Pagi berikutnya, Dean menunggu sampai Dea berangkat sekolah dan Papa keluar untuk urusan kantor. Mama sedang merapikan kamar tidur ketika Dean mengetuk pintu. Ia meminta izin masuk dan berdiri dekat lemari, menjaga suaranya tetap tenang.
‘Ma, aku mau tanya soal Ana semalam.’
Mama berhenti melipat pakaian. ‘Apa yang ingin kamu tahu?’
‘Kenapa Mama tahu nama lengkapnya? Kenapa dia kelihatan takut waktu Mama menyebutnya?’
Mama menarik napas. Ia sudah menduga Dean akan bertanya. Ia juga tidak ingin berbohong, tetapi telah berjanji kepada Ana untuk tidak membuka rahasia itu sebelum seminar selesai.
‘Dean, itu cerita Ana. Mama tidak bisa menceritakannya tanpa izinnya.’
‘Tapi Mama menangis.’
‘Mama memang punya perasaan sendiri. Itu tidak berarti Mama boleh membuka sesuatu yang Ana belum siap ceritakan.’
Dean berjalan dua langkah, lalu berhenti. ‘Aku bukan mau memaksa Ana. Aku cuma ingin tahu apakah ada masalah yang bisa aku bantu.’
‘Kalau dia butuh bantuanmu, dia akan bilang. Kamu bisa bertanya langsung kepadanya, tapi jangan menuntut jawaban sebelum dia siap.’
Dean mengusap wajahnya. ‘Apa ini berkaitan dengan kenapa dia bilang kami pernah bertemu?’
Mama tidak menjawab pertanyaan itu. Ia hanya berkata, ‘Tanyakan sendiri pada Ana, tapi biarkan dia siap.’
Dean menghela napas berat. Ia ingin menyela, ingin berkata bahwa ia tidak akan menggunakan informasi itu untuk menekan Ana. Namun ia menyadari Mama sedang menjaga janji, bukan menuduhnya. Ia menunduk dan membiarkan kalimat itu menetap.
‘Aku sudah menunggu. Tapi sekarang semua orang seperti tahu sesuatu tentang Ana kecuali aku.’
‘Kamu baru mengenalnya sebagai teman. Ada bagian hidupnya yang tidak otomatis menjadi milikmu.’
Kalimat itu terasa menyakitkan karena benar. Dean terdiam cukup lama. Ia sadar ia kerap menganggap rasa dekat sebagai alasan untuk mengetahui lebih banyak. Namun ia belum punya hubungan yang memberi hak atas masa lalu Ana.
‘Mama mengenalnya dari dulu?’ tanyanya.
Mama memejamkan mata sejenak. ‘Dean, Mama tidak akan menjawab.’
Dean mengangguk kecil. Ia merasa frustrasi, tetapi tidak ingin membuat Mama menangis lagi. ‘Oke. Aku enggak akan maksa.’
Ia melangkah menuju pintu. Mama memanggil namanya. Dean berhenti, berharap ibunya akan memberi penjelasan, tetapi Mama hanya berkata bahwa ia menyayanginya dan tahu ia ingin melakukan yang benar.
‘Aku tahu, Ma.’
Dean keluar dari kamar dengan kepala penuh pertanyaan. Ia tidak marah kepada Mama, tetapi sulit menerima bahwa ia harus menunggu tanpa tahu berapa lama. Ia mengambil kunci mobil dan berangkat ke kampus. Di jalan, ia mengulang kalimat Mama: tanyakan sendiri pada Ana, tapi biarkan dia siap.
Ia berjanji akan mematuhi batas itu. Namun ia juga tidak ingin berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Jika Ana memang menyimpan sesuatu yang menyangkut hubungan mereka, ia perlu berbicara dengannya suatu hari nanti. Ia hanya harus melakukannya dengan cara yang tidak membuat Ana merasa terpojok.
Dean menghabiskan pagi di kampus dengan perasaan tertinggal. Ia mengikuti kuliah, mencatat seperlunya, lalu duduk bersama Gus saat istirahat. Gus menyadari Dean lebih pendiam dari biasanya, tetapi tidak menanyakan masalahnya di depan orang lain.
‘Lo sudah ngobrol sama Mama?’ tanya Gus setelah mereka berjalan ke halaman.
‘Sudah. Mama bilang aku harus tanya Ana sendiri dan membiarkannya siap.’
‘Kedengarannya masuk akal.’
Dean memandang temannya. ‘Gue enggak bilang itu salah. Gue cuma kesal karena merasa semua orang tahu sesuatu sementara gue enggak.’
‘Perasaan lo bisa dimengerti. Tapi bukan berarti orang lain wajib cerita.’
Dean mengangguk. Ia tahu Gus tidak sedang memihak Ana atau Mama. Ia hanya mengingatkan batas yang sama. ‘Gue bakal tunggu. Tapi gue enggak mau terus pura-pura tidak ada yang berubah.’
‘Lo bisa bilang itu tanpa menuntut isi ceritanya.’
Saran itu membuat Dean berpikir. Ia bisa meminta Ana berbicara tentang kepercayaan mereka, bukan menuntut masa lalunya. Ia ingin tahu apakah Ana akan tetap bersamanya sebagai teman setelah semua yang belum terucap dibuka nanti. Namun ia belum ingin mengirim pesan dalam keadaan frustrasi.
Sepulang kuliah, Dean mengemudi melewati taman kampus. Ia melihat bangku tempat ia biasa duduk bersama Ana setelah rapat seminar. Ia tidak berhenti. Belum saatnya membicarakan hal itu, dan ia tidak ingin membuat Ana merasa sedang diawasi.
Di rumah, Mama sedang membaca di ruang keluarga. Dean menyapanya seperti biasa dan bertanya apakah ia ingin dibantu menyiapkan makan malam. Mama menjawab tidak perlu. Keduanya tidak kembali membicarakan Ana. Dean berusaha menghormati keputusan itu, meski keheningan di antara mereka terasa baru.
Malamnya, Dea bercerita tentang sekolah. Dean mendengarkan dan ikut tertawa ketika adiknya menirukan gurunya. Ia tidak ingin kecemasannya membuat suasana rumah ikut berat. Setelah Dea tidur, Dean kembali ke kamar dan melihat jadwal Seminar Nasional di kalender. Acara itu masih beberapa minggu lagi.
Ia tidak akan meminta Ana mempercepat janji yang dibuatnya. Namun ia berharap setelah seminar, Ana benar-benar bersedia bicara. Dean menulis catatan singkat untuk dirinya sendiri: ‘Tanya dengan tenang. Dengarkan sampai selesai. Jangan memutuskan jawaban sebelum dia bicara.’
Ia menyimpan catatan itu di laci meja. Rasa frustrasinya belum hilang, tetapi kini ia tahu langkah berikutnya bukan mendesak Mama. Jika ingin jawaban, ia harus berbicara dengan Ana dengan cara yang memberi ruang bagi pilihannya.
Dean mencuci gelasnya dan meletakkannya di rak. Ia melakukan semuanya dengan perlahan, berusaha menenangkan pikirannya lewat rutinitas. Saat akhirnya masuk kamar, ia mematikan notifikasi grup panitia dan bersiap tidur.
Dean membawa rasa frustrasi itu ke kampus, tetapi tidak membiarkannya menguasai percakapan dengan orang lain. Ia menyelesaikan tugasnya dan tidak menghubungi Ana untuk menanyakan hal yang sama. Mama juga tidak mengirim petunjuk atau cerita terselubung. Masing-masing membiarkan janji Ana tetap menjadi miliknya.
Menjelang sore, Dean pulang dan membantu Dea mengerjakan soal matematika. Ia tetap tertawa ketika adiknya salah menjumlahkan angka, tetapi pikirannya sesekali kembali kepada pertanyaan yang belum terjawab. Ia sadar bahwa menunggu tidak berarti ia tidak peduli. Menunggu adalah cara menghormati keputusan Ana.