Ana kembali ke kelas setelah insiden di kantin, meski pikirannya masih tertinggal pada tatapan orang-orang yang menyaksikan Audrey menyiramkan minuman. Bagas menemaninya sampai depan ruang kelas, lalu berhenti di ambang pintu.
'Kalau kamu mau pulang, aku bisa temani,' katanya.
'Aku akan ikut kelas dulu. Baju ini sudah tidak terlalu basah.' Ana tersenyum tipis, berusaha meyakinkan Bagas sekaligus dirinya sendiri. 'Nanti aku kabari kalau butuh bantuan.'
Bagas mengangguk. Ia tidak bertanya lagi. Ana tahu Bagas ingin memastikan dirinya baik-baik saja, tetapi ia juga tahu sahabatnya itu sedang menahan banyak hal. Karena itu ia tidak ingin membuat Bagas merasa harus terus mengawasinya.
Di dalam kelas, Ana memilih kursi dekat jendela. Ia mendengarkan dosen sebisanya, mencatat beberapa poin, lalu menutup buku saat pikirannya mulai berputar lagi. Ia masih kesal kepada Audrey. Bukan semata-mata karena pakaiannya basah, melainkan karena namanya kembali menjadi bahan cerita orang lain tanpa pernah ditanya lebih dulu. Namun ia tidak ingin menjadikan kejadian itu alasan untuk membalas dengan cara yang sama.
Dean mengirim pesan setelah ia selesai memberi keterangan kepada petugas kantin dan staf kemahasiswaan.
Deanova : Ana, aku sudah menyampaikan apa yang kulihat. Kamu tidak perlu menjelaskan apa pun. Kalau nanti ingin membuat laporan, bilang saja.
Ana membaca pesan itu dua kali sebelum menjawab.
Ana : Terima kasih. Untuk sekarang aku mau ikut kelas dulu. Aku akan memutuskan setelah tenang.
Dean : Oke. Aku tidak akan mengatur keputusanmu.
Jawaban itu membuat bahu Ana sedikit mengendur. Ia meletakkan ponsel kembali dan memaksa dirinya menyimak penjelasan dosen. Beberapa mahasiswa sempat melirik bajunya, tetapi tak ada yang berani menanyakan apa pun. Ana tetap menulis, walau tulisan tangannya lebih miring daripada biasanya.
Di sisi lain kampus, Dean kembali ke ruang organisasi setelah memberikan keterangan. Ia tidak mengirim pesan kepada Audrey, tidak menuduh siapa pun di grup, dan tidak meminta Gus menyelidiki sendiri. Sejak foto dirinya dan Ana beredar, ia sudah berjanji bahwa urusan itu akan ditempuh melalui jalur resmi. Jika ada orang yang sengaja menyebarkan gambar untuk mempermalukan Ana, kampus perlu menanganinya berdasarkan bukti, bukan dugaan.
Ketua panitia mengabari bahwa pihak kemahasiswaan telah menerima laporan awal. Dean membaca pesan tersebut sambil duduk di meja rapat. Ia baru hendak menghubungi Ana lagi ketika panggilan dari sekretariat dekan masuk.
'Dean, Pak Dekan meminta kamu datang besok pagi,' kata staf sekretariat. 'Ada tindak lanjut dari laporan penyebaran foto.'
'Baik, Bu. Apakah Ana perlu hadir?'
'Tidak untuk pertemuan awal. Pihak kampus sedang memeriksa jalur penyebaran di grup dan meminta keterangan admin. Kalau ada perkembangan yang menyangkut mahasiswa lain, kamu akan diberi tahu sesuai prosedur.'
Dean mencatat waktu pertemuan. Ia tidak bertanya nama siapa yang diperiksa. Baginya, menerima hasil resmi lebih penting daripada menebak-nebak. Setelah panggilan berakhir, ia memikirkan kemungkinan bahwa masalah ini akan semakin besar. Ia tidak takut menghadapi teguran sebagai Presiden BEM, tetapi ia khawatir Ana kembali terseret ke dalam perhatian yang tidak ia pilih.
Malamnya, ia mengirim pesan singkat kepada Ana.
Deanova : Sekretariat dekan menghubungiku. Besok ada tindak lanjut soal foto. Aku belum tahu hasilnya dan tidak akan menyebut namamu tanpa izin.
Ana : Kalau ada hal yang perlu aku ketahui, tolong kabari. Aku tidak mau rumor terus berputar.
Deanova : Pasti. Aku akan menyampaikan bahwa kamu tidak setuju foto itu disebarkan.
Ana tidak menulis panjang. Ia lelah dan ingin menyelesaikan tugas kuliah. Namun, sebelum menutup percakapan, ia mengetik satu pesan lagi.
Ana : Aku baik-baik saja. Jangan merasa harus menyelesaikan semuanya sendirian.
Dean tersenyum kecil membaca kalimat itu. Ia menyadari Ana sedang berusaha menjaga dirinya sendiri sekaligus mengingatkannya agar tidak bertindak berlebihan. Ia membalas bahwa ia mengerti, lalu menyimpan ponselnya.
Keesokan harinya, Ana menyelesaikan kelas dan makan siang bersama Bagas. Mereka tidak membicarakan Audrey kecuali saat Bagas memastikan Ana tidak mengalami luka atau iritasi akibat minuman yang tumpah. Ana menjawab bahwa hanya bajunya yang basah. Setelah itu, mereka membicarakan tugas dan jadwal Seminar Nasional. Ana ingin menjaga rutinitasnya tetap berjalan.
Dean datang ke ruang dekan sesuai jadwal. Ia membawa catatan kejadian, tidak membawa foto yang tak diperlukan, dan bersiap mendengar hasil pemeriksaan. Ia berniat menyampaikan satu hal dengan jelas: dirinya tidak keberatan jika kampus menegur atau memproses orang yang menyebarkan foto tanpa izin, tetapi Ana tidak boleh dijadikan sasaran tuduhan. Ia juga akan meminta kampus menelusuri pengirim pertama lewat prosedur resmi.
Sebelum masuk, Dean menarik napas panjang. Ia tidak tahu siapa yang mengirim foto itu. Untuk pertama kalinya sejak gambar tersebut muncul, ada kemungkinan ia akan mendapat jawaban. Namun jawaban itu juga bisa membuka persoalan yang lebih rumit daripada sekadar gosip.
Ia mengetuk pintu ruang dekan dan masuk setelah dipersilakan. Pertemuan itu akan menentukan langkah kampus berikutnya, bukan menjadi alasan baginya untuk mengambil keputusan atas nama Ana.
***
Dean kemudian menulis catatan singkat untuk sekretariat agar seluruh komunikasi tindak lanjut dikirim kepadanya secara langsung, bukan melalui grup mahasiswa. Ia tidak ingin laporan resmi berubah menjadi bahan obrolan. Staf itu menyetujui permintaannya dan mengingatkan bahwa jika Ana membutuhkan penjelasan, ia dapat menghubungi layanan kemahasiswaan sendiri.
Dean menyampaikan informasi itu kepada Ana tanpa mengirim dokumen atau nama yang belum ia izinkan untuk dibagikan. Ia hanya mengatakan bahwa kampus akan menghubunginya bila ada perkembangan yang perlu diketahui. Ana menjawab bahwa ia menghargai sikap itu. Percakapan mereka singkat, tetapi cukup untuk membuat Dean tahu ia tidak perlu berlari lebih cepat daripada proses.
Sebelum tidur, Dean menyiapkan berkas seminar untuk rapat keesokan hari. Ia beberapa kali tergoda untuk bertanya apakah Ana sudah siap menerima kabar, tetapi urung. Ana sudah meminta waktu, dan ia ingin membuktikan bahwa ia bisa menunggu tanpa membuatnya merasa berutang penjelasan.