Ana sudah lebih tenang ketika petugas klinik kembali memeriksa keadaannya. Ia menjawab pertanyaan dengan singkat dan mengikuti instruksi untuk tetap berbaring. Dean duduk di kursi dekat ranjang. Gus masih menunggu di luar agar ruang pemeriksaan tidak terlalu penuh.
‘Kamu bisa pulang setelah petugas mengizinkan,’ kata Dean. ‘Gue bisa pesan taksi atau panggil Bagas, terserah lo.’
Ana menoleh. ‘Aku belum tahu. Boleh aku istirahat sebentar dulu?’
‘Tentu. Enggak perlu buru-buru.’
Petugas klinik bertanya apakah ada keluarga atau teman yang perlu dihubungi. Ana mengangguk dan menunjuk tasnya. ‘Boleh tolong hubungi Bagas? Nomornya ada di kontak favorit.’
Petugas meminta izin mengambil ponsel dari tas. Ana menyetujuinya. Dean tetap duduk tanpa menawarkan diri untuk membuka perangkat itu. Ia merasa lega karena Ana meminta bantuan dengan caranya sendiri, bukan karena ia memaksanya.
Tak lama kemudian, petugas mengembalikan ponsel dan memberi tahu bahwa Bagas sedang menuju klinik. Ana menulis pesan singkat kepada Aleska bahwa ia terlambat pulang, tetapi sudah berada di klinik bersama teman. Ia tidak ingin Aleska panik. Setelah itu ia meletakkan ponsel di meja kecil dan memejamkan mata.
Dean berdiri. ‘Gue tunggu di luar. Kalau butuh apa-apa, panggil aja.’
Ana membuka mata. ‘Kamu boleh tetap di sini. Aku tidak keberatan.’
Dean kembali duduk, kali ini sedikit lebih santai. Ia tidak mengisi keheningan dengan pertanyaan. Ana menghargai itu. Ada banyak hal yang masih tertahan di kepalanya, terutama alasan ia memilih pulang sendiri, tetapi ia belum siap menjelaskan semuanya. Dean tidak mendesaknya.
Setelah beberapa menit, petugas memberi Ana air minum. Ia meneguk sedikit demi sedikit. Dean memastikan gelasnya berada dalam jangkauan, kemudian menunggu sampai Ana selesai. Mereka berbicara tentang hal-hal ringan: jadwal seminar, kelas besok, dan buku yang sedang Ana baca. Percakapan itu tidak menghapus rasa canggung, tetapi membuat ruang klinik terasa tidak terlalu sunyi.
Pintu terbuka. Bagas masuk dengan napas sedikit terengah, rambutnya basah oleh hujan. Ia langsung mendekati ranjang dan memeriksa wajah Ana dengan cemas.
‘Ana, lo gimana? Tadi petugas bilang lo pingsan.’
‘Aku sudah lebih baik. Cuma masih agak pusing.’
Bagas menoleh kepada Dean. Tatapan mereka bertemu, lalu sama-sama tertahan. Dean berdiri, memberi ruang bagi Bagas untuk mendekat. Ia tidak menyembunyikan bahwa ia yang menemukan Ana, tetapi juga tidak menjadikan itu alasan untuk mengatur siapa yang boleh menemani Ana.
‘Gue nemuin dia di halte,’ kata Dean. ‘Kami langsung bawa ke sini.’
‘Makasih sudah menolongnya,’ jawab Bagas. Suaranya sopan, tetapi tubuhnya masih tegang.
‘Gue cuma melakukan yang perlu.’
Bagas memandang pakaian Dean yang basah kuyup. ‘Lo juga harus ganti baju. Jangan sampai ikut sakit.’
‘Nanti. Petugas masih memeriksa keadaan Ana.’
‘Aku sudah bilang aku baik-baik saja,’ sela Ana, mencoba tersenyum. ‘Kalian tidak perlu berjaga seperti aku mau menghilang.’
Bagas menarik kursi dan duduk di sisi ranjang. ‘Gue tahu. Tapi tadi petugas bilang lo sempat pingsan. Wajar kalau gue khawatir.’
‘Aku tidak marah karena kamu khawatir. Aku cuma tidak mau kalian membuat keputusan untukku.’
Dean mengangguk. ‘Kita tunggu petugas, terus lo pilih mau pulang bagaimana.’
Ana menatapnya, memastikan ia sungguh-sungguh. Dean tidak berusaha membujuk agar ia memilih mobilnya. Ia juga tidak meminta Ana menjelaskan mengapa ia pergi sendiri. Bagas pun mengangguk dan berkata bahwa ia akan mengikuti keputusan Ana. Tegang di antara dua laki-laki itu belum sepenuhnya hilang, tetapi mereka berhasil menahannya demi Ana.
‘Bagus,’ kata Ana pelan. ‘Aku memang masih capek, tapi aku bisa bilang apa yang aku perlukan.’
Bagas mengulurkan botol air yang dibelinya di lorong. Ana menerima setelah petugas menyetujui ia minum sedikit. Dean menggeser kursi agar Bagas bisa duduk lebih dekat. Untuk sesaat, mereka tidak membicarakan masa lalu, rasa cemburu, atau alasan Ana memilih angkot. Hanya ada kelegaan karena Ana sudah sadar.
Ana memperhatikan keduanya. Ia tahu Bagas tidak menyukai Dean, tetapi Bagas juga memahami bahwa Dean membantunya hari ini. Ia tidak ingin mereka bertengkar di ruang pemeriksaan.
‘Bagas, Dean sudah minta maaf karena dulu sering memaksa soal tumpangan,’ katanya. ‘Dan aku juga sudah minta maaf karena tadi berbohong soal kerja kelompok.’
Bagas memandang Ana, lalu mengangguk. ‘Yang penting lo bisa bilang apa yang lo mau. Jangan merasa harus bikin alasan supaya orang lain mengizinkan.’
Dean menerima teguran itu tanpa membalas. ‘Lo benar.’
Bagas kembali menatap Dean. Ada banyak hal yang ingin ia katakan, tetapi ia menahannya karena Ana sedang lelah. Dean pun tidak menantangnya. Mereka hanya berdiri di sisi ranjang yang berbeda, masing-masing menunggu Ana menentukan langkah selanjutnya.
Petugas kembali setelah memeriksa catatan. Ana masih perlu beristirahat beberapa saat sebelum pulang. Bagas bertanya apakah Ana ingin ia mengantar. Ana mengangguk. Dean mengatakan ia bisa mengambil mobilnya dan pulang sendiri setelah memastikan Bagas siap mengurus barang-barang Ana.
‘Aku bisa pulang dengan Bagas,’ kata Ana. ‘Terima kasih sudah mencari dan membawaku ke sini.’
‘Sama-sama. Istirahat yang cukup, An.’
Dean tidak menahan Ana untuk tinggal bersamanya atau meminta penjelasan tambahan. Ia menyerahkan tasnya kepada Bagas setelah memastikan Ana setuju, lalu melangkah ke pintu. Sebelum keluar, ia menoleh sekali lagi. Ana mengangkat tangan kecil sebagai salam.
Bagas membalas salam itu setelah Dean pergi. Tatapannya kepada Ana melunak. ‘Lo mau cerita apa yang sebenarnya terjadi sebelum pingsan?’
‘Nanti, setelah aku pulang dan istirahat.’
‘Oke. Gue tunggu.’
Ana bersandar kembali ke bantal. Ia merasa lelah, tetapi tidak sendirian. Di luar, hujan mulai mereda. Hari itu tidak membuatnya harus memilih antara Dean dan Bagas, juga tidak menghapus persoalan dengan Adeline. Untuk sekarang, cukup baginya bahwa ia bisa meminta bantuan, menyatakan batas, dan didengar.
Bagas menunggu sampai Ana benar-benar siap berdiri, lalu berjalan di sampingnya menuju pintu klinik.
Dean melihat dari lorong, memastikan mereka berangkat dengan aman sebelum akhirnya mengambil mobilnya.
Ia menyadari bahwa kepercayaan tidak pulih hanya karena satu janji. Kepercayaan perlu terlihat dalam tindakan kecil yang konsisten, termasuk kesediaan mendengar jawaban yang mungkin tidak sesuai harapan.