Dean duduk di hadapan Pak Dekan dengan punggung tegak. Di atas meja terdapat laporan singkat dari staf kemahasiswaan, catatan admin grup, dan sebuah lembar hasil pemeriksaan. Tidak ada foto Ana yang dicetak. Dean sudah meminta agar dokumen yang beredar tidak disalin lebih jauh dari kebutuhan pemeriksaan.
'Kami sudah menelusuri unggahan awal melalui keterangan admin dan riwayat penerusan yang masih tersedia di grup,' kata Pak Dekan. 'Beberapa mahasiswa memberi keterangan bahwa foto itu pertama kali dikirim oleh Adeline. Kami juga sudah meminta klarifikasi kepadanya. Ia mengakui mengirim gambar tersebut kepada satu orang, lalu gambar itu diteruskan ke grup.'
Dean terdiam sejenak. Ia mengenal Adeline cukup lama untuk tahu bahwa mantan kekasihnya bisa bertindak impulsif ketika marah. Namun mengetahui bahwa ia sengaja menyebarkan foto Ana tetap terasa berbeda. Dean tidak pernah memeriksa ponsel Adeline atau meminta orang lain melakukan itu. Kesimpulan tersebut datang dari keterangan dan prosedur kampus.
'Saya mengerti, Pak,' katanya setelah menata pikirannya. 'Saya meminta pihak kampus menindaklanjuti sesuai aturan. Saya juga ingin memastikan Ana tidak dipaksa hadir atau menjawab pertanyaan yang tidak perlu.'
Pak Dekan mengangguk. 'Kami tidak akan memanggilnya tanpa alasan. Adeline sudah diminta menghapus kiriman dan berhenti meneruskannya. Kalau ada pengulangan atau intimidasi, prosesnya bisa dilanjutkan.'
Dean mengucapkan terima kasih. Ia tidak meminta hukuman khusus untuk Adeline. Ia hanya ingin penyebaran berhenti dan Ana tidak lagi dijadikan bahan pembicaraan. Setelah pertemuan selesai, staf kemahasiswaan memberinya salinan ringkas hasil pemeriksaan untuk memastikan ia memahami keputusan kampus. Nama Ana disamarkan dalam dokumen itu.
Dean melihat nama Adeline tercantum sebagai pengirim awal. Ia menutup map dan tidak segera menelepon Ana. Ia ingin berbicara kepada Adeline secara langsung, tetapi ia juga tidak mau mengubah pertemuan itu menjadi pertengkaran. Ia meminta sekretariat mengatur waktu agar pembicaraan berlangsung di ruang organisasi yang terbuka dan dapat disaksikan staf jika diperlukan.
Adeline datang menjelang sore. Wajahnya tampak pucat, tetapi ia tetap berusaha tersenyum ketika melihat Dean.
'Kamu minta aku datang,' katanya. 'Aku kira kamu akhirnya mau bicara baik-baik denganku.'
'Gue mau bicara soal foto yang kamu kirim,' jawab Dean. Ia menunjuk kursi di seberangnya. 'Silakan duduk.'
Adeline duduk perlahan. Tatapannya berpindah dari Dean ke map di atas meja. Ia tahu apa yang akan dibahas. Jemarinya saling meremas, tetapi ia masih mencoba mempertahankan sikap tenang.
Dean membuka map dan meletakkan halaman kesimpulan di tengah meja. 'Pihak kampus sudah menyelesaikan penelusuran awal. Mereka mendapat keterangan dari admin grup dan mahasiswa yang menerima kiriman pertamamu. Kamu juga sudah mengakui mengirim foto itu.'
Mata Adeline berkaca-kaca. 'Aku tidak menyangka akan menyebar sejauh itu. Aku cuma mengirimnya ke satu orang.'
'Kamu tetap memilih mengirimnya. Kamu tahu foto itu memperlihatkan Ana dalam keadaan rentan. Kamu tahu orang-orang bisa menjadikannya bahan gosip.'
Adeline menunduk. Beberapa detik berlalu sebelum ia mengusap pipinya. 'Pacarku di luar negeri meninggalkanku. Aku pikir hubungan kami bisa bertahan, tapi dia memutuskan semuanya lewat pesan. Aku merasa sendirian dan bodoh. Waktu melihat kamu dekat dengan Ana, aku... aku marah.'
Dean tidak menjawab dengan kemarahan. Ia tahu kesedihan Adeline nyata, tetapi kesedihan itu tidak membenarkan tindakannya. 'Gue turut prihatin soal hubunganmu. Tapi itu bukan alasan untuk menyeret Ana.'
'Aku masih mencintai kamu, Dean.' Suaranya pecah. 'Aku tahu aku pernah salah. Aku tahu aku menyakitimu waktu kita LDR. Tapi aku ingin memperbaiki semuanya. Aku cuma panik melihat kamu melindungi dia seperti itu.'
Dean menahan napas. Pengakuan itu tidak mengubah keputusan yang telah ia ambil sejak lama. 'Gue tidak akan kembali ke hubungan kita. Dan perasaan kamu bukan alasan untuk mengganggu Ana.'
Adeline menutup wajahnya dengan telapak tangan. 'Jadi kamu benar-benar memilih dia?'
'Ini bukan soal memilih siapa. Ana berhak datang ke kampus tanpa difoto diam-diam, tanpa disiram minuman, dan tanpa diperlakukan seolah dia merebut sesuatu darimu. Gue juga berhak menentukan siapa yang dekat sama gue.'
'Aku minta maaf,' bisik Adeline.
'Kalau kamu sungguh menyesal, berhenti menyebarkan cerita tentang dia dan jangan mendekati Ana untuk menyalahkannya. Gue minta kamu menjauhi Ana dan gue. Kalau kamu mengulangi ini, gue serahkan urusannya ke dekan dan biarkan pihak kampus memproses sesuai aturan.'
Adeline menangis lebih keras, tetapi Dean tidak menarik kembali batasnya. Ia memberikan tisu dari kotak di meja, lalu membiarkan Adeline mengambilnya sendiri. Ia tidak menyentuh bahunya atau menawarkan penghiburan yang bisa disalahartikan.
'Aku akan berhenti,' kata Adeline setelah beberapa saat. 'Aku tidak akan menghubungi Ana. Aku juga akan menghapus semua foto yang masih kusimpan.'
'Penghapusan kiriman yang beredar sudah diminta kampus. Jangan kirim ulang kepada siapa pun.'
Adeline mengangguk. Staf kemahasiswaan yang menunggu di dekat pintu masuk saat Dean membuka pintu. Ia menjelaskan bahwa tindak lanjut administrasi akan disampaikan tertulis. Dean tidak menambah ancaman dan tidak mengejar Adeline setelah perempuan itu pergi dengan mata merah.
Ia mengirim pesan kepada Ana bahwa kampus telah menemukan pengirim foto dan menindaklanjutinya melalui jalur resmi. Dean tidak menyampaikan rincian yang tidak dibutuhkan melalui pesan. Ia hanya bertanya apakah Ana ingin menerima salinan informasi dari pihak kampus.
Ana : Aku ingin tahu secukupnya, tapi tidak perlu sekarang. Tolong jangan kirim foto itu lagi.
Deanova : Tidak akan. Kamu bisa minta penjelasan langsung dari kampus kalau nanti siap.
Dean menyimpan ponsel. Ia merasa lega karena pengirim telah ditemukan, tetapi lega itu tidak menghapus akibat yang dialami Ana. Ia juga tahu persoalan Adeline belum tentu selesai dengan satu percakapan. Untuk saat ini, ia telah menyampaikan batas yang jelas dan membiarkan keputusan kampus berjalan melalui prosedur.
***
Sebelum meninggalkan ruang rapat, Dean meminta sekretariat mencatat bahwa ia tidak ingin identitas Ana dicantumkan pada pengumuman umum. Staf itu menjelaskan bahwa catatan perkara akan disimpan terbatas dan hanya pihak terkait yang dapat mengaksesnya. Dean mengucapkan terima kasih. Ia tidak ingin masalah pribadi Ana menjadi bahan rapat organisasi atau dibicarakan di depan mahasiswa lain.
Dalam perjalanan kembali ke kelas, ia teringat bagaimana Ana memilih kembali mengikuti kuliah setelah insiden di kantin. Keputusan kecil itu menunjukkan bahwa Ana tidak ingin hidupnya berhenti karena ulah orang lain. Dean ingin mendukungnya, tetapi dukungan tidak boleh berubah menjadi kendali. Ia akan memberi tahu hasilnya, menawarkan bantuan, lalu menunggu Ana menentukan apa yang ia butuhkan.