Aleska duduk di kursi dekat meja, kedua tangannya menutupi wajah. Ana menarik kursi satunya dan duduk berhadapan. Ia tidak ingin percakapan ini berubah menjadi bentakan. Sebelum mengambil keputusan, ia perlu memahami apa yang terjadi dan memastikan Aleska tidak menghadapi Orlan sendirian.
‘Ceritakan dari awal,’ kata Ana. ‘Kapan Orlan masuk ke kamarku, dan kapan dia mengaku mengambil uang itu?’
Aleska mengusap pipi. Ia menjelaskan bahwa Orlan datang saat Ana sedang kuliah beberapa hari sebelumnya. Aleska membawanya masuk ke ruang tamu. Ketika Aleska pergi mengambil minum, Orlan mengatakan ia tertinggal kabel pengisi daya di kamar Ana dan masuk sebentar. Aleska tidak curiga karena ia mengira Orlan hanya mengambil barangnya.
Sehari sebelumnya, Orlan mengaku memiliki utang yang jatuh tempo. Ia mengatakan sudah mengambil uang Ana dari laci dan akan menggantinya setelah mendapat bayaran. Aleska memprotes, tetapi Orlan membalas dengan marah. Ia meminta Aleska merahasiakan kejadian itu agar Ana tidak salah paham.
‘Kenapa kamu tidak langsung bilang kepadaku?’ tanya Ana.
‘Aku takut Kak Ana menganggap aku ikut membantunya.’ Aleska kembali menangis. ‘Aku juga malu karena membiarkan dia masuk ke kamar Kakak.’
‘Aku kecewa kamu diam, tapi aku tidak menganggap kamu mengambil uang itu.’ Ana menahan suaranya agar tetap tenang. ‘Yang bertanggung jawab adalah orang yang mengambilnya. Kamu perlu berhenti melindungi tindakan itu.’
Aleska mengangguk berkali-kali. ‘Aku akan minta dia mengembalikan semuanya. Aku akan putus sama dia. Aku enggak mau ketemu dia lagi.’
Ia bangkit begitu cepat hingga kursinya bergeser. Ia mulai memasukkan beberapa pakaian ke tas. Ana berdiri dan menghentikannya dengan menjaga jarak, tidak menarik atau menghalangi tubuhnya.
‘Aleska, jangan pergi dalam keadaan panik. Kamu tidak harus kabur ke Bandung malam ini.’
‘Tapi aku malu tinggal di sini setelah ini terjadi.’
‘Kamu sepupuku dan ini juga tempat tinggalmu. Kita bisa cari jalan keluar dengan tenang. Aku tidak akan menyalahkanmu atas perbuatannya, tapi aku juga tidak bisa pura-pura uang itu tidak hilang.’
Aleska berhenti melipat baju. Ana mengambil tas kosong dari tangannya dan meletakkannya di lantai. Ia menawarkan segelas teh yang mulai dingin. Mereka duduk kembali. Ana bertanya apakah Orlan pernah mengambil uang atau barang Aleska sebelumnya. Aleska menggeleng, tetapi mengaku pernah meminjamkan uang beberapa kali dan belum semuanya dikembalikan.
‘Kamu bisa memutuskan hubungan ini karena kamu tidak lagi percaya kepadanya,’ kata Ana. ‘Bukan karena aku menyuruhmu. Tapi jangan biarkan dia membuatmu merasa bertanggung jawab atas utangnya.’
Aleska menatapnya. ‘Kak Ana benar-benar ingin aku putus?’
‘Aku ingin kamu aman dan dihormati. Keputusan tetap milikmu. Namun, mengambil uang orang tanpa izin itu serius. Dia harus mengembalikannya dan bertanggung jawab.’
Ana tidak meminta Aleska menutupi kejadian tersebut. Mereka bersama-sama mencatat jumlah uang yang hilang dan menyimpan catatan itu. Ana berkata ia akan menghubungi Orlan untuk meminta pengembalian secara jelas, tetapi tidak akan bertemu dengannya sendirian. Jika Aleska memilih berbicara dengannya, mereka bisa melakukannya melalui pesan atau ditemani orang yang dipercaya.
Aleska mengangguk. Ia mengeluarkan ponsel dan menulis kepada Orlan bahwa ia tahu uang Ana diambil tanpa izin, hubungan mereka selesai, dan uang itu harus dikembalikan. Tangannya gemetar saat menekan kirim, tetapi ia tidak menarik pesannya kembali.
Ana duduk di sampingnya tanpa mengambil ponsel atau mengatur kata-katanya. Ia membiarkan Aleska memilih sendiri. Setelah pesan terkirim, Aleska menangis lagi, kali ini karena hubungan yang ia harapkan ternyata tidak seperti yang ia kira.
‘Aku takut pulang ke Bandung,’ katanya. ‘Nanti keluarga bertanya kenapa aku kembali.’
‘Kamu tidak harus memutuskan malam ini. Kita bisa pikirkan pekerjaanmu dan tempat tinggalmu. Tapi jangan pergi hanya karena malu menghadapi akibat perbuatan Orlan.’
Aleska mengangguk pelan. Ana merangkul bahunya setelah meminta izin. Mereka tetap duduk di ruang kecil itu, menyusun langkah berikutnya satu demi satu. Uang yang hilang belum kembali, dan masalah dengan Orlan belum selesai, tetapi Aleska tidak perlu menghadapinya sendirian atau melarikan diri tanpa rencana.
Setelah tangis Aleska mereda, Ana mengambil buku catatan dan menuliskan jumlah yang hilang berdasarkan hitungan terakhirnya. Ia menyimpan catatan itu bersama rincian tanggal. Ia tidak ingin mengubahnya menjadi ancaman, tetapi keduanya perlu mengingat dengan jelas apa yang harus dikembalikan.
‘Aku akan kirim pesan juga,’ kata Ana. ‘Bukan untuk bertengkar. Aku ingin dia tahu uang itu harus kembali dan tidak boleh datang ke kos tanpa izin.’
Aleska setuju. Mereka menyusun kalimat singkat bersama-sama, lalu Ana mengirimkannya dari ponselnya sendiri. Ia menulis bahwa Orlan telah mengambil uang tanpa persetujuannya, meminta jumlah itu dikembalikan, dan menegaskan ia tidak mengizinkan Orlan masuk ke kamar atau kos lagi. Ia tidak mengancam atau menghina, hanya menyampaikan batas dengan jelas.
Pesan itu belum dibalas. Ana tidak mengirim pesan tambahan. Ia juga tidak menghubungi Orlan lewat telepon, sebab ia tidak ingin percakapan berubah menjadi pertengkaran. Aleska menyimpan salinan pesan yang ia kirim tentang hubungan mereka, lalu meletakkan ponsel menghadap ke bawah.
‘Kalau dia datang?’ tanya Aleska.
‘Kita tidak akan menemuinya sendirian. Kita bisa minta penjaga kos memastikan dia tidak masuk. Kalau dia ingin mengembalikan uang, kita atur di tempat umum dan ada orang yang menemani.’
Aleska mengangguk. Ia berkata ingin tetap tinggal di Jakarta dan melanjutkan mencari pekerjaan, tetapi malam ini ia belum sanggup memikirkan lamaran. Ana menyarankan mereka makan dulu. Aleska mengusap wajah, mengambil napas, lalu membantu Ana menyiapkan nasi dan lauk sederhana.
Di meja makan kecil, mereka tidak banyak bicara. Ana tidak menuntut Aleska segera pulih dari rasa malu, dan Aleska tidak meminta Ana menganggap uang itu tidak penting. Mereka sepakat bahwa hubungan mereka sebagai sepupu harus tetap jujur. Sebelum tidur, Ana menyimpan amplop yang tersisa di tempat yang lebih aman dan mencatat ulang anggaran bulanannya.
‘Kak, maaf karena aku membiarkan dia masuk,’ kata Aleska sebelum kembali ke kamarnya.
‘Aku dengar. Besok kita pikirkan langkah berikutnya, ya.’
Aleska mengangguk lalu menutup pintu kamarnya. Ana duduk sejenak di ruang tengah. Ia merasa kecewa, tetapi tidak ingin mengubah kekecewaan menjadi alasan untuk mengusir sepupunya. Ia akan memberi Aleska dukungan sekaligus meminta pertanggungjawaban Orlan. Keduanya dapat dilakukan tanpa mengorbankan satu sama lain.