Malam itu Ana pulang bersama Bagas setelah petugas klinik mengizinkannya. Bagas memastikan ia masuk ke kamar kos dengan aman, lalu menunggu di ruang depan sampai Ana mengambil air minum dan duduk. Ia bertanya sekali lagi apakah Ana ingin bercerita. Ana meminta waktu sampai pagi. Bagas tidak memaksa. Ia hanya mengatakan akan mengangkat telepon jika Ana membutuhkannya.
Setelah Bagas kembali ke kamar kosnya, Ana mengirim pesan kepada Dean. Ia mengucapkan terima kasih sekali lagi dan memberi tahu bahwa ia sudah beristirahat. Dean menjawab singkat, mengingatkan agar Ana mengikuti arahan petugas klinik. Ia tidak bertanya tentang alasan Ana berdalih. Ana meletakkan ponsel dan mencoba tidur.
Di rumah, Dean juga belum bisa memejamkan mata. Ia sudah berganti pakaian dan mengeringkan rambut, tetapi pikirannya terus kembali ke halte, klinik, dan cara Bagas menatapnya. Dean memahami bahwa Bagas khawatir. Meski begitu, ada sesuatu yang mengusik dirinya: kedekatan Bagas dan Ana terasa lebih dalam daripada yang ia ketahui.
Keesokan paginya, Dean memutuskan tidak datang ke kos Ana tanpa diminta. Ia mengirim pesan menanyakan apakah Ana sudah lebih baik. Setelah Ana menjawab bahwa kepalanya tidak lagi terlalu pusing, Dean berhenti di situ. Ia tidak ingin membuat perhatian berubah menjadi kewajiban untuk selalu melapor.
Di kampus, kegiatan panitia seminar kembali berjalan. Dean bertemu Gus di ruang rapat untuk menyusun daftar kebutuhan acara. Mereka meninjau susunan kursi, jadwal pembicara, dan urutan pembukaan. Gus menyebut bahwa Ana mungkin harus berlatih membaca puisi setelah kondisinya pulih. Dean setuju, tetapi ia menambahkan bahwa Ana sendiri yang akan menentukan kapan siap kembali.
‘Lo berubah juga sekarang,’ kata Gus sambil merapikan kertas.
‘Maksud lo?’
‘Dulu lo langsung mutusin apa yang menurut lo terbaik buat orang. Sekarang lo tanya dulu.’
Dean mengangkat bahu. ‘Gue masih belajar.’
Gus tertawa kecil, lalu mengembalikan pembicaraan ke urusan seminar. Dean berusaha fokus. Namun ketika Bagas masuk ke ruangan untuk mengantarkan formulir dari Fakultas Sastra, pikirannya kembali tertarik pada hubungan mereka.
Bagas menyerahkan dokumen kepada Gus. ‘Ini daftar peserta dari Sastra. Ana belum masuk karena dia istirahat hari ini. Nanti dia kirim sendiri kalau sudah siap.’
‘Oke, makasih,’ jawab Dean.
Bagas hendak pergi, tetapi Dean bertanya apakah Ana sudah lebih baik. Bagas menjawab bahwa ia belum bertemu Ana sejak pagi dan akan menanyakan kabarnya nanti. Ia tidak menyampaikan hal pribadi apa pun.
‘Gue cuma mau bilang makasih karena datang ke klinik,’ kata Dean.
‘Dia sahabat gue. Wajar kalau gue datang.’
Dean mengangguk. ‘Semoga dia cepat pulih.’
Bagas membalas anggukan itu lalu pamit. Percakapan mereka singkat dan tidak menyelesaikan rasa ingin tahu Dean. Ia kembali ke rapat, mengingatkan diri bahwa kedekatan orang lain bukan undangan untuk bertanya lebih jauh.
Sore itu Dean pulang sendiri. Di mobil, ia memikirkan bagaimana ia ingin mengenal Ana lebih jauh, tetapi ia tidak mau memaksa jalan masuk ke bagian hidupnya yang belum dibuka. Ia akan menunggu sampai Ana memilih untuk bercerita. Untuk saat ini, ia cukup mengingat bahwa Bagas adalah sahabat Ana dan bahwa Ana mempercayainya.
Di rumah, Dean mengambil air minum dan duduk di ruang keluarga. Dea sedang mengerjakan tugas, sementara Mama membaca majalah di sofa. Mereka bertanya singkat apakah urusan kampusnya sudah selesai. Dean menjawab bahwa ia hanya perlu memastikan temannya pulang bersama orang yang dipercaya. Ia tidak menyebut nama atau menjelaskan kejadian di klinik lebih jauh karena cerita itu bukan miliknya untuk dibagikan.
Mama mengamati wajahnya. ‘Kamu kelihatan banyak pikiran.’
‘Cuma capek, Ma.’
Dea melirik kakaknya dari balik buku. ‘Kalau capek, jangan bengong sambil pegang gelas kosong.’
Dean menunduk dan baru sadar air di gelasnya sudah habis. Ia tertawa kecil, mengambil kendi, lalu mengisi ulang. Gurauan Dea membuat ketegangan di pundaknya sedikit mengendur. Ia bertanya tentang tugas sekolah adiknya dan mendengarkan jawaban panjang tentang proyek kelompok. Untuk beberapa menit, ia berhasil memusatkan pikirannya pada hal lain.
Dea menunjukkan rancangan poster tugasnya. Dean membetulkan satu huruf yang terbalik, lalu memuji pilihan warnanya. Adiknya mengomel karena ia mengoreksi sebelum memberi pujian, membuat Mama tertawa dari sofa. Obrolan keluarga itu membantu Dean kembali ke suasana rumah yang biasa.
Mama kemudian menanyakan apakah klinik sudah memberi kabar lanjutan tentang Ana. Dean menjelaskan bahwa Ana sudah pulang bersama Bagas dan membutuhkan istirahat. Ia tidak menceritakan bahwa Ana sempat berbohong tentang kerja kelompok atau bagaimana mereka berbicara di klinik. Itu percakapan pribadi Ana, bukan bahan cerita untuk keluarga.
‘Kamu bisa menanyakan kabarnya besok,’ kata Mama. ‘Tapi jangan membuatnya merasa harus menjawab setiap saat.’
‘Iya, Ma. Aku cuma mau memastikan dia tidak memaksakan diri.’
‘Kalau begitu, percayalah saat dia bilang dia baik-baik saja.’
Dean mengangguk. Ia menyadari Mama benar. Ia tidak bisa membangun kepercayaan dengan mengirim pesan setiap beberapa jam. Ia akan bertanya sekali, menerima jawaban Ana, dan memberi ruang. Dea kembali mengerjakan tugas, sementara Dean membantu Mama mengangkat piring ke dapur. Rutinitas kecil itu membuat malam berjalan lebih tenang.
Sebelum tidur, Dean membuka kembali jadwal seminar. Ia memeriksa hari latihan dan memastikan Ana belum dicantumkan sebagai peserta wajib. Besok ia akan mengirim jadwal lengkap kepada semua anggota, termasuk Ana, lalu membiarkannya memilih. Ia mengunci ponsel dan mematikan lampu.
Ia membiarkan rumah sunyi, berharap tidurnya cukup nyenyak malam itu.
Pertanyaan yang muncul di benaknya tentang kedekatan Ana dan Bagas belum punya jawaban. Dean memilih membiarkannya begitu. Ia tidak akan meminta Bagas membuka rahasia Ana, dan tidak akan mengubah pertemanan mereka menjadi perlombaan. Jika ada hal penting yang perlu ia ketahui, Ana sendiri yang akan memutuskan kapan waktunya. Untuk malam ini, ia cukup tahu bahwa Ana sudah selamat melewati hujan dan pulang dengan orang yang ia percaya.
Keadaan ini belum menyelesaikan seluruh persoalan, dan ia tidak memaksakannya selesai. Yang penting, langkah berikutnya tetap sejalan dengan nilai yang ingin dijaga.