Beberapa hari kemudian, Dean pulang dari kampus lebih awal. Ia meletakkan tas di ruang tamu dan mendapati Dea sedang duduk di lantai, menyusun kartu warna untuk tugas sekolah. Adiknya mengangkat kepala begitu mendengar pintu terbuka.
‘Abang pulang cepat.’
‘Rapatnya selesai. Mama mana?’
‘Di dapur.’ Dea tersenyum penuh arti. ‘Abang ajak teman makan malam, dong.’
Dean mengernyit. ‘Teman yang mana?’
‘Teman Sastra yang sering Abang ceritakan. Yang namanya Ana.’
‘Gue enggak sering cerita.’
‘Tadi Abang bilang dia sudah lebih sehat setelah ke klinik. Itu sudah cerita.’ Dea bangkit dan membersihkan potongan kertas dari bajunya. ‘Aku penasaran sama dia. Mama juga pasti senang kenalan.’
Dean menggeleng. Ia tidak ingin menjadikan Ana bahan rasa ingin tahu keluarga, apalagi ketika ia sendiri belum tahu bagaimana Ana akan merasa. ‘Kita enggak bisa mengundang orang mendadak tanpa tanya dulu.’
‘Ya tanya.’
Dea mengambil ponsel dari meja dan menyodorkannya kepada Dean. ‘Abang punya nomornya. Kirim pesan saja.’
Dean mengambil ponsel itu, tetapi belum mengetik. Ia memikirkan batas yang telah mereka bicarakan. Mengundang Ana makan malam di rumah bukan hal yang salah, tetapi ia harus memberinya pilihan yang jelas dan tidak membuatnya merasa wajib datang.
‘Kalau dia enggak bisa, kita enggak maksa,’ katanya.
‘Iya. Aku cuma mau kenal.’
Dean membuka percakapan dengan Ana. Ia menulis bahwa Dea ingin mengundangnya makan malam, lalu menambahkan bahwa ia bebas menolak dan tidak perlu merasa sungkan. Ia juga memberi tahu bahwa makan malam itu akan sederhana bersama keluarga.
Deanova : Dea pengin ngajak lo makan malam di rumah besok. Kalau lo enggak bisa atau enggak nyaman, enggak apa-apa. Jangan merasa wajib.
Dean meletakkan ponsel di meja. Dea duduk kembali, kali ini mencoba tidak menanyakan jawabannya setiap beberapa detik. Mama keluar dari dapur membawa sepiring buah dan melihat ponsel Dean.
‘Kamu mengundang teman?’
‘Dea yang minta. Dean sudah bilang Ana boleh menolak.’
Mama mengangguk. ‘Bagus. Jangan membuatnya merasa harus datang hanya karena Dea penasaran.’
Dea mengerucutkan bibir, tetapi tidak membantah. Mereka melanjutkan sore dengan menyiapkan makan malam untuk keluarga. Dean membantu Mama mengangkat belanjaan dan menyusun piring, sementara Dea menyelesaikan tugasnya di lantai.
Tak lama, ponsel Dean bergetar.
Ana : Terima kasih sudah mengundang. Kalau besok tidak ada kelas tambahan, aku datang sebentar. Aku tidak mau merepotkan Mama.
Dean membaca pesan itu lalu menjawab bahwa ia akan memberi tahu Mama, dan Ana tidak perlu membawa apa pun. Ia tidak ingin kunjungan itu menjadi beban atau alasan bagi Ana untuk membuktikan kedekatannya dengan keluarga Dean.
Deanova : Enggak merepotkan. Datang kalau memang kamu nyaman. Dea cuma ingin kenalan.
Ana membalas dengan emoji senyum sederhana. Dean menunjukkan jawaban itu kepada Dea. Adiknya bersorak kecil dan berlari memberi tahu Mama. Mama tersenyum, lalu mulai memikirkan menu yang mudah disiapkan.
‘Jangan berlebihan, Ma,’ kata Dean. ‘Ini cuma makan malam.’
‘Mama tahu. Mama hanya ingin menyambut temanmu dengan baik.’
Dean mengangguk. Namun ada kegelisahan kecil yang tak bisa ia jelaskan. Ia sendiri belum pernah menyebut nama lengkap Ana kepada keluarganya. Mereka tahu ia berteman dengan mahasiswi Sastra bernama Ana, tetapi belum pernah bertemu langsung dengannya. Dean berharap besok menjadi pertemuan biasa, tanpa membuat Ana merasa sedang diuji.
Malamnya, Dean membaca ulang pesan Ana untuk memastikan waktu kedatangannya. Ia mengirim alamat dan memberi tahu bahwa pagar rumah akan dibuka. Ia tidak menawarkan untuk menjemputnya karena Ana sudah menyebut akan datang dari kampus. Dea beberapa kali bertanya apakah Ana akan membawa buku atau cerita tentang kelas, tetapi Dean hanya menjawab bahwa Ana boleh membicarakan apa saja yang ia mau.
‘Abang jangan bikin dia enggak nyaman,’ kata Dea sambil menyusun alat tulis.
‘Gue tahu.’
‘Kalau Mama tanya macam-macam, bilang aja jangan.’
Dean tertawa. ‘Mama bisa jaga sikap. Dia enggak akan menginterogasi teman gue.’
Di dapur, Mama mendengar percakapan itu dan tersenyum. Ia meminta Dean membantu menyusun meja makan, lalu memastikan Dea tidak memilih menu yang terlalu pedas. Mereka sepakat memasak makanan sederhana yang disukai semua orang.
Keesokan harinya, Ana menjalani kelas seperti biasa. Ia tidak menceritakan undangan itu kepada banyak orang. Ia masih merasa gugup, tetapi bukan karena takut kepada keluarga Dean. Ia khawatir dirinya tanpa sengaja menyebut sesuatu yang seharusnya tetap ia simpan. Ia mengingatkan diri bahwa ia hanya datang makan malam sebagai teman.
Sepulang kuliah, Ana mengirim pesan kepada Dean bahwa ia sedang dalam perjalanan. Dean menjawab bahwa mereka menunggunya, lalu kembali membantu Mama di dapur. Dea menata sendok dan garpu dengan penuh semangat. Rumah itu terasa lebih ramai dari biasanya, meski tak seorang pun tahu bahwa pertemuan malam itu akan membuka kembali kenangan lama.
Sebelum tidur, Dean mengirim satu pesan untuk memastikan Ana masih nyaman datang. Ia tidak meminta jawaban cepat. Ana membalas bahwa ia tetap akan datang selama tidak ada perubahan jadwal. Dean mengucapkan terima kasih dan tidak melanjutkan obrolan dengan pertanyaan lain.
Keesokan paginya, Mama bertanya apakah Ana punya pantangan makanan. Dean menjawab ia tidak tahu, lalu menyarankan agar Mama menanyakan langsung jika perlu. Mama memilih memasak menu sederhana dan berkata tamu tidak seharusnya merasa harus menjawab serangkaian pertanyaan sebelum makan.
Dea berusaha mengingat semua yang pernah Dean ceritakan. Ia bertanya apakah Ana menyukai puisi, apakah ia suka kue, dan apakah ia punya bandana merah muda. Dean menjawab bahwa ia tidak tahu semua hal itu, lalu mengingatkan adiknya bahwa Ana bukan tokoh dalam kuis.
‘Aku cuma mau menyiapkan sesuatu yang dia suka,’ protes Dea.
‘Kita bisa menyambutnya tanpa menebak-nebak. Kalau dia mau cerita, nanti dia cerita sendiri.’
Dea akhirnya memilih menyiapkan kartu kecil bertuliskan selamat datang. Ia menaruhnya di meja makan dan memastikan namanya tidak ditulis terlalu besar. Dean tersenyum melihat usaha adiknya. Ia ingin Ana merasa diterima, tetapi tidak ingin membuatnya seolah sudah menjadi bagian keluarga sebelum ia sendiri menginginkannya.
Menjelang sore, Dean menyelesaikan tugas kampus dan membantu Papa menata kursi. Mama memeriksa masakan, sementara Dea membawa kartu itu ke ruang makan. Rumah menjadi hangat oleh aroma makanan. Dean beberapa kali melihat jam, lalu mengingatkan dirinya bahwa Ana akan datang sesuai waktunya. Ia tidak perlu menunggu di pagar atau meneleponnya berulang kali.