Petugas klinik menutup pintu ruang pemeriksaan. Dean tetap berdiri di lorong, menatap gagang pintu seolah dengan begitu ia bisa memastikan Ana tidak sendirian. Gus berdiri beberapa langkah darinya sambil memegang tas Ana. Ia tidak bertanya macam-macam. Keduanya menunggu petugas menyampaikan kabar.
‘Dia bakal baik-baik saja,’ kata Gus akhirnya.
Dean mengangguk, tetapi tidak menjawab. Ia masih mengingat tubuh Ana yang lemas di halte, juga pesan terakhirnya yang tak pernah dibalas. Ia tahu ia sudah melakukan hal yang perlu dilakukan, tetapi rasa takut belum hilang. Ia terus menyalahkan dirinya karena menawarkan tumpangan terlalu sering, lalu merasa bersalah karena tidak langsung menyusul saat pesan pertama tak dibalas.
‘Lo sudah cari dia begitu lewat satu jam,’ ujar Gus. ‘Jangan bikin semua ini jadi salah lo.’
‘Gue tahu dia mau pulang sendiri. Harusnya gue bisa memastikan hujan enggak bikin dia kesulitan.’
‘Dia yang memilih pulang sendiri. Lo menghormati pilihannya. Itu bukan berarti lo harus tahu apa yang akan terjadi.’
Dean menunduk. Ia sadar ada bedanya membantu dan mengendalikan. Tetapi melihat Ana pingsan membuat garis itu terasa kabur. Ia ingin menjaga Ana, namun tidak ingin menjadikan rasa khawatir sebagai alasan untuk mengatur hidupnya.
Beberapa menit kemudian seorang petugas keluar. Ana sudah sadar dan sedang beristirahat. Petugas meminta mereka menunggu sampai pemeriksaan awal selesai. Dean mengucapkan terima kasih, lalu bertanya apakah ia boleh masuk. Petugas menyampaikan bahwa Ana masih perlu waktu dan nanti akan memanggilnya jika Ana mengizinkan.
Dean menerima jawaban itu. Ia duduk di kursi lorong, kedua tangan bertaut di depan lutut. Gus meletakkan tas Ana di kursi kosong di sebelahnya. Ponsel Ana terlihat di dalam saku luar tas, layar mati. Dean tidak berniat menyentuhnya. Kalau Ana perlu menghubungi siapa pun, ia akan melakukannya sendiri setelah merasa cukup kuat.
‘Gue takut,’ kata Dean tanpa menoleh.
Gus diam sejenak, memberi ruang untuk kalimat itu.
‘Bukan cuma karena dia pingsan. Gue takut dia merasa harus menyembunyikan sesuatu dari gue karena gue selalu ikut campur.’ Dean menatap lantai. ‘Gue sering nawarin antar-jemput, terus kalau dia menolak gue malah cari alasan supaya dia tetap ikut. Gue pikir itu perhatian. Mungkin buat dia rasanya seperti gue enggak percaya dia bisa menjaga dirinya sendiri.’
‘Lo bisa mengakuinya ke dia. Tapi jangan minta dia menenangkan rasa bersalah lo.’
Dean mengangguk. Ia akan minta maaf atas sikapnya, bukan menuntut Ana segera memaafkannya. Ia juga ingin mengatakan bahwa Ana boleh menolak tumpangan kapan saja. Yang ia minta hanya kabar jika mereka memang sudah membuat janji untuk saling memberi kabar, bukan laporan setiap saat.
Petugas muncul lagi dan menyampaikan bahwa Ana ingin berbicara dengan Dean. Dean berdiri, tetapi tidak langsung menerobos masuk. Ia bertanya apakah Ana sudah cukup nyaman menerima kunjungan. Petugas mengangguk dan membukakan pintu.
Ana berbaring di ranjang pemeriksaan, mengenakan selimut tipis. Wajahnya masih pucat, tetapi matanya terbuka. Dean berhenti di samping ranjang, menjaga jarak agar Ana tidak merasa dikepung.
‘Kamu pusing?’ tanyanya.
‘Sedikit. Petugas bilang aku harus istirahat dulu.’
‘Gue lega lo sudah sadar.’ Dean menahan napas sebentar. ‘Gue takut banget tadi.’
Ana menatapnya. ‘Maaf aku tidak membalas pesanmu.’
‘Lo enggak perlu minta maaf karena pingsan.’
‘Aku tahu. Tapi aku memang berbohong soal kerja kelompok.’ Ana menarik napas pelan. ‘Aku minta maaf karena berdalih. Bukan karena memilih pulang sendiri.’
Dean menerima kalimat itu tanpa membantah. Ia tidak menuntut Ana menjelaskan alasan sesungguhnya. ‘Gue paham. Dan gue juga perlu minta maaf. Selama ini gue terlalu memaksa soal antar-jemput. Lo boleh menolak kapan saja. Gue harus bisa menerima jawaban lo tanpa mencari cara supaya lo berubah pikiran.’
Ana memandangnya cukup lama, kemudian mengangguk kecil. ‘Terima kasih sudah bilang begitu.’
Dean menarik kursi dan duduk setelah Ana memberi isyarat. Ia tidak menggenggam tangan Ana atau menyentuhnya tanpa izin. Kali ini ia hanya menemani, membiarkan Ana beristirahat, dan menerima bahwa belum semua hal harus dibicarakan sekarang.
Dean memikirkan perbedaan antara mengakui kesalahan dan meminta pengampunan. Ia tidak ingin percakapan nanti berubah menjadi permintaan agar Ana mengatakan semuanya baik-baik saja. Ia perlu mendengarkan apa yang Ana rasakan, bahkan bila jawabannya membuatnya malu.
Gus berdiri untuk mengambil air minum dari dispenser. Ia menawarkan satu gelas kepada Dean, yang menerimanya hanya untuk membasahi tenggorokan. Rasa dingin air itu membuatnya sedikit lebih tenang. Ia mengirim pesan kepada keluarga bahwa ia akan pulang terlambat, tanpa menyebut rincian pribadi Ana. Ia tidak merasa berhak membagikan cerita itu kepada siapa pun.
Beberapa mahasiswa melewati lorong sambil membawa payung basah. Dean bergeser agar mereka bisa lewat. Suara hujan dari luar mulai melemah, tetapi pikirannya belum juga tenang. Ia menatap pintu ruang pemeriksaan dan menyadari bahwa perhatian yang baik seharusnya memberi ruang, bukan menuntut akses.
Dean membuka telapak tangannya yang sejak tadi mengepal. Ada bekas kuku di kulitnya. Ia mengusapnya singkat, lalu menyandarkan punggung ke dinding. Jika Ana belum ingin bicara, ia akan menerima itu. Jika Ana ingin pulang dengan Bagas, ia juga akan menerima. Yang penting ia tidak menjadikan rasa takutnya sebagai alasan untuk menentukan pilihan Ana.
Ia mencoba mengatur napasnya sendiri, perlahan-lahan. Hujan yang tadi membuatnya panik karena Ana kini terdengar semakin jauh. Dean tahu ia tidak bisa meminta Ana menghindari cuaca atau perjalanan hanya supaya dirinya merasa tenang. Ia harus belajar percaya pada keputusan Ana dan hadir ketika diminta.
Petugas kembali memeriksa keadaan Ana dan memintanya beristirahat beberapa menit lagi sebelum memutuskan perjalanan pulang. Dean menunggu di sisi ranjang tanpa menyela. Ia tidak mengulang pertanyaan tentang alasan Ana berbohong. Ana sudah meminta maaf atas kebohongan itu; ia tidak perlu menyerahkan seluruh isi pikirannya sekaligus.
‘Aku ingin menghubungi Bagas,’ kata Ana setelah petugas keluar. ‘Boleh minta petugas menelponnya dari ponselku?’
‘Tentu. Aku bisa panggil petugas.’
Dean menyampaikan permintaan itu kepada petugas, lalu kembali ke kursinya. Ia tidak mengambil ponsel Ana atau mencari sendiri nomor Bagas. Ana menutup mata sebentar, mengumpulkan tenaga, sementara Dean menunggu tanpa mendesaknya bicara.