Senin pagi, Dean tiba di kampus saat koridor Fakultas Kedokteran masih sepi. Langit baru mulai terang. Ia membawa map bening berisi surat yang ditulisnya semalam. Sebelum menempelkan apa pun, ia membaca kembali kata-katanya di dekat mading.
Ia berhenti pada puisi Eidelweiss yang berada di sisi kiri papan. Kertas itu mulai sedikit pudar, tetapi masih terbaca. Dean memastikan ada ruang kosong di sebelahnya agar suratnya tidak menutupi satu baris pun.
Ia menarik selotip dari tas, lalu menempelkan surat di setiap sudut. Tangannya bergerak hati-hati. Setelah selesai, ia mundur beberapa langkah untuk memeriksa apakah surat itu tampak jelas. Tidak ada nama selain Dean di bagian bawah. Tidak ada alamat, nomor telepon, atau permintaan untuk bertemu.
Dean membaca kalimat terakhir sekali lagi. Kalau suatu hari kamu siap dikenal, aku akan mendengarkan. Kalau belum, aku tetap menghormati pilihanmu.
Ia merasa lega telah menuliskannya. Ia tidak berharap menemukan balasan hari itu. Surat tersebut bukan umpan untuk memancing identitas, melainkan ungkapan terima kasih yang sudah lama ia simpan.
Saat ia berbalik menuju gedung kuliah, seseorang melintas di ujung koridor. Sosok itu mengenakan bandana pink dan membawa tas kain. Dean hanya melihat punggungnya. Ia berhenti tanpa sadar.
Bandana itu mengingatkannya kepada Ana. Ia pernah melihat Ana memakainya di kampus, tetapi warna yang sama bukan bukti apa pun. Mahasiswa lain bisa saja memiliki bandana serupa. Sosok itu juga tidak menoleh atau memperlambat langkah.
Dean memikirkan untuk memanggil, namun ia tidak punya alasan yang jujur untuk menghentikan orang tersebut. Ia pun teringat janji di taman: ia akan menunggu sampai Ana siap menceritakan semuanya setelah Seminar Nasional. Mengejar seseorang karena dugaan akan bertentangan dengan janji itu.
'Dean!' panggil Gus dari belakang. 'Lo datang pagi-pagi buat rapat?'
Dean menoleh. Gus menghampirinya dengan rambut masih sedikit berantakan dan kacamata yang belum duduk lurus di hidung.
'Gue mau menempelkan surat,' jawab Dean.
Gus melihat mading. 'Buat Eidelweiss?'
'Iya. Cuma ucapan terima kasih.'
'Lo nggak takut orang-orang mengira itu surat cinta?'
Dean mengangkat bahu. 'Biar mereka membaca isinya dulu. Gue tidak minta siapa pun membalas.'
Gus membaca dari jarak beberapa langkah. Setelah selesai, ia mengangguk. 'Kalimatnya sopan. Lo nggak menulis siapa yang lo curigai, kan?'
'Nggak. Gue juga nggak mau mencari tahu lewat cara yang bikin orang tidak nyaman.'
'Bagus. Sekarang ayo, rapat panitia mulai setengah jam lagi.'
Mereka berjalan menuju ruang BEM. Dean tidak menoleh lagi ke ujung koridor. Ia tidak tahu apakah orang berbandana pink tadi Ana, dan ia tidak mencoba mengetahuinya. Satu-satunya yang bisa ia lakukan adalah menghormati batas orang lain, termasuk batas yang belum ia pahami.
Rapat berlangsung hampir dua jam. Panitia membahas alur acara, susunan pembicara, dan kebutuhan teknis. Dean mencatat perubahan jadwal dan meminta tiap koordinator memastikan informasi terbaru dibagikan. Ia menjalankan tugasnya seperti biasa, meski sebagian pikirannya masih teringat surat kecil di mading.
Saat rapat selesai, ia melewati koridor itu lagi. Suratnya masih tertempel di sebelah puisi. Beberapa mahasiswa berhenti membacanya, lalu melanjutkan langkah. Dean tidak bertanya kepada mereka apakah mengenal Eidelweiss. Ia hanya memastikan kertas itu tidak menghalangi pengumuman lain.
Di Fakultas Sastra, Ana melewati mading yang sama saat menuju ruang kelas. Ia melihat surat itu dari kejauhan. Nama Dean di bagian bawah membuat dadanya terasa sesak. Ia mengenali kalimat-kalimatnya sebagai sesuatu yang sungguh-sungguh, bukan candaan. Ia membaca sampai selesai, lalu berdiri diam beberapa detik.
Ana ingin membalas, tetapi ia belum tahu bagaimana melakukannya tanpa membuka rahasia yang masih ia jaga. Seminar Nasional tinggal beberapa hari lagi. Ia sudah berjanji kepada Dean akan menjelaskan semuanya setelah acara. Surat itu tidak mengubah janji tersebut, tetapi membuatnya lebih sulit untuk menahan diri.
Ia tidak mengambil surat itu dan tidak menambahkan pesan. Ia berjalan menuju kelas, menyimpan kata-kata Dean dalam hati. Dean telah menuliskan bahwa ia akan menunggu. Ana ingin percaya bahwa ia benar-benar akan melakukannya.
Di sisi lain kampus, Dean menutup map dan bersiap mengikuti kelas berikutnya. Ia tidak tahu siapa yang membaca suratnya. Ia juga tidak mengetahui bahwa Ana telah melihatnya. Untuk hari itu, ia cukup puas karena telah menyampaikan terima kasih tanpa meminta balasan.
***
Dalam perjalanan, Gus bertanya apakah Dean melihat seseorang yang dikenalnya di koridor. Dean menjawab bahwa ia hanya melihat mahasiswa yang lewat. Ia tidak menyebut bandana pink atau kemungkinan bahwa orang itu Ana. Ia tidak ingin membentuk cerita dari satu pengamatan singkat.
'Lo bisa saja memanggil kalau memang kenal,' ujar Gus.
'Gue belum yakin. Dan kalau itu Ana, gue nggak mau membuat dia merasa harus menjelaskan apa pun karena surat itu.'
Gus mengangguk. 'Masuk akal. Kadang kita memang harus membiarkan orang memilih waktunya sendiri.'
Dean lega Gus tidak menggoda atau mendorongnya mengejar sosok tersebut. Mereka tiba di ruang rapat sebelum anggota lain datang. Dean membuka daftar agenda dan mulai membagi tugas. Ia menjaga fokus pada pekerjaan yang sudah menunggunya.
Ketika rapat selesai, Dean kembali melewati mading. Beberapa mahasiswa membaca suratnya. Salah seorang dari mereka tersenyum kecil, kemudian berjalan pergi. Dean tidak bertanya apa pendapatnya. Ia juga tidak melihat ada tulisan balasan di kertas itu.
Ia membiarkan surat tersebut berada di sana. Jika penulisnya ingin merespons, ia bisa melakukannya. Jika tidak, ucapan terima kasih itu tetap sudah disampaikan. Dean memasuki kelas dengan perasaan ringan, bukan karena mendapat jawaban, melainkan karena ia tidak memaksa jawaban itu muncul.
Gus sempat bertanya apakah Dean akan kembali ke mading untuk menunggu. Dean menggeleng. 'Gue punya kelas dan rapat. Kalau penulisnya baca, dia bisa memutuskan sendiri mau membalas atau tidak.'
Gus menerima jawaban itu dan mengganti topik ke susunan seminar. Dean mengikuti pembicaraan mereka, menyebutkan bahwa panitia harus menguji mikrofon sebelum acara dimulai. Hari itu tetap dipenuhi kewajiban biasa, dan ia tidak ingin membiarkan rasa penasaran mengambil alih jadwalnya.
Menjelang siang, ia melihat suratnya dari kejauhan sekali lagi. Tidak ada tambahan apa pun di sana. Dean tidak merasa kecewa. Ia melanjutkan langkah menuju kelas, membawa keyakinan bahwa kata-katanya telah disampaikan dengan cara yang tidak mengikat siapa pun.