Keesokan harinya, Dean datang ke taman kampus beberapa menit sebelum waktu yang mereka sepakati. Ia membawa map seminar, tetapi tidak membukanya. Ia memilih duduk di bangku yang sama seperti kemarin dan menunggu Ana tanpa mengirim pesan tambahan.
Ana muncul dari arah gedung Sastra setelah kelasnya selesai. Ia membawa dua buku dan tampak berusaha tenang. Dean berdiri ketika melihatnya, lalu menunggu sampai Ana duduk lebih dulu. Mereka tidak langsung berbicara. Suara mahasiswa yang berlalu-lalang di jalur utama mengisi jeda.
‘Makasih sudah datang,’ kata Dean.
‘Aku sudah janji.’
Dean mengangguk. Ia berusaha tidak membuka dengan daftar pertanyaan. ‘Gue mau dengar dari lo sendiri. Kenapa Mama mengenal nama lengkap lo? Dan kenapa lo kelihatan seperti pernah bertemu keluarga gue sebelumnya?’
Ana memandang buku di pangkuannya. Ia tahu pertanyaan itu wajar. Ia juga tahu setiap jawaban akan membuka jalan ke pertanyaan berikutnya. ‘Aku memang sudah mengenal Mama dan Papa sebelum kamu mengenalku.’
Dean terdiam. ‘Sejak kapan?’
‘Sudah lama. Aku belum siap menjelaskan semua detailnya sekarang.’
Ia mengangkat wajah dan menatap Dean. ‘Aku berjanji akan menjelaskan semuanya setelah Seminar Nasional selesai. Aku tidak mau membuatmu menebak-nebak terus, tapi aku perlu waktu untuk menyusun cerita yang benar.’
Dean menahan napas. Ia ingin bertanya apa hubungan Ana dengan keluarganya dan mengapa mereka tidak pernah bertemu lagi. Namun ia melihat Ana berusaha hadir dan menjawab sejauh yang sanggup. Ia tidak ingin menghancurkan kepercayaan itu dengan mendesak.
‘Lo minta gue enggak tanya dulu sampai seminar selesai?’
‘Iya. Tolong jangan menanyakan detailnya sebelum itu.’
Dean mengusap telapak tangannya pada celana. Ia tidak senang dengan ketidakpastian itu, tetapi ia juga tidak ingin memberi ultimatum yang membuat Ana merasa terjebak. ‘Gue bisa menunggu sampai seminar selesai. Tapi gue minta satu hal juga: jangan menghindar atau pura-pura enggak kenal gue. Kalau lo butuh jarak, bilang langsung.’
Ana mengangguk. ‘Aku janji tidak menghindar. Kalau aku belum siap bicara, aku akan bilang.’
‘Dan kalau ada sesuatu yang menyangkut keselamatan lo, lo bisa tetap bilang sekarang. Gue enggak akan menganggap itu melanggar janji.’
Ana tampak lega. ‘Tidak ada yang membuatku tidak aman. Mama baik-baik saja. Aku cuma perlu waktu.’
Dean mengangguk. ‘Oke. Gue akan pegang janji itu.’
Mereka duduk dalam diam sebentar. Dean memandang lapangan yang tampak dari taman. Ia tidak merasa semua pertanyaannya terjawab, tetapi sekarang ia tahu Ana tidak sedang menolaknya. Ia sedang meminta waktu dengan jelas.
‘Gue juga harus jujur,’ katanya. ‘Semalam gue kepikiran terus. Bukan karena gue berhak tahu semuanya. Gue cuma takut ada sesuatu yang bikin lo merasa harus menjauh.’
‘Aku tidak mau menjauh darimu.’
Kalimat Ana keluar cepat, lalu ia sendiri terkejut mendengarnya. Dean menoleh, tetapi tidak meminta penjelasan tambahan. Ana menunduk lagi. Ia belum siap mengungkap perasaannya atau menjelaskan mengapa Dean begitu penting baginya.
‘Makasih sudah bilang,’ jawab Dean.
Ana memeriksa jam. ‘Aku harus masuk kelas berikutnya.’
‘Gue enggak akan menahan lo.’
Mereka berdiri. Dean tidak menyentuhnya atau meminta tanda bahwa janji mereka telah mengikat. Ana merapikan buku, lalu mengucapkan sampai nanti. Dean membalas dengan senyum tipis.
Sepanjang sisa hari, Ana merasa sedikit lebih ringan. Ia belum menceritakan rahasia keluarganya, tetapi ia berhenti bersembunyi di balik alasan yang kabur. Ia telah memberi Dean batas waktu dan berjanji tidak akan menghilang. Itu bukan seluruh kebenaran, tetapi merupakan langkah yang sanggup ia ambil.
Dean kembali ke ruang panitia. Ia menuliskan tanggal Seminar Nasional di catatan dan menandai bahwa setelah acara itu Ana akan bercerita. Ia tidak akan menagih janji tersebut setiap minggu. Ia akan menunggu, sambil menjaga komunikasi mereka tetap wajar.
Saat pulang, Dean melintasi taman lagi. Bangku itu sudah kosong. Ia menyadari bahwa janji Ana tidak menghapus ketidakpastian, tetapi membuatnya tahu bagaimana harus bersikap. Ia bisa bertanya tentang seminar, membicarakan kelas, dan tetap menjadi teman tanpa mengubah rahasia Ana menjadi tuntutan.
Ana masuk ke kelas berikutnya dan memilih duduk di baris tengah. Ia mencoba mencatat penjelasan dosen, tetapi pikirannya sesekali kembali pada janji yang baru dibuat. Ia telah menyebut bahwa ia mengenal Mama dan Papa Dean lebih lama. Kalimat itu belum menjelaskan apa pun, tetapi cukup untuk membuat Dean paham bahwa ia tidak mengarang hubungan mereka.
Saat kelas usai, Ana menyalin catatan yang tertinggal dan mengirim pesan kepada Dean bahwa ia akan menghadiri latihan seminar sesuai jadwal. Dean membalas bahwa ia akan mengirim materi lebih dulu agar Ana bisa membaca tanpa terburu-buru. Percakapan mereka kembali ke hal yang biasa, dan Ana merasa lebih mudah bernapas.
Di gedung FK, Dean menerima file pendaftaran dari panitia. Ia teringat bahwa Ana meminta waktu sampai acara selesai. Ia menandai tanggal itu di kalender, bukan sebagai tenggat untuk menagih, melainkan pengingat agar ia tidak bertanya tanpa sengaja. Gus melihatnya menulis di kalender dan bertanya apa yang ia tandai.
‘Seminar. Banyak yang harus disiapkan.’
Gus tidak mendesak. Mereka membahas pembicara dan ruangan acara. Dean memutuskan akan mengisi masa menunggu dengan persiapan yang nyata, bukan menebak-nebak kehidupan Ana. Ia tahu kesepakatan mereka baru langkah awal, tetapi ia ingin menepatinya dengan sungguh-sungguh.
Malam itu, Ana sempat membuka percakapan lama dengan Dean. Ia tidak menulis penjelasan baru. Ia hanya mengirim pesan bahwa ia berterima kasih karena Dean mendengarkan.
Ana : Aku menghargai kamu tidak mendesakku tadi.
Deanova : Makasih sudah jujur sejauh yang lo bisa. Kita jalanin pelan-pelan.
Ana menyimpan ponsel dengan hati lebih ringan. Ia belum siap bercerita, namun mereka kini punya janji dan batas yang sama-sama mereka pahami.
Ia mengingat kesepakatan itu sepanjang perjalanan pulang, lalu memutuskan untuk tidak membatalkannya.
Ia akan menepatinya tanpa menunggu Dean mengingatkannya.
Mereka sepakat, dan ia ingin menjaga kepercayaan itu.
Ia juga ingin terus jujur kepadanya.
Pada akhirnya, ia tidak membutuhkan kemenangan yang membuat orang lain kalah. Ia hanya membutuhkan keadaan yang jujur, aman, dan memberi ruang untuk tumbuh.