Ketika tiba di kos, Ana menyimpan tas lalu duduk beberapa menit di tepi ranjang. Ia mengingat kembali kata-kata yang ia ucapkan kepada Audrey. Suaranya memang sempat bergetar, tetapi ia tetap bisa menyampaikan batasnya. Ia tidak harus membuktikan bahwa dirinya berani dengan berteriak atau membalas tuduhan.
Ana mengirim pesan kepada Bagas bahwa ia sudah sampai. Bagas membalas dengan satu pertanyaan apakah ia perlu menelepon. Ana menjawab tidak, ia hanya ingin beristirahat. Bagas menerima jawabannya tanpa memaksa. Setelah itu Ana mandi, makan sedikit, lalu menyiapkan bahan kuliah esok hari.
Sebelum tidur, ia menaruh ponsel di meja. Ia tidak menghubungi Dean untuk meminta ia membela dirinya. Jika ia memilih bercerita nanti, ia ingin melakukannya karena merasa siap, bukan karena orang lain menuntutnya. Keputusan itu membuatnya sedikit lebih tenang.
Pagi berikutnya, Ana menjalani kuliah seperti biasa. Ia melihat Audrey di koridor setelah jam pertama selesai. Perempuan itu memberi isyarat agar Ana mengikutinya ke toilet. Ana sempat ragu, tetapi ia teringat bahwa Audrey ingin melanjutkan pembicaraan yang tertunda. Ia memilih mendengarkan sebentar, sambil menjaga jarak dan memastikan pintu tidak terkunci.
Audrey tidak menunggu lama untuk memulai pembicaraan. ‘Aku mau tahu apa kamu memakai fobia itu supaya Dean terus memperhatikanmu.’
Ana membeku sejenak. Ia menarik napas, berusaha menjaga suaranya tetap stabil. ‘Jangan bicara seolah kamu tahu yang aku alami.’
‘Aku cuma melihat apa yang terjadi. Setiap hujan turun, Dean datang menolongmu.’
‘Itu bukan berarti aku merencanakannya.’
Audrey mengangkat dagu. ‘Kamu tahu dia pernah jadi pacarku. Keluarga kami dekat. Kamu baru mengenalnya, tapi sekarang dia selalu ada untukmu.’
Ana merasakan panas menjalar ke wajahnya. Ia tidak suka dituduh memanfaatkan ketakutannya, tetapi ia tidak ingin membalas dengan menceritakan hal-hal yang belum siap ia bagikan. ‘Aku tahu kalian punya masa lalu. Tapi kamu tidak berhak menyimpulkan bahwa aku berpura-pura.’
‘Kalau memang bukan begitu, kenapa kamu selalu membiarkan dia menjemputmu?’
‘Aku tidak selalu membiarkannya. Aku pernah menolak. Dan sekarang dia bertanya dulu sebelum menawarkan bantuan.’
Audrey tertawa pendek. ‘Kamu membuatnya terdengar seolah dia berubah demi kamu.’
‘Aku enggak bilang begitu. Aku hanya menjelaskan apa yang terjadi.’
Ana menjaga jarak, berdiri dekat pintu. Ia tidak ingin memperpanjang pertengkaran. ‘Aku tidak akan membahas fobiaku denganmu. Itu hal pribadi. Kalau kamu punya masalah dengan Dean, selesaikan dengannya.’
Audrey menggeleng, tidak puas. ‘Kamu tetap tidak menjawab.’
‘Aku sudah menjawab bahwa tuduhanmu salah. Aku tidak memakai rasa takut untuk menarik perhatian siapa pun.’
Pintu terbuka dan seorang mahasiswi masuk. Bagas berdiri di koridor, melihat wajah Ana yang pucat dan bertanya dari ambang pintu, ‘An, lo mau keluar?’
Ana mengangguk. ‘Iya.’
Bagas memberi ruang agar Ana lewat lebih dulu. Ia tidak menarik atau menyentuhnya tanpa persetujuan. Mereka berjalan menjauh dari toilet, meninggalkan Audrey di dalam. Ana merasa lega bisa keluar tanpa membuat adegan lebih besar. Ia tidak membanting pintu dan tidak membalas dengan hinaan. Ia hanya menjaga batasnya.
Bagas memperlambat langkah ketika mereka sampai di ujung koridor. ‘Audrey ngomong apa?’
Ana menatap lantai sejenak. ‘Dia tanya apa aku memakai fobia supaya Dean memperhatikanku.’
Rahang Bagas mengeras. ‘Dia berhak tahu apa yang lo alami?’
‘Tidak.’
‘Lo mau gue temenin kalau dia masih ganggu?’
Ana mengangguk. ‘Tapi jangan bertengkar sama dia. Aku bisa menghadapi percakapan seperti tadi.’
‘Gue enggak akan cari ribut. Tapi gue juga enggak akan membiarkan dia menekan lo sendirian.’
Mereka duduk di bangku dekat gedung sebelum kelas berikutnya dimulai. Ana menarik napas dan berusaha mengendurkan jari-jarinya yang sejak tadi menggenggam tali tas. Bagas tidak menyuruhnya melupakan kejadian itu. Ia hanya duduk di sampingnya, memberi waktu sampai Ana siap berbicara.
‘Aku tidak pernah minta Dean datang setiap kali hujan,’ kata Ana setelah beberapa saat. ‘Awalnya dia sendiri yang memutuskan mengantar. Aku juga sempat bilang tidak perlu.’
‘Gue tahu.’
‘Aku enggak mau orang menganggap ketakutanku alat untuk membuat dia merasa kasihan.’
‘Orang yang enggak tahu cerita lengkap memang bisa salah menilai. Tapi itu enggak bikin mereka berhak menuduh.’
Ana mengangguk. Bagas tidak menanyakan alasan fobianya. Ia sudah mengetahui bahwa ada rahasia lain yang belum siap Ana buka, dan ia tidak memanfaatkan pengetahuan itu untuk meminta penjelasan.
‘Kamu jangan bilang ke Dean dulu,’ ujar Ana.
‘Lo yakin?’
‘Aku ingin menyelesaikan ini tanpa membuatnya merasa harus membela aku setiap saat. Kalau Audrey menggangguku lagi atau menyebarkan cerita, baru aku akan bicara.’
Bagas menerima keputusan itu. ‘Oke. Tapi jangan menanggung semuanya sendirian.’
‘Aku akan bilang kalau sudah tidak sanggup.’
Mereka masuk kelas ketika dosen tiba. Ana berusaha mengikuti materi, meskipun beberapa kali pikirannya kembali pada tuduhan Audrey. Ia merasa marah, tetapi lebih besar daripada itu adalah rasa sedih karena seseorang menganggap ketakutannya dibuat-buat. Ia menuliskan catatan kuliah agar tetap fokus.
Usai kelas, Ana bertemu Dean di dekat gedung BEM. Dean sedang membawa beberapa dokumen seminar. Ia melihat Ana dan menyapa seperti biasa.
‘An, jadwal latihan pertama sudah keluar. Gue kirim ke chat lo nanti.’
‘Baik. Terima kasih.’
Dean memperhatikan wajahnya yang tampak lebih serius dari biasanya. ‘Lo baik-baik saja?’
Ana ragu. Ia bisa menceritakan kejadian di toilet, tetapi belum ingin membuatnya menjadi urusan Dean. ‘Aku cuma capek setelah kelas.’
Dean mengangguk. ‘Kalau lo butuh istirahat, latihan bisa menunggu. Enggak harus mulai hari ini.’
‘Aku tahu. Aku akan kabari kalau butuh mengubah jadwal.’
‘Oke.’ Dean tidak bertanya lebih jauh. Ia kembali ke ruang BEM setelah pamit, sementara Ana berjalan ke gerbang kampus bersama Bagas.
Di perjalanan pulang, Ana memikirkan pilihannya. Ia tidak berbohong tentang Audrey; ia hanya belum menceritakan semua hal kepada Dean. Untuk sekarang, ia ingin menjaga ruang pribadinya dan tidak membiarkan orang lain memutuskan kapan ia harus meminta pertolongan.
Sesudah itu, ia mengalihkan perhatian pada hal yang benar-benar dapat dikerjakan. Langkah kecil yang jelas jauh lebih berguna daripada kekhawatiran yang berputar tanpa arah.