Mama berjalan lebih dulu ke dapur sambil membawa dua piring. Ana mengikutinya dengan langkah hati-hati. Dari ruang makan, suara Papa dan Dea terdengar membicarakan tugas sekolah. Dean tidak mengikuti mereka. Ia tetap duduk, menghormati anggukan Ana sebelum membiarkannya pergi bersama Mama.
Di dapur, Mama meletakkan piring di bak cuci. Tangannya bergerak seperti biasa, tetapi sesekali ia menatap Ana. Ana berdiri dekat meja, masih memegang napkin yang dibawanya dari ruang makan. Ia belum tahu harus mengatakan apa. Nama lengkapnya yang disebut Mama tadi terus terngiang, membuat semua hal yang ia rencanakan untuk malam itu berantakan.
‘Kamu bisa bantu Mama membilas piring?’ tanya Mama lembut.
Ana mengangguk. Ia mengambil piring dan membilasnya satu per satu. Air mengalir, menutupi keheningan yang tumbuh di antara mereka. Mama tidak langsung bertanya. Ia memberi Ana waktu menyelesaikan piring, seolah ingin memastikan gadis itu tidak merasa terpojok.
‘Mama mengenal nama lengkapku,’ kata Ana akhirnya.
Mama menghentikan gerakannya. ‘Iya.’
‘Dean belum tahu.’
‘Mama tahu.’
Ana meletakkan piring di rak pengering. ‘Aku belum siap menjelaskan semuanya kepadanya.’
Mata Mama berkaca-kaca, tetapi ia berusaha tersenyum. ‘Kamu tidak perlu menjelaskan malam ini. Mama hanya ingin tahu apakah kamu baik-baik saja.’
Ana menunduk. Ia ingin menjawab bahwa ia baik, tetapi jawaban itu terasa terlalu sederhana. Ada bagian hidupnya yang ia tinggalkan begitu saja ketika pindah ke Jakarta. Ada orang-orang yang pernah ia kenal, dan ada alasan mengapa ia tidak datang menemui Mama meskipun tinggal di kota yang sama.
‘Aku bingung harus mulai dari mana,’ ucapnya.
‘Mulai dari yang kamu sanggup. Kalau belum sanggup, tidak apa-apa.’
Ana menarik napas. Sikap Mama yang tidak mendesak justru membuatnya semakin ingin menangis. Ia tidak mau membuat Dean curiga, tetapi ia juga tidak ingin bersikap dingin kepada Mama. Mereka punya hubungan yang jauh lebih lama daripada yang diketahui Dean, dan malam ini Ana tak bisa berpura-pura bahwa mereka baru bertemu.
Mama berhenti di sisi meja, memberi Ana ruang. ‘Kamu kelihatan kaget. Apa kamu ingin duduk dulu?’
Ana mengangguk. Ia meletakkan lap dan duduk di kursi dekat jendela. Mama menuangkan segelas air, lalu meletakkannya di depannya. Mereka tidak membicarakan masa lalu. Mama hanya bertanya apakah perjalanan dari kampus melelahkan dan apakah Ana masih nyaman tinggal di kosnya.
‘Aku baik-baik saja,’ jawab Ana. ‘Aku cuma belum menyangka akan bertemu Tante lagi seperti ini.’
Mama menerima panggilan Tante tanpa membantah. ‘Mama mengerti. Kita tidak harus membicarakan semuanya malam ini.’
Ana menunduk, merasa lega sekaligus bersalah. Ia ingin memberi penjelasan, tetapi belum bisa menyusunnya. ‘Aku butuh waktu untuk memahami apa yang harus aku katakan.’
‘Baik. Kalau kamu ingin bicara nanti, Mama akan mendengarkan.’
Ana menatapnya. ‘Terima kasih.’
Mama tersenyum kecil. ‘Kita lanjut bereskan piring saja. Dean dan yang lain menunggu.’
Ana kembali membilas piring yang tersisa. Mereka membicarakan hal ringan sebentar: kuliah Ana, perjalanan ke rumah, dan kue yang dibawanya. Mama menanyakan apakah ia masih suka teh hangat. Ana tersenyum kecil dan menjawab bahwa ia lebih sering minum air putih sekarang.
Ketika mereka selesai, Mama menyentuh bahu Ana singkat setelah meminta izin lewat tatapan. Mereka membawa piring bersih kembali ke ruang makan. Dean menoleh saat mereka keluar, mencari perubahan di wajah Ana. Ana berusaha tersenyum dan duduk kembali. Ia belum memberi tahu apa pun, tetapi ia juga tidak merasa harus melarikan diri.
Malam berlanjut dengan percakapan keluarga yang ringan. Dea bercerita tentang kelasnya, Papa menanyakan kegiatan kampus Dean, dan Ana ikut menanggapi saat diminta. Mama tidak menyebut masa lalu mereka. Ia hanya sesekali menatap Ana dengan kasih yang tidak bisa disamarkan sepenuhnya.
Ketika Dea memperlihatkan kartu kecilnya, Ana berterima kasih dengan tulus. Ia mengatakan bahwa gambar bunga di kartu itu mengingatkannya pada tugas seni yang pernah ia buat di sekolah. Dea antusias menanyakan gambar apa, lalu Ana menjawab singkat tentang bunga di pegunungan tanpa menyebut kenangan yang mungkin membuat Mama kembali sedih.
Dean duduk tidak jauh dari mereka. Ia mendengar sebagian percakapan, tetapi tidak ikut memotong. Ana merasa lega karena ia tidak terus-menerus menatapnya untuk mencari jawaban. Dean memberi ruang, dan itu membuatnya lebih mudah bertahan di meja makan.
Papa mengajak Dean membahas seminar. Ia bertanya berapa banyak peserta yang sudah mendaftar dan apakah pembicara utama telah memberi konfirmasi. Dean menjawab sambil membuka catatan di ponsel. Ana mendengarkan, merasa ada kehangatan di antara mereka yang pernah ia kenal lama, meskipun kini ia duduk sebagai tamu.
Ia tidak tahu apakah suatu saat Dean akan mengingat semuanya. Ia hanya tahu pertemuan malam ini belum saatnya membahas itu. Ia akan pulang, beristirahat, dan menimbang bagaimana menjaga janji Mama tanpa membuat Dean merasa dibohongi lebih lama dari yang diperlukan.
Saat Ana pamit, Mama mengantarnya sampai pintu. Ia tidak memeluk lagi tanpa bertanya. ‘Hati-hati di jalan, ya.’
‘Iya, Tante. Terima kasih sudah mengundangku.’
Dean mengantar Ana sampai pagar. Ia tidak bertanya apa yang dibicarakan di dapur. ‘Kalau lo mau cerita, gue siap dengerin. Tapi enggak harus sekarang.’
Ana menatapnya sejenak. ‘Terima kasih, Deanova.’
Ia pulang dengan perasaan campur aduk. Mama mengenalinya, Dean masih belum tahu, dan rahasia yang ia simpan terasa semakin sulit dijaga. Namun untuk malam ini, Mama telah memberinya waktu. Ana berniat menghormati kepercayaan itu dan menyampaikan kebenaran ketika ia siap.
Di dalam mobil, Ana memandang kotak kue yang sudah kosong di kursi sebelah. Ia lega Dea menyukainya. Hal sederhana itu mengingatkannya bahwa ia masih bisa hadir dalam keluarga tersebut tanpa langsung menjelaskan seluruh masa lalu. Ia akan mengambil langkah satu demi satu.
Malam itu Dean tidak mengejar Ana dengan pesan lain. Mama juga tidak mengirim pesan pribadi. Mereka membiarkan pertemuan itu berakhir tanpa menambah beban. Ana tahu percakapan berikutnya pasti datang, tetapi untuk malam ini ia masih bisa bernapas dan pulang dengan tenang.