Pagi setelah percakapan dengan Adeline, Ana bangun dengan pikiran yang belum sepenuhnya tenang. Ia tetap bersiap ke kampus seperti biasa: mandi, merapikan rambut, memasukkan buku ke dalam tas, lalu memeriksa cuaca melalui jendela kamar kos. Langit mendung, tetapi belum ada tanda hujan. Ia tidak mau membatalkan hari hanya karena semalam memikirkan hubungan Dean dan Adeline.
Di halte, Ana berdiri bersama beberapa mahasiswa lain. Ia mengirim pesan singkat kepada Bagas, sekadar memberi tahu bahwa ia sudah berangkat. Bagas membalas dengan stiker jempol dan mengingatkannya agar makan siang. Pesan sederhana itu membuat Ana tersenyum. Ia tidak menceritakan pertemuannya dengan Adeline. Belum sekarang.
Kuliah pagi berlalu tanpa gangguan. Saat istirahat, ponselnya bergetar. Dean mengirim pengingat jadwal latihan seminar yang akan dimulai pekan depan. Ana membaca pesan itu, lalu menatap kursi kosong di seberang meja kantin. Ia ingin membalas seperti biasa, tetapi ucapan Adeline kembali terlintas: keluarga Dean sudah lama menganggapnya calon menantu.
Ana tidak tahu apakah perkataan itu benar-benar mewakili keluarga Dean. Ia juga tidak tahu apakah Dean masih memiliki perasaan terhadap Adeline. Yang ia tahu, ia tak ingin membuat alasan yang membatasi persahabatan mereka. Ia hanya perlu memberi dirinya waktu untuk memahami apa yang dirasakannya.
Deanova : Nanti sore gue bisa antar lo pulang kalau kelas lo selesai jam empat.
Ana membaca pesan itu beberapa kali. Selama ini Dean sering menawarkan tumpangan, dan ia selalu berusaha memastikan dirinya sendiri nyaman sebelum menerima. Hari ini ia ingin pulang sendiri. Bukan untuk menghukum Dean atau menuruti Adeline, melainkan untuk membuktikan bahwa ia tetap bisa menentukan pilihannya tanpa menjelaskan seluruh alasan kepada siapa pun.
Ana : Sore ini aku pulang sendiri naik angkot, ya. Ada kerja kelompok setelah kelas.
Ia merasa bersalah karena alasan itu tidak sepenuhnya benar. Tak ada kerja kelompok yang dijadwalkan. Namun ia belum siap mengatakan bahwa ucapan Adeline membuat pikirannya kusut dan ia ingin berjalan pulang sendiri. Ia menekan kirim sebelum sempat menghapusnya.
Deanova : Oke. Kabarin kalau udah sampai.
Jawaban Dean sederhana, tanpa desakan atau pertanyaan tambahan. Ana mengembuskan napas. Ia tidak perlu menyusun alasan lain. Setidaknya untuk sore ini, Dean menerima pilihannya.
Sepanjang siang, Ana mengikuti kelas dengan serius. Ia mencatat materi dan berdiskusi dengan teman sebangku tentang tugas yang benar-benar harus dikumpulkan pekan depan. Pikirannya sesekali kembali pada pesan Dean, tetapi tidak lagi terasa sesak. Ia memutuskan tidak akan mengubah hubungan mereka hanya berdasarkan permintaan Adeline. Jika Dean ingin menjaga jarak, biar Dean sendiri yang mengatakannya.
Kelas berakhir menjelang sore. Ana mengirim pesan kepada Dean bahwa ia sudah keluar dari gedung. Setelah itu ia berjalan ke halte angkot. Awan semakin pekat, menutupi cahaya matahari. Ia memeriksa ponsel, tetapi tidak ada pesan baru dari Dean. Ia menyimpan perangkat itu dan naik ke angkot yang berhenti di tepi jalan.
Kendaraan berjalan pelan menembus lalu lintas. Ana duduk dekat jendela, memeluk tasnya di pangkuan. Gerimis mulai turun, titik-titik air membentuk garis di kaca. Ia mengambil earphone dari tas, namun berhenti sebelum memasangnya. Ia ingin mencoba menenangkan diri tanpa menutup diri dari keadaan di sekelilingnya.
Hujan bertambah deras ketika angkot melewati persimpangan besar. Penumpang mulai gelisah; beberapa meminta turun lebih awal karena jalanan padat. Sopir menghentikan kendaraan di dekat halte yang beratap kecil. Ana ikut turun bersama dua orang lain. Ia berniat menunggu hujan reda sebelum melanjutkan perjalanan.
Begitu menginjak trotoar, suara hujan terasa jauh lebih keras. Air memukul atap halte, jalan, dan kendaraan yang lewat. Ana membeku. Jari-jarinya menggenggam tali tas, sementara napasnya berubah pendek. Ia mencoba mengingat bahwa dirinya sedang berada di halte, bukan di tempat lain. Ia sudah dewasa. Ia aman. Hanya hujan.
Namun kalimat itu tak cukup untuk menahan tubuhnya. Pandangannya mulai kabur di tepi, suara kendaraan terdengar seperti datang dari lorong panjang. Ana meraba ponsel di dalam tas. Ia ingin menelepon seseorang, tetapi tangannya gemetar dan pikirannya sulit menyusun kata.
Ia sempat membuka layar percakapan dengan Dean. Jempolnya berhenti di atas kolom pesan. Ia ingin menulis bahwa dirinya tidak baik-baik saja, tetapi takut membuat Dean merasa ia sedang menagih bantuan setelah memilih pulang sendiri. Hujan terus turun. Ana bersandar pada tiang halte, lalu lututnya melemas.
Ia mencoba duduk di bangku, tetapi tubuhnya kehilangan tenaga sebelum sempat menjangkaunya. Tasnya terlepas dari bahu. Suara seseorang memanggil dari dekat, lalu pandangan Ana tenggelam dalam gelap.
Saat kesadarannya memudar, Ana masih bisa mendengar bunyi hujan bertalu-talu di atas halte. Ia tak sempat mengirim pesan atau meminta tolong. Pikirannya hanya menangkap kilasan lampu kendaraan dan suara orang-orang yang bergerak mendekat. Setelah itu, semuanya terasa jauh. Hujan tetap jatuh, tetapi ia tak lagi mampu membedakan suara-suara di sekitarnya.
Saat seorang teman bertanya apakah Ana dan Dean memang sering pulang bersama, Ana menjawab bahwa kadang-kadang mereka kebetulan searah. Ia tidak ingin membuat cerita dari kebiasaan sederhana itu. Temannya mengangkat alis, seolah mengharapkan jawaban lain, tetapi Ana hanya tersenyum dan mengalihkan pembicaraan ke tugas kuliah.
Menjelang kelas terakhir, dosen memberi pengumuman tentang perubahan jadwal diskusi. Ana mencatatnya dengan teliti. Ia memilih tetap menjalani harinya seperti biasa, meski satu bagian pikirannya terus menguji keputusan untuk pulang sendiri. Ia tahu keputusan itu bukan penolakan terhadap Dean. Itu hanya pilihannya hari ini.
Ketika bel kelas berbunyi, Ana merapikan buku perlahan. Beberapa mahasiswa masih berbincang di lorong, membicarakan rencana akhir pekan. Ana mengucapkan sampai jumpa kepada teman sekelasnya dan berjalan ke luar gedung. Udara lembap menyambutnya. Ia menatap langit sejenak, lalu memilih jalur menuju halte yang paling ramai.
Di sana, ia berdiri di bawah papan rute, membaca nomor angkot yang akan membawanya mendekati kos. Ia memastikan ponselnya memiliki baterai dan memasukkan kembali earphone ke dalam tas, bukan telinga. Hujan belum turun, dan ia merasa mampu menangani perjalanan itu sendiri. Ia mengirim pesan kepada Dean bahwa kelasnya selesai, tetapi tidak menambahkan apa-apa lagi.