Beberapa hari setelah malam di klinik, Ana kembali menjalani rutinitasnya. Ia mengikuti kuliah, menyelesaikan bacaan, dan bertukar pesan dengan Dean seperlunya mengenai seminar. Dean tidak mengulang tawaran antar-jemput setelah Ana mengatakan bahwa ia akan naik angkot. Ia hanya meminta Ana memberi kabar jika memang mereka sudah sepakat untuk saling mengabari.
Di kos, Aleska juga sibuk mencari pekerjaan. Ia beberapa kali pulang membawa berkas lamaran, lalu menghabiskan malam memperbarui surat lamaran di meja ruang tengah. Ana tidak mendesaknya bercerita tentang Orlan. Ia tahu hubungan itu milik Aleska, dan selama ini sepupunya selalu tampak bahagia setiap kali nama Orlan disebut.
Pada suatu sore, Ana pulang lebih awal dari kampus. Ia meletakkan tas di kursi, mengganti pakaian, kemudian membuka laci kecil tempat ia menyimpan uang bulanan. Ia hendak memisahkan biaya kos dan kebutuhan sehari-hari sebelum akhir pekan.
Laci itu tidak tertutup rapat. Ana mengerutkan kening. Ia merasa tadi malam sudah menutupnya, tetapi mungkin ia lupa. Amplop yang biasa ia gunakan masih ada di dalam. Ana mengeluarkannya dan melihat jumlah uang yang tersisa. Ia menghitung pelan, sekali, lalu mengulanginya.
Jumlahnya tidak cocok dengan catatan yang ia buat.
Ana duduk di tepi ranjang. Ia membuka buku catatan keuangan dan mencocokkan tanggal pengeluaran. Uang itu seharusnya cukup untuk membayar kebutuhan bulanan berikutnya. Tidak ada pembelian besar atau pengeluaran yang ia lupakan. Ia memeriksa tas dan dompet, lalu kembali ke laci. Hasilnya tetap sama.
Ia tidak langsung menuduh siapa pun. Aleska dan Orlan pernah bertamu ke kamarnya, tetapi Ana percaya kepada sepupunya. Mungkin uang itu terselip di tempat lain. Ia memeriksa rak buku, kantong jaket, dan tempat penyimpanan dokumen. Setelah beberapa menit, ia berhenti. Ia tidak ingin panik sebelum memahami apa yang terjadi.
Ketukan pelan terdengar dari pintu. Aleska masuk membawa dua gelas teh. Senyumnya menghilang ketika melihat wajah Ana dan laci yang terbuka.
‘Kak Ana lagi cari sesuatu?’ tanyanya.
‘Uang di amplopku kurang. Aku sedang mencocokkan catatan.’
Gelas di tangan Aleska bergetar sedikit. Ia meletakkannya di meja tanpa berkata-kata. Ana menangkap perubahan itu, tetapi belum bertanya. Ia ingin memberi Aleska kesempatan untuk menjelaskan sendiri.
‘Kamu tahu sesuatu?’ tanya Ana lembut.
Aleska menunduk. Kedua tangannya saling meremas. ‘Kak, aku mau ngomong. Tapi jangan marah dulu, ya.’
Ana menutup buku catatannya. ‘Aku akan dengar dulu.’
‘Bukan aku yang mengambil.’ Suara Aleska mulai pecah. ‘Tapi aku tahu siapa.’
Ana diam. Ia menunggu, meskipun rasa khawatir tumbuh dalam dadanya.
Aleska menarik napas gemetar. ‘Orlan pernah masuk kamar Kak Ana waktu aku ke sini. Dia bilang cuma mencari charger yang tertinggal. Aku baru tahu uang Kak Ana hilang setelah dia cerita dia sedang ada utang.’
Ana memandang amplop di tangannya. ‘Kapan dia bilang begitu?’
‘Kemarin. Dia mengaku mengambil uang itu untuk membayar utangnya.’ Aleska mulai menangis. ‘Aku minta dia mengembalikannya, tapi dia marah dan bilang nanti akan diganti.’
Ana meletakkan amplop dengan hati-hati. Ia tidak ingin meninggikan suara ketika Aleska sudah ketakutan. ‘Kamu tahu jumlahnya?’
Aleska mengangguk kecil. ‘Aku tahu, Kak.’
‘Kamu juga tahu dia mengambilnya tanpa izin?’
‘Iya.’
Ana menarik napas. Ia terluka karena uang itu hilang, tetapi kebohongan dan diamnya Aleska membuatnya lebih sedih. Ia belum memutuskan apa yang harus dilakukan. Ia meminta Aleska duduk dan menyeka air matanya dulu.
Ana menutup laci dan duduk di kursi, berusaha menahan pikiran agar tidak melompat ke kesimpulan. Uang itu bukan sekadar jumlah di atas kertas; ia sudah menyisihkannya untuk biaya kos, makan, dan kebutuhan kuliah. Ia perlu mengetahui berapa tepatnya yang hilang dan apakah masih ada cara agar kebutuhan bulan ini tetap terpenuhi.
‘Kamu tidak perlu menjawab sekarang kalau masih takut,’ kata Ana. ‘Tapi aku ingin kamu jujur. Apa Orlan pernah masuk ke kamarku saat aku tidak ada sebelumnya?’
Aleska menunduk dan menggeleng. ‘Setahuku cuma waktu itu. Dia bilang charger-nya tertinggal. Aku pikir dia langsung keluar.’
‘Kamu melihatnya masuk ke laci?’
‘Enggak.’
Ana mengangguk. Ia tidak ingin menyimpulkan Aleska ikut terlibat tanpa bukti. Namun kepercayaan mereka tetap perlu dibicarakan. Aleska seharusnya memberi tahu sejak pertama kali mendengar pengakuan Orlan, bukan menyimpan masalah itu sendirian.
‘Aku bisa memaafkan kamu karena takut,’ kata Ana. ‘Tapi lain kali, kalau seseorang mengambil barang tanpa izin, kamu harus bilang. Menyembunyikannya malah membuat masalah lebih besar.’
Aleska menghapus air mata dengan punggung tangan. ‘Aku takut Kak Ana mengusir aku dari kos.’
‘Aku tidak akan mengusirmu karena perbuatan Orlan. Tapi kamu perlu membantuku mencari cara supaya uang itu kembali dan memastikan dia tidak masuk kamar lagi.’
Aleska terisak. Ana mengambil segelas air dan meletakkannya di dekatnya. Ia tidak memeluk atau menyentuhnya sebelum Aleska tampak cukup tenang. Setelah beberapa saat, Aleska mulai bicara, dan Ana mendengarkan tanpa memotong.
Mereka duduk cukup lama tanpa menyentuh teh yang mulai dingin. Dari luar terdengar suara kendaraan melewati jalan komplek. Ana bertanya apakah Aleska merasa aman malam itu. Aleska menjawab iya, tetapi ia tidak tahu bagaimana harus menghadapi Orlan. Ana mengatakan mereka bisa memikirkan langkahnya bersama, satu hal pada satu waktu.
‘Aku tidak akan membiarkan dia datang tanpa izin,’ kata Ana. ‘Kalau dia muncul, kita panggil penjaga kos.’
Aleska mengangguk. Ia mengaku belum pernah melihat Orlan mengambil uang, tetapi menyadari bahwa mempercayai ucapan Orlan tanpa memberi tahu Ana adalah kesalahan. Ana mengingatkan bahwa rasa takut bisa membuat orang menunda bicara, tetapi mereka tetap harus jujur setelahnya.
Ana meminta Aleska menunggu sampai ia selesai menghitung uang yang tersisa. Mereka akan menyusun anggaran baru agar biaya kos dan kebutuhan dasar tetap terbayar. Aleska menawarkan memakai tabungannya untuk menutup kekurangan, tetapi Ana belum menerima tawaran itu sebelum tahu jumlah sebenarnya. Ia tidak ingin Aleska merasa harus menanggung semua akibat dari tindakan pacarnya.
‘Kita cari tahu dulu. Jangan panik dan jangan pergi ke mana-mana malam ini,’ ucap Ana.
Aleska mengangguk sekali lagi. Ia mengambil tisu, menyeka pipi, lalu mulai bercerita dengan lebih teratur tentang percakapan terakhirnya dengan Orlan. Ana mendengarkan sambil mencatat hal-hal yang perlu dipastikan. Pintu kamarnya tetap terbuka, dan mereka duduk bersama sampai Aleska tidak lagi gemetar.