Sesudah pertemuannya dengan Adeline, Dean menjalani akhir pekan dengan lebih tenang, meski pikirannya belum sepenuhnya ringan. Pihak kampus telah mencatat pengakuan Adeline dan memberi instruksi agar foto tidak disebarkan lagi. Ana belum meminta salinan hasil pemeriksaan, jadi Dean tidak mengirimkannya. Ia menghormati jawaban Ana bahwa ia ingin mengetahui secukupnya, tetapi tidak perlu menerima rincian sekarang.
Pada Sabtu pagi, ia membantu panitia memeriksa kesiapan Seminar Nasional. Beberapa anggota BEM membicarakan foto yang sempat beredar, tetapi Dean menghentikan pembahasan itu dengan sopan.
'Masalahnya sudah ditangani pihak kampus. Jangan teruskan fotonya atau membahas Ana,' katanya. 'Kita fokus ke acara.'
Gus yang berdiri di dekatnya mengangguk setuju. Setelah anggota lain kembali pada tugas, ia bertanya pelan, 'Lo yakin nggak mau cerita lebih banyak?'
'Gue nggak punya cerita yang perlu disebar,' jawab Dean. 'Ana berhak menentukan apa yang mau dia ceritakan.'
Gus menepuk bahunya. Ia tak bertanya lagi. Dean merasa lega karena sahabatnya memahami batas itu tanpa membuatnya menjadi bahan lelucon.
Sore hari, Dean kembali ke rumah dan menemukan sebuah buku catatan lama di rak. Di dalamnya ada beberapa puisi Eidelweiss yang pernah ia salin dari mading. Ia membaca satu demi satu, bukan karena berharap menemukan petunjuk tentang penulisnya, melainkan karena kata-kata itu pernah menolongnya melewati masa ketika ia merasa sulit mempercayai orang lain.
Ia ingat masa setelah Adeline pergi ke luar negeri. Hubungan jarak jauh mereka berakhir setelah Dean mengetahui Adeline menjalin hubungan dengan orang lain. Ia sempat menganggap dirinya bodoh karena masih berharap. Puisi-puisi Eidelweiss tidak memberi jawaban atau menyuruhnya segera melupakan. Kata-katanya hanya membuat kesedihan terasa bisa ditanggung, satu hari demi satu hari.
Dean menutup buku itu. Ia baru menyadari sudah lama ingin mengucapkan terima kasih kepada penulisnya. Bukan untuk meminta pertemuan, apalagi menjadikan kekagumannya sebagai tuntutan. Ia hanya ingin menyampaikan bahwa puisi tersebut sampai kepada seseorang yang membutuhkannya.
Malam itu ia duduk di meja belajar dan mengambil selembar kertas. Ia menulis beberapa kalimat, lalu mencoretnya. Baris pertama terdengar seperti pidato. Baris kedua terlalu dekat. Ia tidak ingin suratnya terasa seperti pengakuan yang meminta balasan.
Ia mengambil kertas baru dan mencoba lagi.
'Untuk Eidelweiss,
Terima kasih karena puisimu pernah menemaniku saat aku merasa kehilangan arah. Aku tidak tahu siapa dirimu, dan kamu tidak harus memberitahuku. Aku hanya ingin kamu tahu bahwa kata-katamu sampai kepada seseorang.
Kalau suatu hari kamu siap dikenal, aku akan mendengarkan. Kalau belum, aku tetap menghormati pilihanmu.
Dean.'
Dean membaca surat itu pelan. Ia memastikan tidak ada kalimat yang memaksa, menuntut, atau meminta penulisnya membalas. Ia melipatnya sekali, lalu meletakkannya di atas meja.
Minggu malam, ia masih ragu. Apakah menempel surat itu justru membuat penulis merasa diperhatikan? Dean mempertimbangkan untuk menyimpannya saja. Namun isi suratnya tidak menyebut nama siapa pun, tidak mengungkap rahasia, dan jelas menyatakan bahwa Eidelweiss tidak perlu memperkenalkan diri. Ia bisa menempelkannya di sisi puisi tanpa mengganggu karya tersebut.
Ia menaruh surat di dalam map bening agar tidak kusut. Senin pagi ia akan datang lebih awal ke kampus, membaca ulang kalimatnya, lalu memutuskan apakah akan memasangnya. Ia tidak akan mencari tahu siapa pun yang membaca. Ia juga tidak akan berdiri menunggu di depan mading.
Sebelum tidur, Dean memeriksa jadwal seminar. Ia masih memiliki banyak pekerjaan, termasuk memastikan ruangan dan daftar pembicara siap. Namun pikiran tentang surat itu tetap berada di kepalanya. Ia merasa canggung karena jarang mengungkapkan rasa terima kasih secara langsung, bahkan kepada seseorang yang belum pernah ia temui.
Pagi Senin akan memberinya kesempatan untuk menyampaikan satu hal sederhana. Setelah itu, keputusan untuk dikenal tetap berada di tangan Eidelweiss.
Sebelum tidur, Dean memikirkan cara memastikan surat itu tidak membuat siapa pun merasa diawasi. Ia memutuskan tidak menulis bahwa ia ingin bertemu, tidak meminta penulis menghubunginya, dan tidak menanyakan siapa pun tentang identitas Eidelweiss. Ia hanya akan menempelkan ucapan terima kasih di dekat puisi yang dibacanya selama ini.
Ia juga memikirkan Ana. Beberapa kali ia merasa ada sesuatu yang belum diceritakan perempuan itu, tetapi ia tidak ingin mencampuradukkan dugaan tentang Ana dengan sosok penulis puisi. Ia tidak punya bukti bahwa keduanya orang yang sama. Bahkan jika suatu hari ia mengetahui kebenarannya, Ana tetap berhak memilih kapan mengatakannya.
Dean menutup buku catatan, mematikan lampu meja, lalu menyimpan map di dekat tas kuliahnya supaya tidak tertinggal. Ia menyetel alarm lebih pagi dari biasanya. Jika ia berubah pikiran, surat itu bisa tetap berada di map. Ia tidak perlu membuktikan apa pun kepada siapa pun.
Malam semakin larut ketika ia akhirnya tertidur. Di kepalanya, kalimat surat itu terdengar sederhana dan cukup. Ia berharap Eidelweiss membacanya sebagai ucapan terima kasih, bukan sebagai pertanyaan yang harus segera dijawab.
Senin pagi terasa masih jauh ketika Dean mematikan lampu. Ia tidak tahu apakah penulis puisi itu akan datang ke mading, dan ia tidak akan mencoba mengatur agar mereka bertemu. Jika takdir mempertemukan mereka, ia ingin percakapan itu berlangsung tanpa jebakan atau desakan.
Ia memikirkan bagaimana rasanya menjadi seseorang yang karyanya dibaca banyak orang, sementara identitasnya tetap disembunyikan. Eidelweiss mungkin memilih nama pena karena ingin puisinya berdiri sendiri. Dean tidak ingin mengubah pilihan itu menjadi sesuatu yang harus ia pertanggungjawabkan.
Karena itulah ia menghapus satu kalimat dari rancangan awal yang berbunyi ‘Aku berharap bisa bertemu denganmu.’ Kalimat tersebut terlalu mudah terbaca sebagai permintaan. Ia menggantinya dengan ucapan bahwa ia akan mendengarkan bila penulisnya siap dikenal. Setelah revisi itu, surat terasa lebih jujur terhadap niatnya.
Ia memasukkan selotip kecil ke dalam map, menyiapkan alat tulis, lalu memastikan surat tetap terlindung. Tidak ada hal lain yang perlu dipersiapkan. Dean menarik selimut dan berusaha tidur, sambil mengingatkan diri bahwa surat tersebut bukan cara untuk mencari tahu siapa Eidelweiss.