakutan sekaligus. Ia masih membayangkan ruangan besar dan suara hujan di luar gedung, tetapi ada beberapa langkah di antaranya. Ia dapat mulai membaca di kelas, berlatih dengan mikrofon saat aula kosong, lalu memutuskan bagaimana melanjutkan.
‘Saya mau mencoba, Miss,’ katanya setelah menimbang beberapa saat. ‘Tapi saya ingin latihan bertahap.’
‘Tentu. Kita akan atur bersama.’ Miss Diana menutup map tugas. ‘Kamu juga boleh mengubah keputusan kalau kondisi kesehatanmu tidak memungkinkan. Saya tidak ingin kamu merasa harus membuktikan sesuatu.’
Ana mengangguk. Ia menghargai bahwa Miss Diana tidak menyebut rasa takut sebagai kelemahan. Ia juga tidak menjanjikan bahwa kecemasannya akan hilang. Yang ia tawarkan hanya waktu dan ruang untuk berlatih.
‘Kalau saya menerima, saya boleh tahu dulu susunan acaranya dan tempatnya?’
‘Tentu. Panitia akan membagikan informasi setelah pembagian tugas. Kamu juga bisa meminta waktu latihan.’
Ana berpikir beberapa saat. ‘Saya mau mencoba, Miss.’
‘Kamu yakin?’
‘Saya masih takut, tapi saya ingin mencoba.’
Miss Diana tersenyum. ‘Baik. Kita lakukan bertahap. Kamu tidak perlu langsung berdiri di panggung besar. Mulai dari membaca di kelas, lalu latihan di ruang seminar.’
Ana mengangguk. Ketika keluar kelas, langkahnya terasa lebih berat daripada biasanya. Ia belum tahu apakah keputusan itu tepat, tetapi ia sudah mengatakannya dengan sadar. Tidak ada yang memaksanya. Ia sendiri yang memilih untuk mencoba.
Bagas menunggunya di koridor. ‘Lama. Ada apa?’
‘Miss Diana menawarkan aku jadi pembaca puisi di Seminar Nasional BEM.’
‘Terus?’
‘Aku menerima.’
Bagas tampak terkejut. ‘Lo berani juga.’
‘Aku masih takut.’
‘Takut enggak berarti lo enggak bisa.’
Ana tersenyum kecil. ‘Miss Diana bilang aku bisa latihan dulu.’
‘Kalau lo butuh teman latihan, kabari gue.’
‘Makasih.’
Mereka berjalan menuju taman. Bagas tidak bertanya apakah Dean akan hadir, tetapi Ana tahu Dean terlibat sebagai panitia. Pikiran itu membuat jantungnya berdebar lebih cepat. Ia harus memberi tahu Dean, bukan karena ingin mencari perhatian, melainkan agar koordinasi acara berjalan baik.
‘Kamu tahu Dean jadi panitia, kan?’ tanya Ana.
‘Presiden BEM. Pasti dia terlibat.’
Ana mengangguk. ‘Aku akan kabari dia nanti.’
‘Kalau lo siap.’
Ana menatap Bagas. ‘Aku enggak mau menyembunyikan hal yang memang perlu dia tahu.’
Bagas menerima jawaban itu tanpa komentar. Ia menyimpan perasaannya sendiri dan tetap berjalan di sisi Ana sebagai sahabat.
Sebelum mereka berpisah, Bagas bertanya apakah Ana ingin ditemani sampai halte. Ana menerima tawaran itu. Mereka berjalan sambil membicarakan jadwal latihan, bukan tentang rahasia puisi. Ana merasa lega karena masih bisa berbicara dengan sahabatnya tanpa menjadikan setiap percakapan sebagai pengakuan.
Di halte, Ana mengucapkan terima kasih dan menunggu angkot berikutnya dengan tenang.