Audrey berdiri di depan Ana dengan gelas minuman masih di tangannya. Bagas berada di samping Ana, menjaga jarak agar ia tidak merasa dikepung. Beberapa mahasiswa di kantin memperhatikan, tetapi belum ada yang ikut campur.
‘Aku mau bicara soal foto yang beredar,’ kata Audrey.
Ana menatapnya tenang. ‘Foto itu sudah ditangani pihak kampus. Aku tidak ingin membahasnya di sini.’
‘Tentu saja kamu tidak mau. Kamu sudah dapat perhatian Dean.’
Bagas mengerutkan kening. ‘Jangan bicara seolah-olah lo tahu apa yang terjadi.’
Audrey memandang Ana, mengabaikan Bagas. ‘Kamu pura-pura ketakutan saat hujan supaya Dean memelukmu, lalu sekarang semua orang membela kamu.’
Ana terdiam sesaat. Ia tidak ingin menceritakan fobianya kepada Audrey atau membuktikan apa pun di depan orang-orang. ‘Aku tidak akan menjelaskan hal pribadi untuk memuaskan tuduhanmu.’
Audrey tertawa pendek. ‘Jadi benar, kan?’
Bagas maju setapak, suaranya meninggi. ‘Cukup, Audrey. Lo enggak berhak menuduh dia memalsukan ketakutan.’
‘Aku cuma bilang yang semua orang pikirkan.’
‘Enggak. Lo sedang bikin cerita sendiri. Foto itu menunjukkan Dean menolong Ana, bukan bukti Ana mencari perhatian.’
Ana menyentuh lengan Bagas ringan. ‘Gas, aku bisa bicara.’
Bagas menahan diri dan mundur setengah langkah. Ia tidak mengambil alih percakapan. Ana menatap Audrey kembali.
‘Aku tidak meminta Dean membelaku. Dia memilih melaporkan foto itu karena disebarkan tanpa izin. Kalau kamu punya masalah dengannya, bicarakan dengannya. Jangan menjadikanku sasaran.’
Audrey menggenggam gelas semakin erat. Ia merasa semua mata tertuju kepadanya. ‘Kamu memang pintar membuat dirimu terlihat korban.’
Ana tidak menjawab. Ia menunggu Audrey berhenti, tidak membalas dengan hinaan. Keheningan itu justru membuat Audrey semakin kesal. Ia mengangkat tangan yang memegang gelas dan menumpahkan isinya ke arah Ana.
Bagas segera bergerak, tetapi minuman itu lebih dulu mengenai bahu dan bagian depan baju Ana. Suara terkejut terdengar dari beberapa meja. Ana mundur satu langkah, menahan napas karena kaget. Bagas membentak Audrey.
‘Lo keterlaluan!’
Audrey menatap gelas kosong di tangannya. Untuk sesaat amarahnya hilang, digantikan kesadaran bahwa ia baru saja mempermalukan dirinya sendiri di depan banyak orang.
Dean datang dari arah koridor setelah mendengar keributan. Ia melihat Ana basah oleh minuman dan Bagas berdiri di depannya. Dean segera berhenti beberapa langkah dari mereka, memastikan Ana tidak merasa disentuh atau dikerumuni.
‘An, kamu baik-baik saja?’ tanyanya.
Ana mengangguk, meski wajahnya tegang. ‘Aku kaget. Tapi aku baik.’
Dean menoleh kepada Audrey. Ia tidak menyentuhnya dan tidak mengancam. Suaranya tegas, terdengar jelas oleh orang-orang sekitar.
‘Ana teman gue. Gue menolongnya waktu dia ketakutan, dan gue enggak akan membiarkan siapa pun mempermalukannya dengan tuduhan yang dibuat-buat. Lo enggak berhak menyiramkan minuman ke dia.’
Audrey membuka mulut, tetapi tak ada jawaban yang keluar. Dean melanjutkan, ‘Kalau lo punya masalah sama gue, bicarakan langsung. Jangan ganggu Ana.’
Beberapa mahasiswa mulai membantu mengambil tisu. Salah satu staf kantin mendekat dan meminta Audrey ikut ke ruang pengelola untuk menjelaskan tindakannya. Audrey menunduk. Ia tidak melawan, tetapi matanya memerah menahan malu.
Bagas menawarkan tisu kepada Ana. ‘Lo mau pindah atau pulang?’
‘Aku mau bersihkan diri dulu. Setelah itu kita lihat.’ Ana mengambil tisu dan menepuk bahunya. ‘Terima kasih sudah membelaku, tapi aku baik-baik saja.’
Dean bertanya apakah Ana ingin ia memanggil petugas kampus. Ana mengatakan staf kantin sudah menangani situasi. Dean menerima jawabannya. Ia tidak memaksa mengantar atau menentukan langkah berikutnya.
Audrey dibawa menjauh dari meja. Ia pergi dengan kepala tertunduk, menahan malu saat beberapa orang memandangnya. Dean tidak mengejarnya atau meneruskan pertengkaran. Ia tetap berada di dekat Ana, menunggu sampai Ana selesai membersihkan bajunya.
‘Kamu tidak perlu menjelaskan apa pun soal hujan,’ kata Dean pelan.
Ana mengangguk. ‘Aku tahu. Aku juga tidak ingin ini jadi alasan semua orang membicarakan aku.’
‘Gue akan bantu menghentikan gosip kalau lo mau. Tapi gue tanya dulu.’
‘Untuk sekarang, aku cuma mau pulang dan ganti baju.’
Dean mengangguk. Bagas menawarkan menemani Ana. Dean tidak keberatan dan tidak menyisipkan dirinya ke dalam keputusan itu. Ana memilih berjalan bersama Bagas ke luar kantin. Sebelum pergi, ia menoleh kepada Dean.
‘Terima kasih sudah datang.’
‘Sama-sama, An. Kabari kalau ada yang lo perlukan.’
Ana dan Bagas meninggalkan kantin. Dean tetap tinggal sebentar untuk memberi keterangan kepada staf tentang apa yang ia lihat, tanpa menambah dugaan atau menyebarkan cerita. Insiden itu akan ditangani kampus. Baginya, yang terpenting Ana dapat menentukan sendiri langkah setelahnya.
Di lorong, Bagas bertanya apakah Ana ingin kembali ke kos atau membersihkan diri di toilet kampus. Ana memilih membersihkan diri dulu. Ia tidak ingin pulang sebelum kelas sore selesai, tetapi juga tidak ingin duduk dengan pakaian yang lengket.
‘Kalau kamu mau aku temani sampai kelas, aku bisa,’ kata Bagas.
‘Temani aku ke toilet saja. Setelah itu aku putuskan.’
Bagas mengangguk. Ia tidak mengubah permintaan itu menjadi alasan untuk berdebat dengan Dean. Mereka berjalan bersama, sementara Dean tetap di kantin menyampaikan keterangan.
Ana merasa malu, marah, dan sedikit gemetar karena terkejut. Namun ia tidak merasa harus membalas Audrey atau menjelaskan traumanya. Ia akan melaporkan kejadian itu melalui staf kampus jika diperlukan dan meminta pihak kantin mencatat apa yang terjadi.
Dean mengirim pesan setelah selesai memberikan keterangan, bertanya apakah Ana ingin ia melakukan sesuatu. Ana menjawab bahwa ia akan mengurus diri dulu dan memberi kabar jika memerlukan bantuan. Dean membalas singkat bahwa ia mengerti.
Insiden itu tidak selesai hanya karena Audrey pergi menahan malu. Ana masih harus menghadapi tatapan orang-orang dan bajunya yang basah. Namun ia sudah menyampaikan batasnya, Bagas menemaninya sesuai permintaan, dan Dean tidak mengambil keputusan untuknya.
Ia memilih beristirahat sebentar, lalu kembali ke kelas dengan kepala tegak.
Hari itu tetap miliknya untuk dijalani.
Ia tidak akan membiarkan insiden itu menentukan dirinya.
Ia tidak perlu memutuskan semuanya dalam satu tarikan napas. Kesabaran memberinya kesempatan untuk melihat siapa yang sungguh-sungguh bertanggung jawab atas pilihannya.