Pagi itu Ana menjalani kelas dengan susah payah memusatkan perhatian. Ia sudah menerima undangan Dean, tetapi rasa gugupnya datang dari kenangan yang sulit ia abaikan. Ia mengenal keluarga itu dari masa kecilnya, dari foto-foto lama dan beberapa pertemuan yang tak lagi diingat Dean. Ia tidak tahu apakah Mama Dean masih mengenal wajahnya atau hanya mengenali namanya.
Ana membuka pesan Dean sekali lagi. Undangan itu jelas: ia boleh menolak, dan tidak ada kewajiban untuk datang. Ia bisa membatalkan rencana dengan alasan lelah. Namun ia tak ingin terus menghindari keluarga itu hanya karena takut akan pertanyaan yang mungkin muncul. Ia akan datang sebagai teman Dean, menjaga percakapan tetap ringan, dan pulang jika merasa tidak nyaman.
Saat istirahat, ia mengirim pesan kepada Bagas bahwa ia akan makan malam di rumah Dean. Bagas bertanya apakah ia yakin. Ana menjawab bahwa ia ingin mencoba, dan meminta Bagas tidak ikut campur kecuali ia sendiri menghubunginya. Bagas membalas singkat bahwa ia mengerti. Ana menyimpan ponsel dan kembali ke kelas.
Setelah kuliah, Ana singgah sebentar ke toko kue kecil dekat kampus. Ia memilih sekotak kue sederhana untuk dibawa, bukan sebagai cara membeli penerimaan keluarga Dean, melainkan tanda terima kasih atas undangan. Penjual membungkusnya dengan kertas polos. Ana meletakkan kotak itu di dalam tas kain agar tidak mudah bergeser.
Di perjalanan, ia berulang kali mengingatkan diri bahwa ia tidak harus menjelaskan masa lalunya sebelum siap. Jika Mama Dean mengenalinya, Ana akan menjawab seperlunya. Jika Dean bertanya, ia akan meminta waktu. Ia tidak datang untuk membuka semua rahasia dalam satu malam.
Sore itu, Ana memastikan kelas tambahannya dibatalkan sebelum bersiap ke rumah Dean. Ia mengenakan pakaian sederhana dan membawa sekotak kue kecil sebagai buah tangan, meski Dean sudah mengatakan ia tidak perlu membawa apa pun. Ia tidak ingin datang dengan tangan kosong setelah menerima undangan keluarga.
Ana naik taksi daring dari kampus. Sepanjang perjalanan, ia beberapa kali memeriksa alamat yang dikirim Dean. Rumah itu berada di komplek yang sudah pernah ia datangi. Ingatan tentang foto keluarga di ruang tamu membuat dadanya terasa hangat sekaligus gugup. Ia sudah mengenal wajah Mama dan Papa Dean jauh sebelum Dean mengenal dirinya, tetapi malam ini mereka akan bertemu sebagai orang asing.
Dean menunggu di depan pagar. Begitu mobil berhenti, ia mendekat dan membuka pagar.
‘Kamu tidak perlu repot menunggu di luar,’ kata Ana.
‘Enggak repot. Gue cuma mau memastikan lo nemu rumahnya.’ Dean melirik kotak di tangan Ana. ‘Tadi gue bilang enggak perlu bawa apa-apa.’
‘Aku tahu. Ini cuma kue kecil.’
Dean menerima kotak itu setelah Ana menyerahkannya. Ia tidak mengomentari lebih jauh. ‘Dea sudah dari tadi nungguin. Tapi kalau lo ingin pulang kapan saja, bilang aja.’
Ana mengangguk dan mengikutinya masuk. Mama menyambut di ruang makan dengan senyum ramah, sementara Papa sedang menata gelas. Dea berlari kecil dari ruang keluarga.
‘Kak Ana!’ serunya.
Ana tersenyum. ‘Hai, Dea. Apa kabar?’
‘Baik. Aku senang akhirnya ketemu Kak Ana.’
Dean memperkenalkan mereka secara singkat. ‘Ma, Pa, ini Ana, teman gue dari Sastra. Ana, ini Mama, Papa, sama Dea.’
Mama yang sejak tadi memperhatikan wajah Ana mendadak terdiam. Senyumnya memudar, matanya menelusuri wajah gadis itu seakan sedang memastikan sesuatu. Ana merasakan tubuhnya menegang. Ia belum sempat duduk ketika Mama menyebut nama yang tak pernah ia dengar dari Dean.
‘Anaphalis?’
Wajah Ana kehilangan warna. Kotak kue yang dipegang Dean hampir terlepas, tetapi ia segera menahannya. Papa menoleh kepada Mama, lalu kepada Ana. Dea berhenti tersenyum, bingung melihat suasana mendadak berubah.
‘Ma,’ kata Dean. ‘Kok Mama tahu nama lengkapnya?’
Mama tidak langsung menjawab. Ia masih memandang Ana, matanya berkaca-kaca. ‘Kamu benar-benar Anaphalis Javanica?’
Ana mengangguk kecil. Ia mencoba tersenyum, tetapi bibirnya terasa kaku. ‘Iya, Tante.’
‘Tante?’ Mama mengulang pelan, seperti kata itu menyakitinya. Ia maju setapak, lalu berhenti, menahan diri agar tidak langsung menyentuh Ana. ‘Kamu sudah di Jakarta selama ini?’
Dean bergantian menatap Mama dan Ana. Ia tidak memahami percakapan itu. ‘Kalian pernah kenal?’
Ana menunduk. Ia tidak ingin membuat pertemuan pertama ini berubah menjadi pengungkapan besar yang belum siap ia hadapi. Mama tampak menahan tangis, tetapi tidak memaksa Ana menjelaskan di depan semua orang.
‘Kita makan dulu,’ kata Papa dengan lembut, mencoba memberi waktu. ‘Nanti kita bicara pelan-pelan.’
Dea menarik kursi untuk Ana. ‘Kak Ana, duduk dulu.’
Ana menerima bantuan itu dan duduk. Dean meletakkan kue di meja, lalu duduk di seberangnya. Ia masih menunggu jawaban, tetapi melihat Ana pucat, ia menahan pertanyaan yang hampir keluar.
Mama menyajikan makanan dengan gerakan lebih lambat dari biasanya. Ia tetap berusaha berbicara ringan kepada Dea dan Papa, tetapi sesekali pandangannya kembali kepada Ana. Ana menjawab seperlunya, berusaha mengikuti percakapan tentang kampus dan tugas kuliah. Setiap kali Mama menyebut namanya, Ana menegang sedikit.
Dean mengamati keduanya. Ia tidak tahu apakah ini berkaitan dengan pertanyaan Ana tentang pernah bertemu sebelumnya. Ia juga tidak tahu mengapa Mama mengenali nama lengkap Ana. Namun ia ingat janji untuk tidak memaksa Ana menjelaskan sesuatu sebelum siap.
Di tengah makan, Dea bercerita tentang tugas sekolahnya. Ana menanggapi dengan senyum kecil dan bertanya tentang gambar yang dibuat Dea. Ketegangan sempat melonggar. Mama mendengarkan, tetapi tetap menyimpan sesuatu yang jelas ingin ia tanyakan.
Setelah makan selesai, Mama berdiri dan mengumpulkan piring. Ana menawarkan bantuan. Mama mengangguk lalu berkata bahwa mereka bisa membawa piring ke dapur bersama. Dean hendak ikut, tetapi Mama menoleh kepadanya.
‘Dean, temani Papa dan Dea sebentar. Mama mau bicara dengan Ana.’
Dean memandang Ana untuk memastikan ia nyaman. Ana mengangguk kecil. Mama dan Ana berjalan menuju dapur, sementara Dean tertinggal dengan pertanyaan yang semakin banyak. Ia tidak mengejar mereka. Untuk pertama kalinya, ia membiarkan Ana menentukan kapan ia akan diberi penjelasan.