Sejak percakapan dengan Audrey di toilet, Ana lebih berhati-hati ketika melewati koridor yang sepi. Ia tidak takut pada Audrey, tetapi ia tidak ingin terjebak lagi dalam pembicaraan yang membuatnya harus menjelaskan hal pribadi. Ia tetap menyapa orang-orang yang dikenalnya dan tidak mengubah jadwal kuliah.
Bagas memastikan Ana baik-baik saja tanpa terus menanyakan detail. Mereka mengerjakan tugas bersama di perpustakaan. Sesekali Bagas membacakan satu paragraf dari catatannya, sementara Ana memeriksa referensi. Kehadiran Bagas membuat suasana terasa biasa lagi.
‘Lo enggak perlu cerita ke Dean kalau belum mau,’ kata Bagas ketika mereka beristirahat.
‘Aku tahu. Tapi aku juga enggak ingin menyimpan semuanya sampai jadi beban.’
‘Kalau nanti lo siap, cerita. Kalau belum, lo boleh fokus ke tugas dulu.’
Ana mengangguk. Ia menyukai cara Bagas tidak memaksanya memilih sekarang. Ia menutup buku dan meminum air, mencoba membiarkan pikirannya kembali pada pekerjaan yang sedang mereka selesaikan.
Beberapa hari berikutnya berjalan lebih tenang. Audrey tidak menghampirinya lagi, dan Ana tidak melihatnya di toilet. Dean mengirim informasi tentang jadwal seminar, sementara Ana membalas seperlunya. Mereka berbicara tentang ruangan latihan, waktu, dan daftar kebutuhan acara. Tidak ada pertanyaan tentang hujan atau kejadian di kampus.
Ana menghargai jarak yang diberikan Dean. Ia tidak merasa harus menceritakan masalah Audrey hanya agar Dean membelanya. Jika tuduhan itu berulang atau berubah menjadi gangguan, ia akan meminta bantuan. Untuk saat ini, ia ingin menyelesaikan tugas kuliahnya dan menyiapkan diri untuk seminar.
Di sela kelas, ia mulai berlatih membaca tugasnya dengan suara lantang. Ia memilih beberapa paragraf, membacanya sekali, lalu mengulang bagian yang terdengar terburu-buru. Ia tidak membayangkan panggung besar. Ia hanya melatih suaranya sendiri agar terbiasa terdengar di ruangan.
Bagas membantunya mengecek pelafalan satu kata yang sulit. Setelah itu ia tidak memaksa Ana membaca lebih banyak. ‘Cukup dulu. Lo masih punya waktu,’ katanya.
‘Aku takut nanti suaraku hilang waktu di depan banyak orang.’
‘Kalau begitu kita latihan lagi nanti. Enggak harus selesai hari ini.’
Ana tersenyum kecil. Ia menyimpan catatan ke dalam tas dan berterima kasih. Mereka berjalan ke kelas berikutnya bersama-sama. Bagas tidak menyebut rahasia Eidelweiss, dan Ana merasa lega karena hubungan mereka tidak berubah menjadi percakapan tentang satu hal itu saja.
Hari itu Ana sempat bertemu Dean di depan ruang BEM. Dean sedang membawa beberapa lembar jadwal latihan dan menyapanya lebih dulu.
‘Lo sempat lihat jadwal yang gue kirim?’ tanyanya.
‘Sudah. Waktunya cocok.’
‘Kalau nanti ada perubahan kelas, kabari. Enggak harus memaksakan diri datang.’
‘Aku akan bilang kalau ada yang bentrok.’
Dean mengangguk dan tidak bertanya lebih jauh. Ia kembali ke ruang panitia, sementara Ana berjalan ke perpustakaan. Pertemuan itu terasa biasa, tetapi Ana merasa lega karena tidak harus membicarakan Audrey. Ia belum ingin mengubah masalah itu menjadi urusan Dean.
Di perpustakaan, ia mencari buku yang diperlukan untuk tugas sastra. Ia mencatat nomor rak, membawa buku ke meja, dan membaca bagian yang ditugaskan Miss Diana. Setelah beberapa halaman, ia membuat ringkasan dengan kalimat sendiri. Ia berusaha memberi perhatian penuh pada pekerjaan itu, bukan pada dugaan tentang apa yang mungkin dipikirkan Dean atau Audrey.
Bagas datang menjelang tengah hari dan duduk di seberangnya. Ia membawa catatan kuliah yang Ana pinjamkan sebelumnya. ‘Ini gue balikin. Gue sudah salin bagian yang kurang.’
Ana menerima buku itu. ‘Terima kasih. Kamu sudah selesai kelas?’
‘Belum. Ada tambahan satu jam nanti.’ Bagas melihat buku yang sedang dibaca Ana. ‘Lo lagi cari referensi?’
‘Iya. Untuk tugas Miss Diana.’
Mereka berbicara tentang tugas beberapa menit. Bagas tidak kembali menyinggung percakapan dengan Audrey, meski ia sempat bertanya apakah Ana masih merasa terganggu. Ana menjawab bahwa ia baik-baik saja untuk saat ini. Bagas menerima jawaban itu dan mengalihkan pembicaraan ke jadwal kuliah.
Ana menyukai cara Bagas membiarkannya menentukan kapan sebuah cerita perlu dibahas. Ia tahu sahabatnya menyimpan perasaan yang rumit, tetapi Bagas tidak menggunakan itu untuk menuntut kepercayaan atau kedekatan. Mereka bisa duduk bersama tanpa setiap jeda berubah menjadi pertanyaan.
Ketika waktu kelas Bagas tiba, ia berdiri dan merapikan buku. ‘Gue masuk dulu. Nanti kalau lo mau makan bareng, kabari.’
‘Aku makan nanti. Kamu jangan lupa makan juga.’
Bagas tersenyum dan berjalan pergi. Ana kembali ke bacaannya, menandai dua paragraf yang perlu ia kutip untuk tugas. Ia kemudian menyalin nomor halaman ke catatan kecil agar mudah ditemukan lagi. Pekerjaan sederhana itu membantu pikirannya tetap terarah.
Menjelang siang, Bagas mendapat kelas tambahan. Ana punya jeda lebih panjang dan memilih makan di kantin Sastra. Ia membawa kotak makan, duduk dekat jendela, lalu membaca catatan di ponselnya. Tempat itu ramai tetapi tidak sesak. Ia bisa melihat orang-orang keluar masuk tanpa harus ikut percakapan mereka.
Ia memilih meja itu karena bisa melihat halaman kampus dari jendela. Udara siang terasa hangat, dan kantin dipenuhi suara piring serta obrolan mahasiswa. Ana menaruh ponsel di samping buku, lalu memeriksa kembali catatan kuliah sebelum mulai makan.
Ia tidak sedang menunggu siapa pun. Bagas sudah mengatakan akan mengikuti kelas tambahan, dan Ana tidak ingin mengganggunya. Ia hanya ingin menghabiskan jeda dengan tenang sebelum kembali ke kelas. Saat langkah seseorang berhenti di dekat mejanya, Ana mengira mungkin mahasiswa lain mencari kursi kosong.
Ana baru saja membuka kotak makan ketika seseorang berhenti di samping mejanya. Ia mendengar suara perempuan itu bertanya apakah kursi di depannya kosong.
Ana mengangkat wajah dan mengenali Adeline dari rumah Dean.
‘Boleh duduk?’ tanya Adeline.
Ana memandang kursi kosong itu, lalu kembali menatap Adeline. Ia sempat terkejut melihat mantan Dean datang ke kantin Sastra, tetapi ia mengingatkan diri agar tidak langsung menilai maksudnya. Ia menggeser kotak makan dan memberi ruang di meja.
Ia menerima bahwa proses ini mungkin tidak segera dipahami semua orang. Namun, ia tidak lagi membutuhkan persetujuan mereka untuk menghargai keputusan yang sudah dipikirkan matang-matang.