Beberapa hari setelah hujan di mobil, Ana berusaha kembali menjalani kegiatan kampus seperti biasa. Ia mengikuti kuliah, menyelesaikan tugas, dan membalas pesan Dean tentang persiapan seminar. Dean tidak bertanya lagi tentang penyebab fobianya. Sikap itu membuat Ana lega, meskipun ia tahu ia masih belum sanggup membicarakan masa lalunya.
Jadwal mereka tidak selalu cocok. Ada hari ketika Ana berangkat lebih awal dan pulang bersama Bagas, ada pula saat Dean mengirim informasi seminar lewat pesan. Mereka tetap berteman tanpa harus terus-menerus berada di tempat yang sama. Ana belajar menikmati ruang tersebut; ia tidak merasa perlu memberi laporan tentang setiap kegiatan.
Namun beberapa kali ia menyadari Audrey memperhatikannya. Pertama di kantin, lalu di koridor dekat ruang kelas. Audrey tidak menghampiri, hanya berbicara dengan teman-temannya sambil sesekali melirik. Ana tidak tahu apakah itu kebetulan. Ia memilih tidak menuduh atau membuat cerita sendiri.
Bagas juga melihatnya. ‘Kalau dia ada masalah, biar dia ngomong langsung. Lo enggak perlu menebak-nebak.’
‘Aku enggak mau cari masalah.’
‘Gue tahu. Tapi kalau dia ganggu, lo boleh bilang berhenti.’
Ana mengangguk. Ia ingin menyelesaikan urusannya sendiri, tetapi ia juga tahu bahwa meminta bantuan bukan berarti lemah. Bagas sudah berjanji menjaga rahasianya; Ana tidak ingin setiap tatapan membuat sahabatnya harus selalu turun tangan.
Hari berikutnya, Ana datang ke kelas lebih awal. Miss Diana meminta mereka membaca beberapa halaman karya sastra untuk pertemuan mendatang. Ana mencatat judul dan nomor halaman, lalu pergi ke perpustakaan untuk mencari buku. Ia duduk di meja yang agak jauh dari pintu, membaca dengan stabil, dan membuat catatan kecil di pinggir kertas tempel.
Ketika jeda kuliah hampir selesai, ia mengembalikan buku ke rak dan berjalan menuju toilet di lantai dasar Fakultas Sastra. Lorong cukup ramai, tetapi ruangan itu sedang kosong. Ana mencuci tangan, merapikan rambut, dan memeriksa apakah ada tinta pena di jarinya. Ia ingin segera kembali ke ruang baca untuk mengambil tas yang tertinggal di kursi.
Pintu terbuka saat ia sedang mengeringkan tangan. Audrey masuk, melihat Ana, lalu berhenti di dekat wastafel. Ana merasakan tubuhnya menegang. Ia menarik napas dan mengingat bahwa ia bisa pergi kapan pun merasa tidak nyaman. Ia tidak harus menjawab pertanyaan yang tidak ingin dijawab.
‘Anaphalis, kan?’ kata Audrey.
‘Iya.’
‘Aku mau bicara sebentar.’
Ana menaruh tisu di tempat sampah. ‘Tentang apa?’
‘Dean.’
Ana menatap Audrey, menjaga suaranya tetap datar. ‘Kalau ada urusan dengan Dean, kamu sebaiknya bicara langsung sama dia.’
‘Aku ingin bicara dengan kamu dulu.’
‘Aku enggak tahu apa yang bisa aku jelaskan.’
Audrey menyilangkan tangan. Ia tampak hendak mengatakan sesuatu, tetapi matanya bergerak sebentar ke arah pintu. Ana tidak tahu apakah ia sedang mencari orang lain atau menimbang kata-katanya.
‘Aku cuma mau tahu sejak kapan kalian dekat,’ ujarnya.
‘Kami berteman beberapa hari ini.’
‘Beberapa hari, tapi dia sudah mengantar kamu ke mana-mana?’
Ana tidak menjawab pertanyaan itu. Ia tidak ingin membicarakan keputusan Dean atau mengungkap hal-hal pribadi tentang fobianya. ‘Aku tidak nyaman membahas hubungan kami. Kami berteman, itu saja yang bisa aku katakan.’
Audrey menatapnya lebih tajam. ‘Kamu yakin hanya itu?’
Ana mengangkat tasnya dari gantungan. ‘Kalau kamu ingin bicara baik-baik, aku bisa dengar. Tapi aku tidak mau dituduh atau diminta menjelaskan sesuatu yang bukan urusanmu.’
Audrey belum menjawab. Ana berdiri dekat pintu, siap keluar. Ia tidak hendak melarikan diri; ia hanya tidak ingin terjebak dalam percakapan yang membuatnya kehilangan kendali.
‘Besok kita bicara lagi,’ kata Audrey akhirnya. ‘Aku ingin kamu mendengarkan dulu sebelum memutuskan.’
Ana mengangguk tipis. ‘Kalau aku punya waktu dan kamu bicara dengan sopan.’
Ia melangkah keluar. Di koridor, suara mahasiswa kembali terdengar. Ana berjalan menuju ruang baca, mengambil tasnya, lalu kembali ke kelas. Ia tidak menceritakan pertemuan singkat itu kepada Dean. Belum ada tuduhan atau ancaman; baru permintaan bicara yang membuatnya waspada. Ia akan menilai apa yang terjadi besok, tanpa mendahului kenyataan.
Ana kembali ke kelas setelah percakapan itu. Bagas berjalan di sisinya sampai pintu, lalu membiarkannya masuk lebih dulu. Ia tidak meminta Ana duduk di tempat tertentu atau terus menemaninya. Ia hanya memastikan Ana tidak ingin pulang lebih awal.
Ana duduk dan membuka catatan kuliah. Tangannya masih sedikit gemetar, tetapi ia mulai menyalin materi yang tertulis di papan. Dosen menjelaskan tugas kelompok, dan Ana menuliskan tenggatnya. Ia tidak ingin satu percakapan membuat seluruh harinya hilang.
Saat kelas berakhir, ia mengembalikan buku ke tas. Bagas menunggunya di luar. ‘Lo mau cerita sekarang atau nanti?’ tanyanya.
‘Nanti saja. Aku mau menenangkan diri dulu.’
‘Baik.’
Mereka berjalan ke gerbang tanpa membicarakan Audrey. Bagas menghormati pilihannya, dan Ana berterima kasih karena tidak diminta mengulang kata-kata yang baru saja ia dengar. Di halte, Ana naik kendaraan umum menuju kos. Sebelum angkot berangkat, ia mengirim pesan kepada Bagas bahwa ia sudah naik. Ia tidak memberi tahu Dean tentang kejadian itu.
Sepanjang perjalanan, ia mencoba mengingat bahwa tuduhan Audrey bukan kebenaran hanya karena disampaikan dengan percaya diri. Ia tidak pernah merancang serangan panik atau meminta Dean datang sebagai penyelamat. Ketakutannya tetap nyata, terlepas dari apakah orang lain memahaminya.
Sesampainya di kos, ia mandi dan mengganti pakaian. Setelah makan malam, ia membuka buku tugas dan menyelesaikan dua halaman bacaan. Rutinitas kecil itu membantunya kembali merasa bahwa hari masih miliknya. Ia tidak bisa mengatur cara Audrey memandangnya, tetapi ia bisa memilih untuk tidak mengubah dirinya demi mendapat persetujuan Audrey.
Malam itu, Ana menaruh earphone di meja samping ranjang dan mengatur alarm. Ia ingin tidur cukup sebelum kuliah esok hari. Sebelum mematikan lampu, ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa jika Audrey kembali melewati batas, ia akan meminta bantuan tanpa merasa bersalah.
Ia menjaga agar keputusan hari ini tidak hanya lahir dari rasa takut kehilangan. Ia berhak menimbangnya dengan tenang dan memilih yang paling adil bagi dirinya.