Keesokan harinya, Dean kembali ke kampus setelah memastikan Ana sudah beristirahat. Pesan terakhirnya hanya berisi ucapan terima kasih atas kabar Ana dan pengingat agar ia tidak memaksakan diri. Dean tidak menanyakan lebih jauh. Ia berusaha memberi ruang seperti yang sudah ia janjikan.
Di gedung FK, rapat panitia seminar berlangsung singkat. Setelahnya Dean membawa beberapa map menuju ruang sekretariat. Bagas baru saja keluar dari gedung Sastra untuk menyerahkan formulir peserta. Mereka berpapasan di koridor penghubung antara dua fakultas.
‘Bagas,’ panggil Dean. ‘Boleh ngobrol sebentar?’
Bagas berhenti. Ia menatap Dean dengan hati-hati. ‘Soal Ana?’
‘Bukan soal kejadian di halte. Gue cuma mau ngomong sebentar.’
Mereka berdiri di sisi koridor yang lebih sepi, tidak jauh dari jendela yang menghadap lapangan. Dean meletakkan map di bangku dan menyilangkan tangan. Ia tidak ingin memulai dengan pertanyaan yang terdengar seperti tuntutan.
‘Semalam gue sadar ada banyak hal tentang Ana yang belum gue tahu,’ katanya. ‘Gue enggak akan minta lo membocorkan apa pun. Tapi kalau ada sesuatu yang perlu gue pahami supaya enggak salah bersikap, bilang aja.’
Bagas memandangnya beberapa saat. ‘Ana berhak cerita sendiri.’
‘Gue tahu.’
Bagas tampak menimbang-nimbang. Ia sudah lama berusaha melindungi perasaannya sendiri dengan menyebut Ana sahabat. Ia tahu Dean bukan orang jahat, tetapi juga tahu bahwa Ana bisa terluka jika rahasianya dibuka tanpa izin. Ia tidak akan memberi nama atau menceritakan hal yang bukan haknya untuk dibagikan.
‘Ada satu hal yang mungkin perlu lo tahu,’ ujar Bagas akhirnya. ‘Ana sudah punya orang yang dia cintai selama tiga tahun.’
Dean terpaku. Kalimat itu sederhana, tetapi terasa seperti pintu yang tertutup tepat di hadapannya. ‘Siapa?’
Bagas segera menggeleng. ‘Gue enggak akan kasih tahu namanya. Itu bukan rahasia gue untuk dibuka.’
‘Dia tahu?’
‘Orang itu?’ Bagas mengangkat bahu. ‘Gue enggak tahu. Ana yang bisa jawab.’
Dean menatap lapangan di balik jendela. Tiga tahun. Waktu itu terasa panjang, apalagi ketika ia membandingkannya dengan beberapa minggu terakhir yang mereka habiskan bersama. Ia tidak tahu siapa orang itu, bagaimana mereka bertemu, atau apakah Ana masih berharap orang tersebut membalas perasaannya.
‘Kenapa lo kasih tahu gue?’ tanyanya.
‘Karena lo kelihatan mulai menganggap semua kedekatan Ana sebagai sesuatu yang baru dimulai sekarang. Padahal ada hidupnya sebelum lo kenal dia.’ Bagas menjaga suaranya tetap datar. ‘Jangan membuatnya merasa harus memilih atau menjelaskan semuanya hanya karena lo penasaran.’
Dean menerima teguran itu. Ia tahu Bagas sedang menjaga Ana, bukan memancing pertengkaran. ‘Gue enggak akan memaksanya.’
‘Bagus.’
‘Tapi gue boleh berharap suatu hari dia cerita sendiri?’
‘Harapan lo urusan lo. Jangan jadikan itu utang Ana.’
Dean mengangguk pelan. Ia tidak membalas dengan sindiran atau menuntut Bagas menjelaskan lebih jauh. Bagas sudah memberi batas yang jelas. Dean tidak berhak melangkah melewatinya.
Bagas mengambil kembali map yang tadi diletakkan Dean di bangku, lalu menyerahkannya. ‘Ini punya lo.’
‘Makasih.’
Mereka berjalan bersama sampai ujung koridor, kemudian berpisah ke arah gedung masing-masing. Dean melanjutkan langkahnya tanpa benar-benar membaca label di map. Kalimat Bagas terus berputar di pikirannya: Ana sudah punya orang yang dicintai selama tiga tahun.
Di ruang sekretariat, Dean duduk sendirian dan membuka jadwal acara. Ia mencoba fokus pada susunan pembicara, tetapi pertanyaan tentang orang itu muncul lagi. Apakah Ana masih mencintainya? Apakah orang tersebut dekat dengannya? Apakah ia pernah melihat mereka bersama tanpa menyadarinya?
Dean sadar pertanyaan-pertanyaan itu tidak pantas ia ajukan kepada Ana sekarang. Mereka belum membicarakan perasaan masing-masing. Ia pun belum mengungkapkan bahwa pertemanan mereka mulai berarti lebih dari yang ia bayangkan. Tidak adil jika ia merasa cemburu atas hubungan yang bahkan tidak ia pahami.
Namun perasaan itu tetap ada. Bukan amarah kepada Ana, melainkan ketakutan bahwa ia datang terlambat ke dalam hidupnya. Dean menyimpan map, menutup laptop, lalu pulang tanpa menyelesaikan semua pekerjaannya. Dalam perjalanan, ia berjanji kepada dirinya sendiri untuk tidak membuat kecemburuan menjadi alasan mengatur Ana. Ia bisa menunggu. Ia hanya belum tahu bagaimana caranya berhenti membayangkan sosok yang tak dikenalnya itu.
Dean membuka pesan Ana, tetapi tidak mengetik pertanyaan tentang orang itu. Sebaliknya, ia membalas kabar singkat Ana mengenai kondisi tubuhnya dan mengatakan jadwal latihan seminar bisa menunggu sampai ia benar-benar pulih. Ana menjawab bahwa ia sudah merasa lebih baik dan akan memberi tahu jika ada perubahan. Dean menutup percakapan di sana.
Gus datang membawa kopi dan melihat Dean termenung. ‘Lo habis ngobrol sama Bagas?’
‘Iya.’
‘Dia bilang apa?’
Dean mengangkat wajah. ‘Itu cerita Ana. Gue enggak akan membahasnya.’
Gus tersenyum tipis. ‘Bagus. Akhirnya lo belajar menyimpan pertanyaan.’
Dean mendengus, tetapi tidak membantah. Ia tahu rasa penasaran itu masih ada. Ia hanya tidak ingin mengubahnya menjadi beban bagi Ana. Ia kembali membuka dokumen seminar dan menuntaskan daftar kebutuhan acara satu per satu. Untuk sementara, pekerjaan memberi pikirannya tempat berpijak.
Menjelang pulang, ia melewati mading fakultas. Tidak ada puisi baru hari itu karena bukan Senin. Namun lembar lama yang pernah ia foto masih tersimpan di galeri ponselnya. Dean tidak membukanya. Ia tidak ingin mencampur rasa cemburunya kepada orang yang tak dikenal dengan teka-teki Eidelweiss yang belum terjawab.
Ia berjalan ke parkiran bersama Gus. Di mobil, sebelum menyalakan mesin, Dean mengingat pesan yang ia kirim kepada Ana. Ia ingin menjadi orang yang dapat dipercaya, bukan orang yang meminta jawaban secepatnya. Ia menghidupkan mesin dan pulang, membawa pertanyaan itu tanpa melimpahkannya kepada Ana.
Di lampu merah, ia melihat hujan tipis mulai turun. Ia tidak mengirim pesan untuk menanyakan lokasi Ana. Ia tahu Ana sedang di kos dan bisa menghubunginya bila perlu. Lampu berubah hijau; Dean melanjutkan perjalanan, mencoba membiarkan pikirannya tenang.
Ia mengingatkan diri bahwa rasa ingin tahu tidak memberinya hak untuk mengorek jawaban.
Ia memperhatikan perubahan kecil pada sikap orang-orang di sekitarnya. Dari sana ia mengerti bahwa setiap pilihan membawa akibat, sehingga tanggung jawab perlu dijalankan tanpa kehilangan batas yang sehat.