Sejak berbicara dengan Mama, Dean berusaha tidak menghubungi Ana hanya untuk menanyakan hal yang sama. Ia tahu Ana sudah meminta waktu. Namun semakin ia menahan pertanyaan, semakin sadar ia bahwa ia tetap perlu menyampaikan bagaimana perasaannya tentang rahasia yang tiba-tiba muncul di antara mereka.
Pagi itu ia menyelesaikan rapat panitia lebih cepat. Sebelum kembali ke gedung FK, ia berjalan melewati taman kecil di antara fakultas. Bangku yang biasa mereka gunakan masih kosong. Dean berhenti sebentar, lalu meneruskan langkah. Ia tidak ingin menunggu Ana atau membuatnya merasa sedang diawasi.
Di gedung Sastra, Ana baru selesai kelas ketika Dean melihatnya di koridor. Ia tidak langsung menghampiri. Ia menunggu sampai Ana selesai bicara dengan teman sekelasnya. Ketika temannya berpamitan, Dean mendekat dengan sikap tenang.
'An, lo ada waktu sebentar?' tanyanya.
Ana menatapnya. 'Ada apa?'
'Gue ingin ngobrol soal makan malam kemarin dan soal Mama. Enggak harus sekarang kalau lo belum siap.'
Ana menggenggam tali tas. Ia sudah menebak pembicaraan itu akan datang, tetapi tetap merasa gugup. 'Aku masih belum bisa menjelaskan semuanya.'
'Gue enggak minta lo jelasin sekarang. Gue cuma ingin kita menentukan waktu supaya pembicaraan ini enggak terus menggantung.'
Ana mengamati wajah Dean. Ia tidak melihat amarah, hanya kegelisahan yang berusaha ia kendalikan. Dean tidak berdiri menghalangi jalannya dan tidak memaksa Ana menjawab saat itu juga.
'Besok setelah kelas, kita bisa bicara di taman kampus,' kata Ana. 'Tapi aku belum tahu apakah aku sanggup menceritakan semuanya.'
'Gue menghargai itu. Kita bisa mulai dari yang lo siap ceritakan. Kalau lo minta berhenti sebentar, kita berhenti.'
Ana menarik napas. 'Aku tidak mau menghindar. Aku cuma ingin menjelaskan dengan benar, bukan asal bicara karena panik.'
'Oke. Besok kita ketemu di taman. Gue enggak akan menanyai lo hari ini.'
Kesepakatan itu belum memberi Dean jawaban, tetapi membuat percakapan mereka terasa lebih jelas. Ana mengangguk dan melihat jam. Kelas berikutnya segera dimulai.
'Aku harus masuk kelas.'
'Iya. Sampai besok, An.'
Dean membiarkannya pergi tanpa menambah pertanyaan. Ia merasa sedikit lega karena Ana memilih waktu untuk bicara, tetapi tahu ia harus menghormati batas yang telah mereka sepakati.
Ana masuk ke kelas dan berusaha mengikuti materi. Pikirannya masih tertahan pada percakapan singkat di koridor. Dean tidak menuntut cerita, tetapi ia meminta agar mereka tidak membiarkan masalah itu menggantung selamanya. Ana bisa memahami permintaannya. Ia juga tidak ingin hubungan mereka dipenuhi jawaban setengah-setengah.
Saat istirahat, Ana mengirim pesan kepada Bagas. Ia memberi tahu bahwa ia akan bicara dengan Dean besok, tetapi belum tentu menceritakan semuanya. Bagas menjawab bahwa keputusan itu miliknya. Ia hanya mengingatkan Ana agar tidak mengatakan sesuatu karena merasa berutang pada Dean.
Ana : Aku ingin bicara karena aku tidak mau menghindar lagi.
Bagas : Kalau begitu, lakukan karena itu pilihan lo. Ambil waktu kalau lo butuh.
Ana menyimpan ponsel. Ia tahu Bagas khawatir, tetapi ia tidak ingin menjadikan kekhawatiran sahabatnya sebagai alasan menunda selamanya. Dean berhak menyampaikan perasaannya, dan Ana berhak menentukan bagian mana dari masa lalunya yang siap ia buka.
Di sisi lain kampus, Dean kembali ke rapat. Gus menanyakan apakah ia sudah berbicara dengan Ana. Dean menjawab bahwa mereka sepakat bertemu besok. Ia tidak menceritakan detail percakapan itu. Ia hanya mengatakan bahwa Ana akan menentukan sendiri apa yang bisa ia sampaikan.
'Bagus. Jangan bikin pertemuan besok jadi sidang,' kata Gus.
Dean tertawa kecil. 'Gue tahu. Gue cuma mau dengar langsung dari dia.'
'Dengar berarti jangan sibuk menyiapkan bantahan.'
Dean mengangguk. Ia akan mencoba. Ia tidak ingin membawa daftar pertanyaan atau menyela setiap kali Ana berhenti. Ia ingin tahu kebenaran, tetapi juga ingin Ana tetap merasa aman berbicara dengannya.
Sore itu, Ana mengirim pesan bahwa kelasnya selesai dan ia sudah menuju halte. Dean membalas dengan singkat, lalu menutup ponsel. Mereka tidak membahas pertemuan esok. Ana pulang dengan pikirannya sendiri, sementara Dean menyelesaikan pekerjaannya di kampus.
Malamnya, Ana menyiapkan catatan seminar dan memeriksa jadwal kelas. Ia tidak menulis naskah pengakuan. Ia hanya mengingat apa yang ingin ia sampaikan: ia mengenal keluarga Dean lebih lama daripada yang Dean kira, Mama pernah menjadi bagian dari masa lalunya, dan ada alasan ia belum siap membuka semuanya. Ia belum memutuskan urutan ceritanya, tetapi setidaknya ia tidak akan membatalkan pertemuan.
Dean juga mempersiapkan diri dengan caranya sendiri. Ia menyimpan ponsel, menutup laptop, dan berusaha tidur tanpa menebak isi cerita Ana. Besok ia akan datang ke taman, bertanya dengan tenang, dan mendengarkan. Untuk malam ini, mereka sama-sama menunggu percakapan yang telah disepakati.
Sebelum tidur, Ana menaruh buku catatan di meja agar mudah dibawa besok. Ia tidak ingin menghafalkan kalimat-kalimat yang terasa kaku. Ia hanya ingin mengingat bahwa ia boleh berhenti kapan pun, dan Dean telah setuju memberinya ruang saat pertemuan besok.
Pagi akan datang tanpa menjanjikan semua jawaban. Ana tahu ia hanya perlu menepati kesepakatan untuk bertemu, lalu membiarkan percakapan berjalan sesuai kemampuannya. Dean pun berusaha menerima bahwa mendengarkan mungkin lebih sulit daripada bertanya.
Ia mengatur alarm lebih awal agar tidak terburu-buru. Di sisi lain kota, Dean juga menyetel alarmnya dan menyiapkan catatan seminar untuk dibawa. Mereka tidak mengirim pesan lagi malam itu. Pertemuan esok sudah disepakati, dan tidak perlu diisi dengan janji-janji tambahan.
Ana mematikan lampu dan memejamkan mata. Rasa cemas masih ada, tetapi kini ia tahu kapan mereka akan bertemu dan apa yang diharapkan Dean. Ia tidak perlu menyiapkan jawaban sempurna; ia hanya perlu datang dan berkata jujur tentang batas yang ia miliki.
Ia menarik selimut dan memusatkan pikiran pada napasnya sampai kantuk perlahan datang.
Ia berharap esok mereka bisa bicara tanpa saling melukai.
Ia ingin memulai dengan jujur dan saling mendengarkan.
Ia mengingat orang-orang yang selama ini mengingatkannya untuk tidak mengecilkan kebutuhan sendiri. Dukungan mereka tidak menggantikan keputusannya, tetapi membuatnya berani menjalankannya.