Ana mempersilakan Adeline duduk, tetapi tetap meletakkan ponselnya di samping kotak makan. Ia tidak tahu mengapa perempuan itu datang ke kantin Sastra, namun ia memilih mendengarkan sebelum membuat kesimpulan.
‘Ada perlu apa?’ tanya Ana.
Adeline menarik kursi. ‘Aku cuma ingin bicara sebentar.’
‘Kalau soal Dean, aku tidak bisa mewakili dia.’
‘Aku bukan mau bicara dengannya. Aku mau bicara dengan kamu.’
Ana menaruh sendok. ‘Silakan.’
Adeline menarik napas, lalu menatap Ana lurus-lurus. ‘Keluarga Dean sudah lama menganggap aku calon menantu mereka. Kami tumbuh sebagai tetangga. Orang tua kami dekat. Aku tahu hubunganku dengan Dean sudah berubah, tapi keluarga kami tetap punya ikatan.’
Ana tidak segera menjawab. Ia tahu Adeline dan Dean pernah berpacaran, tetapi ia tidak tahu bagaimana keluarga mereka memandang hubungan itu. Kata calon menantu terasa berat, seolah Ana sedang berdiri di luar sebuah keluarga yang sudah memiliki tempat untuk orang lain.
‘Aku mengerti kalian punya sejarah,’ kata Ana. ‘Tapi keputusan Dean dan keluarganya bukan tanggung jawabku.’
‘Aku tidak menyuruh kamu bertanggung jawab.’ Adeline melipat tangan di atas meja. ‘Aku hanya minta kamu menjauh darinya.’
Ana menatapnya. ‘Kenapa kamu tidak meminta itu kepada Dean?’
‘Karena dia tidak mau mendengar aku.’
‘Kalau begitu, mungkin kamu perlu menghormati jawabannya.’
Adeline terdiam sejenak. ‘Kamu baru mengenalnya. Kamu tidak tahu bagaimana hubungan kami dulu.’
‘Memang. Tapi aku juga tidak berhak menentukan dengan siapa dia harus berteman.’
‘Kamu menyukainya?’
Pertanyaan itu membuat Ana kehilangan kata-kata selama beberapa detik. Ia tidak ingin berbohong, tetapi ia juga tidak ingin mengungkap perasaan yang belum pernah ia sampaikan kepada Dean.
‘Aku tidak akan membahas perasaan pribadiku denganmu.’
Adeline tersenyum getir. ‘Itu sudah cukup jadi jawaban.’
Ana mengemasi kotak makan. ‘Aku harus masuk kelas.’
‘Aku hanya ingin kamu tahu posisiku.’
‘Aku sudah tahu. Tapi aku tidak bisa menjanjikan akan menjauhi Dean hanya karena kamu memintanya.’ Ana berdiri. ‘Kalau Dean sendiri meminta jarak, aku akan menghormatinya.’
Adeline tidak menahan Ana. Ia tetap duduk ketika Ana membawa barang-barangnya dan meninggalkan kantin. Ana melangkah cepat ke koridor, tetapi ia tidak berlari. Ia menolak membiarkan percakapan itu menguasai seluruh harinya.
Sepanjang kuliah sore, Ana berusaha memperhatikan dosen. Namun kata-kata Adeline kembali muncul di pikirannya: keluarga Dean sudah lama menganggapnya calon menantu. Ana tidak tahu apakah ucapan itu masih berlaku atau hanya harapan Adeline. Ia juga tidak tahu seberapa dekat keluarga mereka dahulu.
Ia tidak ingin menanyakan hal itu kepada Dean. Jika Dean mau bercerita, ia akan mendengarkan. Tetapi meminta penjelasan karena takut kehilangan seseorang yang bahkan belum menjadi miliknya terasa tidak adil. Ana berkali-kali mengingatkan diri bahwa ia dan Dean baru berteman.
Setelah kelas selesai, ia berjalan ke halte sendiri. Bagas sedang ada kelas, dan Ana tidak ingin mengganggunya hanya karena percakapan di kantin. Ia naik angkot, duduk dekat jendela, dan melihat kampus menjauh di balik kaca.
Di kos, Ana menyimpan tas dan mencuci tangan. Ia mencoba makan malam, tetapi hanya beberapa suap yang masuk. Ia lalu membuka ponsel untuk mencari foto yang pernah dikirim Dean: foto keluarga di ruang tamu rumahnya, dengan Mama, Papa, Dea, dan Dean berdiri berdekatan.
Ana menatap foto itu lama. Ia ingat saat pertama kali melihatnya dan merasa hangat karena Dean memperkenalkan keluarganya lewat cerita kecil. Kini foto yang sama terasa seperti pengingat bahwa ada bagian dari hidup Dean yang telah lama terhubung dengan Adeline.
Ia memperbesar gambar, lalu segera mengecilkannya lagi. Ana tidak berhak menyimpulkan bahwa keluarga Dean menginginkan Adeline kembali. Ia hanya mendengar ucapan Adeline, yang bisa saja bercampur dengan harapan dan rasa sakitnya sendiri.
Ponselnya bergetar. Dean mengirim jadwal latihan seminar.
Deanova : Ini jadwal awal. Kalau ada bentrok sama kelas lo, kasih tahu. Kita bisa atur lagi.
Ana ingin menjawab seperti biasa, tetapi pikirannya penuh. Ia mengetik bahwa jadwalnya cocok, lalu menghapusnya. Ia tidak mau membuat Dean merasa bersalah atas sesuatu yang tidak ia lakukan.
Ana : Aku sudah lihat. Jadwalnya cocok. Terima kasih sudah mengirim.
Deanova : Oke. Lo baik-baik aja?
Ana terdiam. Ia bisa mengatakan ya dan mengakhiri percakapan. Namun ia teringat bahwa dirinya berhak punya batas, dan Dean juga berhak tahu jika ada hal yang memengaruhi urusan seminar.
Ana : Aku baik. Hari ini agak banyak pikiran, tapi bukan karena jadwal latihan.
Deanova : Lo mau cerita?
Ana : Belum. Nanti kalau aku sudah siap.
Deanova : Oke. Gue tunggu. Enggak perlu buru-buru.
Jawaban itu membuat Ana mengembuskan napas. Ia menyimpan ponsel dan kembali menatap foto keluarga tersebut. Ucapan Adeline tetap menyakitkan, tetapi Ana tidak perlu mengambil keputusan malam ini. Ia tidak akan menghindari Dean hanya karena permintaan mantannya. Ia juga tidak akan memaksa dirinya menjadi lebih dekat demi membuktikan sesuatu.
Ana mengirim pesan kepada Bagas bahwa ia sudah sampai di kos. Bagas bertanya apakah ia ingin ditemani bicara. Ana menjawab bahwa ia belum ingin mengulang percakapan di kantin, tetapi mungkin akan bercerita nanti. Bagas membalas bahwa ia siap mendengarkan kapan pun Ana memilih.
Ana menutup foto dan meletakkan ponsel. Ia tidak ingin tidur dengan pikiran bahwa dirinya harus bersaing dengan Adeline. Dean bukan hadiah yang dapat dimenangkan, dan Ana tidak berniat menjadikan hubungan mereka sebagai perlombaan. Ia bisa menyukai Dean tanpa menuntutnya memilih atau membuktikan apa pun.
Namun ia juga tidak akan berpura-pura bahwa ucapan Adeline tidak melukainya. Bagian paling sulit adalah membayangkan bahwa keluarga Dean mungkin lebih menyukai Adeline karena telah lama mengenalnya. Ana belum pernah bertemu mereka sebagai seseorang yang dekat dengan Dean. Ia hanya datang sebagai teman, lalu melihat kehangatan Mama dan Papa dari jarak yang wajar.
Ia mengingatkan diri bahwa belum ada fakta yang membuktikan Adeline berbicara atas nama keluarga Dean. Dean sendiri perlu menyelesaikan masa lalunya. Ana tidak akan mengambil keputusan atas nama siapa pun. Ia hanya dapat menjaga sikap, menghormati batas, dan berkata jujur jika suatu hari Dean bertanya.
Sebelum tidur, Ana menyiapkan buku kuliah untuk esok hari dan menulis satu kalimat di catatan pribadinya: ‘Jangan membuat keputusan untuk orang lain sebelum mereka sendiri bicara.’ Ia menutup buku, memasang alarm, dan mematikan lampu. Besok ia akan kembali ke kampus seperti biasa, tanpa memaksa dirinya melupakan perasaan yang muncul dan tanpa membiarkan rasa takut menentukan langkahnya.