Secangkir s**u hangat dengan banyak kukis manis dihidangkan di atas meja. Kiyo menikmatinya dengan bahagia. Lenard yang duduk di sampingnya juga tersenyum lebar setiap kali berhasil menirukan kelakuan Kiyo mengunyah makanan.
Ah, pemandangan yang tidak terduga.
Di ruang bersantai yang tertutup dan dijaga banyak orang, Kiyo tampak menikmati setiap perhatian yang tertuju padanya. Entah benar-benar menikmati, atau sebenarnya tidak pernah peduli.
Berbeda dengan beberapa saat lalu, Kiyo yang tadinya hanya memakai pakaian sekadarnya dengan tangan berlumuran darah, kini sudah rapi dan wangi berkat pelayanan ekstra yang diberikan para pelayan Aurum. Penampilannya yang seperti dewa, semakin terlihat nyata. Tidak heran jika banyak yang ingin menikmati wajahnya.
Lihat lah itu para pelayan yang berdiri berjajar di dinding, pura-pura sibuk melipat serbet yang sudah rapi, sementara mata mereka sesekali mencuri pandang ke arah meja.
Salah satu dari mereka bahkan menjatuhkan nampan ketika Kiyo tanpa sengaja menoleh.
“Maaf! Maafkan saya!”
Kiyo hanya mengangkat sebelah alis, lalu kembali mengunyah kukisnya seolah tidak terjadi apa-apa.
Francis, yang berdiri di sisi ruangan dengan tangan terlipat, menghela napas panjang. Ia sudah tiga puluh tahun mengabdi pada keluarga Aurum dan belum pernah sekali pun melihat para pelayan sekacau ini. Bukan karena takut. Justru sebaliknya.
“Kalian boleh keluar,” perintahnya.
“Tapi, Tuan Francis, teh untuk—”
“Keluar.”
Para pelayan itu membungkuk cepat dan berhamburan ke luar, meninggalkan aroma parfum murahan dan kekaguman yang masih menggantung di udara.
Kini tinggal empat orang di ruangan itu. Kiyo, Lenard, Francis, dan Emeteria yang sedari tadi berdiri paling jauh dengan segel sihir yang belum sepenuhnya ia bubarkan.
Francis melangkah mendekati meja, tetapi tidak langsung duduk. Ia memperhatikan cara Kiyo memegang cangkir — dengan seluruh telapak tangan, bukan dengan jari seperti kebiasaan bangsawan, dan tanpa sedikit pun rasa canggung berada di ruangan yang perabotannya lebih mahal daripada rumah seorang pedagang.
Orang ini tidak pura-pura sopan. Ia juga tidak pura-pura kasar. Ia hanya tidak peduli.
“Kiyo menyelamatkanku, Paman,” kata Lenard lagi, seolah takut pamannya lupa. “Waktu mereka masuk lewat jendela, aku sudah pasrah. Tapi Kiyo bangun dari lantai, padahal tangannya masih diikat, terus—”
“Tuan Muda,” potong Emeteria lembut, “sebaiknya Anda beristirahat dulu.”
“Aku tidak mau.”
“Tuan Muda—”
“Aku bilang tidak mau.” Suara Lenard meninggi untuk pertama kalinya hari itu. “Semua orang selalu menyuruhku istirahat. Setiap kali sesuatu terjadi, aku disuruh masuk kamar dan menunggu sampai selesai. Aku sudah lelah menunggu di dalam kamar.”
Francis terdiam. Kalimat itu menusuk lebih dalam daripada yang anak itu sadari.
Kiyo, yang sejak tadi diam, meletakkan cangkirnya dan menatap Lenard sekilas. “Duduk dan diam bukan hal yang memalukan,” katanya datar. “Yang memalukan itu kalau kau tidak pernah tahu kenapa kau disuruh duduk.”
Lenard mengerjap. “Kenapa aku disuruh duduk?”
“Karena mereka takut kau mati. Bukan karena mereka menganggapmu lemah.”
Anak itu terdiam cukup lama, lalu mengangguk pelan dan kembali duduk tanpa diminta.
Francis menatap Kiyo dengan pandangan yang berubah. Dalam satu kalimat, orang asing ini melakukan apa yang gagal ia lakukan selama berbulan-bulan.
“Kau,” Francis membuka suara. “Siapa namamu?”
“Kiyo.”
“Kiyo siapa?”
“Hanya Kiyo.”
Emeteria bergerak selangkah maju. “Setiap orang punya nama keluarga. Kecuali budak, penjahat, atau orang yang menyembunyikan sesuatu.”
“Atau orang yang keluarganya sudah tidak ada lagi,” balas Kiyo santai sambil menyeruput minumannya sampai tandas.
Ada jeda yang membuat ruangan terasa lebih dingin.
Francis memicingkan mata. “Dari klan mana kau berasal?”
“Klan yang bahkan tidak ada dalam bukumu.”
“Kau meremehkan perpustakaan Aurum?”
“Aku tidak meremehkan apa pun.” Kiyo meletakkan cangkirnya. “Aku hanya menyebut kenyataan.”
Lenard, yang sejak tadi menonton dengan mata berbinar, menarik-narik ujung lengan Kiyo. “Kiyo, Kiyo, ceritakan tentang klanmu!”
“Tidak ada yang menarik.”
“Bohong. Kau bisa membunuh dua belas orang bersenjata dengan tangan terikat. Itu menarik sekali.”
Francis menutup mata sejenak. Keponakannya menyebut pembantaian di kamarnya sendiri seolah itu pertunjukan sulap di hari ulang tahun.
Emeteria akhirnya membubarkan segelnya, tetapi tidak menurunkan kewaspadaannya. “Tuan Francis, orang ini berbahaya.”
“Aku tahu.”
“Kita harus menahannya sampai Dewan datang.”
“Aku tahu itu juga.”
“Lalu kenapa Anda memberinya kukis?”
Francis tidak menjawab. Bagaimana ia harus menjelaskan bahwa pria yang duduk memakan kukis itu adalah satu-satunya alasan Lenard masih bernapas? Bahwa seluruh penjaga bersenjata di rumah ini, termasuk dirinya sendiri, gagal melakukan apa yang dilakukan seorang asing tanpa alas kaki?
“Fakir,” gumam Emeteria pelan, menatap pakaian Kiyo yang tadi compang-camping. “Dia bahkan tidak punya sepatu saat ditemukan.”
Kiyo mendengarnya. Tentu saja ia mendengarnya. Namun ia hanya tersenyum tipis, mengambil kukis terakhir, lalu membelahnya menjadi dua dan memberikan potongan yang lebih besar kepada Lenard.
“Sepatu,” katanya, “adalah hal pertama yang kau lepas ketika ingin merasakan tanah.”
“Untuk apa merasakan tanah?”
“Untuk tahu apakah tanah itu masih hidup.”
Emeteria mengernyit. “Itu tidak masuk akal.”
“Kalau begitu jangan dipikirkan.”
Francis mengangkat tangan sebelum Emeteria sempat membalas. Ia melangkah mendekat, lalu duduk di kursi seberang Kiyo, menyamakan tinggi pandangan mereka.
“Aku akan bertanya sekali lagi, dan aku ingin jawaban yang jujur,” ucapnya pelan. “Apa yang kau inginkan dari keluarga ini?”
Kiyo mengunyah pelan. Menelan. Baru kemudian menjawab.
“Tempat tidur.”
“Apa?”
“Dan makanan. Tiga kali sehari. Yang manis kalau bisa.”
Hening.
Emeteria menatapnya seolah pria itu baru saja mengaku sebagai dewa.
“Itu saja?” tanya Francis.
“Itu saja.”
“Kau membunuh dua belas orang untuk tempat tidur?”
“Aku membunuh dua belas orang karena mereka mencoba membunuh anak ini,” Kiyo menunjuk Lenard dengan dagunya. “Tempat tidurnya bonus.”
Francis menyandarkan punggungnya. Ia tidak tahu harus tertawa atau memanggil seluruh pasukan.
Namun ada satu hal yang membuatnya diam. Sejak tadi, sejak pertama kali ia melangkah masuk ke kamar penuh mayat itu, ia belum sekali pun merasakan aura sihir dari tubuh Kiyo. Tidak ada. Sama sekali tidak ada.
Di dunia tempat sihir mengalir bahkan di dalam batu dan angin, seseorang tanpa jejak sihir sedikit pun adalah kemustahilan yang lebih menakutkan daripada penyihir terkuat sekalipun.
“Emeteria,” panggil Francis tanpa mengalihkan pandangan.
“Ya, Tuan?”
“Periksa dia. Dengan segel pengukur.”
Emeteria mengangguk dan merapal sesuatu. Lingkaran cahaya kebiruan terbentuk di udara, berputar pelan, lalu turun menyelubungi tubuh Kiyo.
Kiyo membiarkannya. Bahkan ia tidak repot-repot berhenti mengunyah.
Lingkaran itu berputar sekali. Dua kali.
Lalu retak.
Bukan meredup. Bukan padam. Retak, seperti kaca yang dipukul dari dalam, lalu pecah menjadi serpihan cahaya yang lenyap sebelum menyentuh lantai.
Emeteria mundur dua langkah dengan wajah pucat. “Itu... itu tidak mungkin.”
“Apa yang tidak mungkin?” tanya Francis, suaranya mulai kehilangan ketenangan.
“Segel itu dirancang untuk mengukur kapasitas sihir sampai tingkat Raja Binatang.” Emeteria menelan ludah. “Segel itu tidak pecah karena kelebihan beban, Tuan. Segel itu pecah karena tidak menemukan apa pun untuk diukur.”
Ruangan kembali sunyi.
Kiyo menepuk-nepuk remah kukis dari tangannya, lalu berdiri dan meregangkan tubuh sampai terdengar bunyi tulang yang bergemeretak.
“Nah,” katanya sambil menguap. “Soal tempat tidur tadi. Masih berlaku, kan?”