Pagi datang dengan langit yang kelabu, seolah bumi baru itu pun tahu upacara apa yang akan digelar di kaki bukit utara. Kuil keluarga Aurum berdiri di ujung taman belakang kediaman utama, sebuah bangunan batu putih dengan pilar-pilar tinggi yang dipahat menyerupai singa-singa berbaris. Di puncaknya, lambang Raja Binatang berputar pelan ditiup angin — sebuah lingkaran yang di dalamnya terukir jejak telapak berkuku lima.
Lenard turun dari kereta dengan pakaian serba hitam yang terlalu rapi untuk seorang anak berusia lima tahun. Rambut emasnya disisir licin, dan tangannya menggenggam sebatang bunga putih yang ia pilih sendiri sejak subuh dari taman. Wajahnya pucat, tapi ia tidak menangis. Sejak bangun, ia belum menangis setetes pun, dan justru itulah yang membuat Francis gelisah sepanjang jalan.
“Tuan Muda,” bisik Francis sambil berlutut di sampingnya, “Anda tidak harus kuat di dalam sana. Di kuil ini, Anda boleh menjadi Lenard, bukan Duke.”
Lenard mengangguk kecil. Matanya mencari ke belakang, ke arah kereta kedua, tempat Kiyo turun dengan malas sambil merenggangkan leher. Rambut peraknya diikat setengah, pakaiannya serba gelap pinjaman dari lemari Francis, dan kepalanya hari itu tidak ditutup kain — sepasang telinga manusianya dibiarkan terlihat oleh siapa pun yang peduli.
Semua orang peduli. Bisik-bisik langsung menjalar di antara para pelayan dan prajurit yang berbaris di sepanjang jalan setapak.
“Fakir ….”
“Kenapa ada fakir di upacara pemakaman Tuan Besar?”
“Dia yang menemukan Tuan Muda, kata orang.”
Di depan pintu kuil, sang imam sudah menunggu. Laki-laki tua dengan jubah putih berlapis benang emas itu menyambut Lenard dengan membungkuk dalam, lalu menyambut Francis dengan anggukan hormat. Namun ketika matanya jatuh pada Kiyo, anggukan itu berhenti di tengah jalan.
“Tuan Francis.” Suara imam itu tetap halus, tetapi punggungnya menegang. “Upacara hari ini adalah upacara suci. Ibu Bumi dan Raja Binatang akan dipanggil untuk mengantar dua ruh pulang. Kuil ini … tidak diperuntukkan bagi mereka yang tidak terberkati.”
“Dia tidak masuk ke dalam ruang suci,” jawab Francis. “Dia menunggu di serambi.”
“Serambi pun masih tanah kuil.”
“Imam.” Francis menurunkan suaranya sampai hanya terdengar oleh mereka bertiga. “Orang itu berjalan dari pulau Meridien ke benua ini sambil menjaga Tuan Muda tetap hidup. Dua malam lalu dia menahan pintu kamar Tuan Muda dengan nyawanya sendiri. Jika Ibu Bumi keberatan atas kehadirannya di serambi, biar Ibu Bumi yang menyampaikannya langsung kepadaku.”
Imam itu terdiam. Matanya yang tua memandang Kiyo lama, mencari sesuatu yang tidak ia temukan, lalu ia menggeleng pelan dan melangkah masuk lebih dulu.
Kiyo, yang mendengar semuanya dari jarak lima langkah, hanya mengedikkan bahu. “Aku memang tidak punya urusan di dalam. Aku di sini saja.” Ia duduk di anak tangga serambi, menyelonjorkan kaki, dan menatap langit kelabu. “Lenard. Masuklah. Beri salam yang baik.”
Lenard ragu, tapi akhirnya mengangguk dan masuk bersama Francis.
oOo
Dari anak tangga itu, Kiyo bisa melihat hampir seluruh pekarangan kuil. Para pelayat datang berombongan: bangsawan-bangsawan Aurum dengan lambang singa di kerah, perwakilan dari wilayah lain, pedagang besar yang punya urusan dengan keluarga. Semua berjalan pelan dengan wajah yang dilatih untuk terlihat berduka.
Mata kanan Kiyo bekerja tanpa diminta. Aura orang-orang itu terbentang di hadapannya seperti kain-kain berwarna yang dijemur berderet. Kebanyakan abu-abu kusam — duka yang setengah tulus, setengah sopan santun. Beberapa kuning pucat, warna orang yang lebih sibuk menilai satu sama lain daripada berdoa. Dua tiga berwarna biru bening, duka yang sungguh-sungguh, dan Kiyo menandai wajah-wajah itu baik-baik: orang-orang yang benar-benar kehilangan Aryeh.
Lalu ia melihatnya.
Di tengah rombongan yang baru turun dari kereta keempat, seorang laki-laki bangsawan berjalan dengan langkah tenang. Rambutnya emas keperakan, disisir rapi ke belakang, janggut tipis dipangkas dengan sempurna. Pakaiannya mahal tanpa perlu terlihat berlebihan. Dari jauh pun orang bisa tahu itu singa tua yang sudah lama berkuasa di kandangnya sendiri.
Tetapi aura yang mengelilinginya membuat Kiyo memincingkan mata. Warna itu sulit dilukiskan — seperti genangan minyak di atas air jernih, kehijauan dan berkilau di permukaannya, namun keruh pekat di bawahnya. Orang-orang di sekitarnya memberi jalan dengan hormat, dan laki-laki itu tersenyum ramah pada semuanya, tetapi aura berminyak itu tidak ikut tersenyum.
‘Menarik,’ batin Kiyo.
Laki-laki itu berhenti di depan pintu kuil, menyapa imam, lalu masuk ke dalam. Sepanjang jalan masuk, tangannya menepuk pundak beberapa orang, dan setiap kali ia menepuk, aura orang yang ditepuk itu bergetar sedikit — seperti air yang diaduk oleh jari.
Kiyo tidak tahu nama laki-laki itu, tetapi ia mengingat wajahnya dengan sangat baik.
oOo
Di dalam kuil, dua peti putih berdampingan di bawah cahaya yang turun dari kubah. Lenard berjalan di antara barisan pilar dengan langkah yang semakin pelan setiap meternya. Ketika akhirnya ia berdiri di depan peti ayahnya, kaki kecilnya berhenti sama sekali.
Aryeh an Aurum terbaring seperti orang tidur. Rambut emasnya disisir, jubah kebesaran keluarga menutupi tubuhnya sampai leher. Di peti sebelah, istrinya memegang sebuket bunga kering di atas dadanya, wajahnya damai seperti sedang mendengarkan dongeng.
Lenard tidak bergerak untuk waktu yang lama. Francis berdiri dua langkah di belakangnya dan tidak memaksa apa pun.
“Papa,” kata Lenard akhirnya, pelan sekali. “Aku pulang.”
Tidak ada jawaban, dan untuk pertama kalinya, Lenard mengerti dengan sebenar-benarnya bahwa tidak akan pernah ada jawaban lagi.
“Maafkan aku tidak ikut menjaga Papa dan Mama.” Suara Lenard mulai bergetar. “Aku cuma bisa menangis waktu itu. Aku cuma bisa sembunyi di dalam kereta.” Ia meletakkan bunga putihnya di sisi peti dengan kedua tangan, sangat hati-hati, seperti meletakkan sesuatu yang paling berharga di dunia. “Tapi aku sudah pulang. Dan aku akan belajar jadi kuat. Kiyo bilang, anak yang kuat itu yang selesai menangis lalu berdiri lagi. Jadi … jadi aku akan menangis sekarang, supaya nanti aku bisa berdiri.”
Tangisnya pecah di tengah kalimat terakhir. Francis berlutut di sampingnya dan merengkuh bahu kecil itu, dan kali ini tidak ada satu pun orang di kuil yang berani berbisik.
Dari barisan pelayat, laki-laki berambut emas keperakan memandang pemandangan itu dengan kepala sedikit menunduk. Orang-orang di sekitarnya menyapanya sebelum upacara dimulai: “Lord Dario.” Ia menjawab semuanya dengan suara berat yang penuh empati, dan mengatakan betapa keluarga harus bersatu demi anak malang itu.
Tidak ada yang melihat bahwa sepanjang upacara, pandangan Lord Dario lebih sering berhenti di peti Aryeh daripada di wajah Lenard — dan tidak ada satu pun di dalam pandangan itu yang menyerupai duka.
oOo
Upacara selesai menjelang sore. Rombongan pelayat meninggalkan kuil berombongan, dan Kiyo masih duduk di anak tangga yang sama ketika Francis keluar sambil menggendong Lenard yang tertidur dengan mata sembab.
“Kukira kau sudah kabur,” kata Francis.
“Dan melewatkan pertunjukan gratis?” Kiyo bangkit, menepuk debu dari celananya. “Paman Francis. Siapa singa tua berambut emas keperakan yang tadi datang dengan kereta keempat? Yang janggutnya rapi sekali itu.”
Alis Francis bertaut. “Dario an Aurum. Adik sepupu mendiang kakek Tuan Muda. Ia mengurus wilayah selatan Aurum, dan duduk di Dewan keluarga. Kenapa?”
“Tidak kenapa-napa.” Kiyo berjalan di sampingnya menuju kereta. “Hanya mencatat wajahnya. Dia satu-satunya orang di upacara ini yang auranya tidak sedih, tidak lelah, dan tidak takut.”
Francis berhenti melangkah. “Kau bisa melihat itu?”
“Aku sudah bilang. Mataku tidak sopan sejak lahir.”
Di dalam kereta, Lenard menggeliat dalam tidurnya dan merangkul lengan Kiyo begitu laki-laki itu duduk di sampingnya. Francis menatap keduanya lama dari bangku seberang, lalu memandang ke luar jendela, ke arah kuil putih yang makin jauh.
“Besok Dewan berkumpul,” katanya akhirnya. “Dario akan ada di sana.”
“Kalau begitu semoga aku diundang menonton.”
“Kau tidak diundang.”
“Sayang sekali.” Kiyo menyandar dan memejamkan mata. “Kalian ini lucu. Ada serigala di ruang tamu, dan semua orang sibuk berdebat soal siapa yang boleh duduk di kursi paling besar.”
Francis tidak bertanya apa maksudnya. Ia sudah mulai belajar bahwa setiap kalimat aneh Kiyo biasanya akan terbukti artinya beberapa hari kemudian — dan pelajaran itu membuat malamnya tidak tenang.