Francis tidak langsung menjawab. Di hadapannya, seorang laki-laki yang baru saja membuat segel pengukur sihir pecah menjadi serpihan cahaya sedang berdiri sambil menguap, seolah kejadian semalam tidak lebih dari gangguan kecil sebelum tidur.
“Masih berlaku atau tidak?” ulang Kiyo, seolah tempat tidur adalah urusan paling penting di kediaman Aurum malam itu.
“Kau baru saja membunuh orang di dalam rumah ini,” kata Francis akhirnya, datar.
“Aku baru saja menyelamatkan anak itu di dalam rumah ini.” Kiyo menelengkan kepala. “Kalau mau bicara adil, rumahmu yang membiarkan pembunuh masuk sampai ke kamar tidurnya. Aku hanya membereskan sisanya.”
Emeteria mendesis pelan. “Kakak, orang ini tidak bisa dibiarkan bebas berkeliaran. Kita bahkan tidak tahu apa dia sebenarnya. Segel pengukur itu tidak pernah gagal.”
“Segel itu tidak gagal,” sahut Kiyo sambil duduk kembali dan menuangkan sisa teko ke cangkirnya. “Segel itu hanya tidak menemukan apa yang dicarinya. Salahkan yang merancang, jangan salahkan aku.”
“Diam.” Suara Francis tidak keras, tapi ruangan langsung menurut. Ia menarik napas panjang, lalu mengeluarkannya perlahan, seperti orang yang sedang menimbang sesuatu yang jauh lebih berat daripada harga dirinya sendiri. “Kau boleh tinggal. Bukan karena aku percaya padamu, tetapi karena Tuan Muda membutuhkanmu, dan karena malam ini rumah ini berhutang nyawa kepadamu.”
Kiyo mengangkat cangkirnya sedikit, seperti bersulang. “Keputusan yang bijak, Paman Francis.”
“Dengan syarat.” Francis menunjuknya dengan satu jari. “Kau tidur di kamar sebelah Tuan Muda. Dua penjaga di depan pintumu, dan itu bukan untuk melindungimu. Kau tidak berkeliaran tanpa pendamping. Kau tidak mendekati ruang kerja, gudang senjata, dan ruang rapat. Dan kau menjawab jika aku bertanya.”
“Syarat yang banyak sekali untuk sebuah tempat tidur.” Kiyo mengunyah potongan kukis terakhirnya. “Tapi boleh. Tambahkan sarapan yang manis dan kita sepakat.”
Francis memilih untuk tidak menanggapi kalimat terakhir itu. Ia berbalik ke arah Emeteria. “Amankan kamar Tuan Muda. Mayat-mayat itu jangan disentuh siapa pun sebelum kau periksa sendiri. Ganda penjagaan di lorong ini mulai malam ini, dan tidak ada seorang pun yang masuk tanpa sepengetahuanku.”
“Baik, Kakak.”
“Dan Emeteria.” Francis menatap adik sepupunya itu dalam. “Semua yang terjadi malam ini, jumlah penyerang, keadaan kamar itu, siapa yang bertugas — tidak keluar dari lingkaran kita bertiga. Rumor boleh berkata apa saja. Fakta tetap milik kita.”
Emeteria mengangguk cepat dan berlalu dengan langkah lebar.
Di kursinya, Lenard yang sejak tadi berjuang melawan kantuk akhirnya kalah. Kepalanya jatuh ke samping, menempel pada lengan Kiyo, dan dalam hitungan detik napasnya sudah teratur. Bahkan dalam tidur pun, tangan kecilnya masih mencari-cari ujung kain Kiyo untuk digenggam.
Kiyo memandang bocah itu sejenak. “Dia sudah tidur.”
“Kubiarkan dia di sini. Ruangan ini yang paling aman malam ini.” Francis menarik kursi dan duduk di seberangnya, untuk pertama kalinya tanpa terlihat ingin mencekik siapa pun. Kelelahan akhirnya menang di wajahnya. “Ceritakan padaku. Dari awal. Apa yang kau lihat dan kau dengar sebelum jendela itu terbuka.”
“Tidak banyak yang bisa diceritakan.” Kiyo menopang dagu dengan satu tangan, tangan satunya dibiarkan diam supaya tidak mengganggu Lenard. “Jendela berbunyi. Pengawalmu menutupnya. Lalu benang pertama turun dari atas dan memotong lehernya seperti memotong tahu.”
“Dari atas?”
“Mereka tidak masuk lewat jendela. Jendela itu umpan.” Kiyo mengedikkan bahu. “Mereka sudah berada di dalam ruangan sebelum jendela itu terbuka. Di langit-langit, menempel seperti kelelawar. Menunggu pengawalmu sibuk dengan jendela.”
Jari-jari Francis yang bertaut di atas meja perlahan memutih. “Itu tidak mungkin. Tidak ada yang bisa menempel di langit-langit ruangan itu tanpa sihir, dan penjagaan kamar Tuan Muda dilapis deteksi sihir.”
“Kalau begitu deteksimu perlu belajar lagi.” Kiyo menyesap tehnya. “Mereka memakai sihir, tapi sihir yang aneh. Tipis. Seperti benang kusut yang disembunyikan di dalam lipatan kain. Aku bisa melihatnya, tapi aku mengerti kenapa alat-alatmu tidak.”
Francis diam cukup lama. “Kau bisa melihat sihir.”
“Aku bisa melihat banyak hal. Mataku memang tidak sopan sejak lahir.”
oOo
Lewat tengah malam, di ruang bawah tanah yang biasa dipakai menyimpan anggur, Emeteria memeriksa mayat-mayat itu satu per satu di bawah cahaya lampu sihir yang dingin. Francis berdiri di sampingnya dengan tangan terlipat di belakang punggung. Bau anyir darah bercampur anggur tua membuat udara terasa lebih berat dari seharusnya.
“Semuanya setengah darah,” kata Emeteria pelan. “Telinga ada, ekor tidak. Tubuh mereka penuh bekas luka lama, dan gigi mereka diruncingkan dengan sengaja. Bukan orang-orang yang hidup terhormat.”
“Senjatanya?”
“Benang baja halus, sumpit jarum, belati beracun. Tidak ada lambang, tidak ada surat, tidak ada apa pun di saku mereka.” Emeteria berjongkok di samping mayat terakhir, lalu menyibakkan rambut di balik telinganya dengan ujung tongkat kecil. “Kecuali ini.”
Francis mendekat. Di kulit belakang telinga mayat itu ada bekas cap lama, sebesar kuku kelingking: sebuah simpul tali yang ujungnya ditarik hingga putus. Cap yang sama ia temukan di mayat-mayat lain ketika Emeteria memeriksanya satu per satu.
“Simpul,” gumam Francis.
“Kau mengenalnya?”
“Dari laporan lama. Jaringan pembunuh bayaran yang bergerak di bawah tanah, semua anggotanya setengah darah yang dibuang keluarganya.” Francis berlutut untuk melihatnya lebih dekat. “Mereka tidak menerima pekerjaan langsung. Semua lewat perantara, dan perantaranya tidak pernah tahu siapa yang membayar. Jejaknya selalu berhenti di tengah.”
“Berarti kita tidak akan menemukan pemesannya lewat mereka.”
“Tidak lewat mereka.” Francis bangkit berdiri, dan suaranya berubah lebih dingin. “Tapi ada hal lain yang lebih penting daripada siapa yang membayar. Mereka tahu kamar mana yang ditempati Tuan Muda. Mereka tahu jadwal rotasi penjaga. Mereka tahu jendela itu bisa dijadikan umpan karena kaca jendelanya berbunyi jika ditiup angin kencang. Hal-hal seperti itu tidak bisa didapat dari luar pagar.”
Emeteria memandangnya dengan wajah menegang. “Kakak berpikir ada orang di dalam.”
“Aku tidak berpikir.” Francis menatap ketiga mayat itu bergantian. “Aku yakin. Pertanyaannya tinggal siapa, dan untuk siapa dia bekerja. Buat daftar semua orang yang bertugas di sayap utama tiga hari terakhir. Pelayan, penjaga, juru masak, semua. Lakukan diam-diam. Kalau ada tikus di dalam rumah ini, aku tidak mau dia tahu kita sedang mencarinya.”
oOo
Menjelang subuh, Kiyo menggendong Lenard yang masih tidur ke kamar barunya — sebuah kamar tamu di samping kamar yang disiapkan untuk Kiyo, jauh dari kamar utama yang masih ditutup. Ia baru saja membaringkan bocah itu ketika Lenard membuka mata sedikit.
“Kiyo?”
“Hm.”
“Papa dan Mama … besok aku boleh melihat mereka?”
Di luar pintu, Francis yang baru tiba berhenti melangkah. Ia tidak masuk, hanya berdiri di celah pintu yang sedikit terbuka, mendengarkan.
“Boleh,” jawab Kiyo. “Paman Francis sudah menyiapkan upacaranya. Besok kau ke kuil, memberi salam terakhir yang layak.”
“Apa … apa akan sakit?”
“Melihat mereka tidak sakit. Yang sakit itu setelahnya, dan itu tidak apa-apa.” Kiyo menarik selimut sampai ke dagu bocah itu. “Tidur. Besok kau harus jadi anak yang kuat. Anak yang kuat itu bukan yang tidak menangis, tapi yang selesai menangis lalu berdiri lagi.”
Lenard mengangguk kecil. Genggamannya di kain Kiyo mengendur pelan-pelan. “Kiyo besok ikut, kan?”
Kiyo melirik ke arah pintu, ke arah siluet yang berdiri diam di sana. “Kalau diizinkan.”
“Kalau Kiyo tidak ikut, aku tidak mau pergi.”
Itu bukan ancaman anak kecil. Itu pernyataan polos, dan justru karena itu tidak bisa dilawan. Kiyo menghela napas panjang sekali, seperti orang yang baru saja kalah perang tanpa sempat bertempur. “Ya, ya. Aku ikut. Sekarang tidur.”
Di lorong, Francis menutup pintu dengan sangat pelan. “Kuil adalah tempat suci,” katanya lirih, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Kiyo. “Seorang fakir di dalam kuil akan jadi persoalan.”
“Kalau begitu aku menunggu di gerbang. Aku tidak punya urusan dengan tuhan-tuhananmu.” Kiyo berjalan melewatinya menuju kamarnya sendiri, lalu berhenti dua langkah. “Oh, satu hal, Paman Francis. Benang yang kemarin kau ikatkan di tanganku — putus. Bukan aku yang memutuskan. Benangmu sendiri yang menyerah duluan.”
Francis tidak menjawab. Untuk beberapa lama ia hanya berdiri di lorong yang redup, mendengar dengkuran kecil dari balik pintu, dan untuk pertama kalinya sejak Aryeh tiada, ia bertanya pada dirinya sendiri apakah rumah besar ini masih bisa disebut aman.