Menjelang petang, Dean menyelesaikan rapat panitia seminar di gedung FK. Ia memasukkan beberapa berkas ke dalam map dan memeriksa jam. Ana biasanya sudah tiba di kos pada waktu itu. Ia teringat pesannya sendiri—kabarin kalau sudah sampai—dan membuka percakapan mereka.
Pesan terakhir Ana hanya mengatakan bahwa ia sudah keluar dari gedung. Belum ada kabar bahwa ia sudah tiba. Dean menunggu beberapa menit sambil membereskan meja rapat. Ia tidak ingin mengubah kesepakatan mereka menjadi tuntutan. Ana memilih pulang sendiri, dan ia sudah berjanji akan menghormatinya.
Namun hujan di luar semakin deras. Dean memandang kaca jendela, lalu kembali menatap ponsel. Ia mengirim pesan singkat.
Deanova : Hujannya deras. Lo aman?
Pesan itu terkirim, tetapi tidak dibalas. Dean menghubungi Ana lewat panggilan. Nada sambung terdengar sampai terputus sendiri. Ia mencoba sekali lagi, lalu berhenti. Ana bisa saja sedang berada di kendaraan dan tidak bisa menjawab. Ia tidak ingin menelepon berkali-kali hingga membuatnya tertekan.
Satu jam lewat dari waktu Ana biasanya sampai kos. Dean mengirim pesan lagi. Tetap tidak ada jawaban. Ia mulai gelisah. Bukan karena Ana menolak tumpangannya, melainkan karena hujan dan belum adanya kabar. Ia mengambil kunci mobil dan memberi tahu Gus bahwa ia harus pergi mencari Ana.
‘Lo tahu jalur angkotnya?’ tanya Gus, ikut berdiri.
‘Gue tahu halte yang biasa dia lewati. Gue coba susuri.’
Gus mengangguk, lalu menawarkan ikut. Dean menerima tawaran itu. Mereka keluar gedung dan bergegas menuju mobil. Hujan mengguyur kaca depan dengan deras. Dean mengemudi perlahan, memeriksa halte-halte di sepanjang jalur yang mungkin dilalui Ana. Ia tidak ingin membuat keadaan lebih berbahaya dengan mengemudi terburu-buru.
Di halte pertama, beberapa penumpang masih menunggu angkot. Ana tidak ada. Mereka melanjutkan perjalanan ke halte berikutnya. Gus mengamati sisi jalan, sementara Dean beberapa kali mencoba menghubungi Ana. Panggilan itu tak terjawab.
‘Mungkin dia sudah berteduh di toko atau pulang lewat jalur lain,’ kata Gus, mencoba menenangkan.
‘Bisa jadi. Tapi gue tetap mau pastikan.’
Dean mengucapkannya tanpa marah. Ia tahu Ana mampu membuat keputusan sendiri. Ia hanya ingin tahu bahwa gadis itu tidak sedang membutuhkan bantuan sendirian.
Saat mereka mendekati halte kecil di dekat persimpangan, Gus menunjuk sosok yang duduk membungkuk di bangku. Sebuah tas tergeletak di lantai, sebagian terkena cipratan air. Dean segera menepikan mobil dan turun, tak peduli jaketnya langsung basah.
‘Ana!’ panggilnya.
Tidak ada jawaban. Dean berlari mendekat. Seorang perempuan yang berteduh di sisi halte menjelaskan bahwa Ana sempat berdiri gemetar, lalu pingsan. Ia sudah membantu memindahkan Ana ke bangku dan melindungi tasnya dari hujan.
Dean berlutut di hadapan Ana. Wajahnya pucat, rambutnya basah di pelipis. Ia memanggil namanya lagi dengan suara yang lebih pelan. Ana tidak membuka mata.
‘Gus, ambil tasnya. Gue bawa dia ke klinik kampus.’
Dean memastikan Ana terangkat dengan aman. Dalam keadaan sadar, ia akan bertanya dan menunggu persetujuannya sebelum menyentuh atau menggendongnya. Kali ini Ana tidak sadar, dan keselamatan menjadi yang utama. Ia mengangkatnya hati-hati, menjaga kepala dan bahunya, lalu membawa Ana menuju mobil.
Gus membuka pintu belakang. Dean membaringkan Ana di kursi dengan perlahan dan menyelimutinya menggunakan jaket kering yang ada di mobil. Gus duduk di sampingnya untuk memastikan Ana tidak tergelincir. Dean kembali ke kursi pengemudi dan menghubungi klinik kampus melalui nomor yang tersimpan di ponselnya.
‘Kami menuju ke sana. Seorang mahasiswi pingsan di halte saat hujan,’ katanya singkat.
Perjalanan terasa panjang meski klinik tidak jauh. Dean memeriksa kaca spion, lalu jalan, berusaha tetap tenang. Gus sesekali memanggil Ana, tetapi belum ada respons. Dean tidak menyentuh ponsel Ana. Ia meletakkan tasnya di kursi samping dan meminta Gus mengawasi keadaan, bukan mencari isi tas.
Ketika mereka tiba, petugas klinik sudah menunggu. Gus membantu membuka pintu belakang, sementara Dean menjelaskan apa yang mereka tahu kepada petugas. Ana dibawa masuk dengan tandu dorong. Dean mengikuti sampai ruang pemeriksaan, tetapi berhenti di depan pintu saat petugas meminta ruang untuk memeriksanya.
Ia berdiri di lorong dengan lengan baju basah dan tangan yang belum berhenti gemetar. Hujan di luar masih terdengar, tetapi kini ia hanya memikirkan satu hal: Ana harus sadar dan baik-baik saja.
Di klinik, Dean memberikan nama Ana kepada petugas dan menjelaskan apa yang ia ketahui tanpa mencoba menebak penyebab pingsannya. Ia menyebutkan bahwa Ana kehilangan kesadaran di halte saat hujan, lalu membiarkan petugas mengajukan pertanyaan. Ketika mereka meminta ruang untuk memeriksa Ana, Dean mundur ke lorong.
Gus mengambil tas Ana dan meletakkannya di kursi kering. Ia memastikan ponsel tetap di saku luar, tidak membuka apa pun. Dean mengirim pesan kepada panitia bahwa mereka terlambat kembali, tanpa menjelaskan urusan pribadi Ana. Setelah itu ia menyimpan ponsel dan duduk.
‘Lo sudah cari dia begitu lewat satu jam,’ kata Gus. ‘Sekarang biarkan petugas bekerja.’
Dean mengangguk. Ia tahu itu benar. Ia telah menemukan Ana dan membawanya ke tempat yang aman; selebihnya bukan sesuatu yang bisa ia kendalikan. Namun tiap kali pintu ruang pemeriksaan bergerak, ia tetap mengangkat kepala. Baju yang basah mulai terasa dingin, tetapi ia tidak peduli. Satu-satunya kabar yang ia tunggu adalah Ana sudah sadar.
Gus menawarkan untuk menghubungi keluarga Dean, tetapi Dean memilih menunggu hasil pemeriksaan awal sebelum memberi kabar. Ia tidak ingin menyampaikan dugaan yang belum pasti. Mereka duduk berdampingan dalam diam, mendengarkan suara hujan yang makin pelan di luar klinik.
Tak lama kemudian, perawat memberi tahu bahwa pemeriksaan masih berlangsung dan meminta mereka bersabar. Dean mengucapkan terima kasih. Ia tidak bertanya berulang kali atau mencoba masuk. Ia kembali duduk, menahan keinginan untuk melakukan sesuatu hanya agar rasa cemasnya berkurang.
Di seberang lorong, jam dinding terus bergerak. Dean menghitung menit tanpa sadar, lalu memaksa dirinya berhenti. Ia tidak bisa mempercepat pemeriksaan dengan menatap pintu.