Ruang rapat keluarga Aurum berbentuk setengah lingkaran, dengan tujuh kursi batu menghadap sebuah meja panjang dari kayu hitam. Di dinding belakangnya, lukisan para kepala keluarga terdahulu berbaris dari yang paling tua sampai yang paling baru — dan di ujung barisan itu, Aryeh an Aurum memandang ke bawah dengan senyum yang sama seperti di hari lukisan itu dibuat.
Francis duduk di kursi tengah, bukan di kursi kepala keluarga. Kursi itu sengaja dibiarkan kosong, dan semua orang di ruangan itu tahu alasannya, dan semua orang pula tahu bahwa kursi kosong adalah bentuk kekuasaan yang paling mudah diperebutkan.
Enam anggota Dewan hadir pagi itu. Tiga bangsawan tua yang mengurus tanah dan tambang, seorang janda pemegang kunci perbendaharaan, seorang jenderal tua pengawal perbatasan utara, dan Dario an Aurum yang datang paling akhir dengan senyum paling tenang.
“Sebelum kita mulai,” Dario berkata begitu duduk, “izinkan aku menyampaikan sekali lagi betapa dalam dukaku. Aryeh adalah kebanggaan keluarga ini. Dan anak itu … anak itu adalah masa depan kita semua.”
Kepala-kepala mengangguk di sekeliling meja. Francis mengamati tanpa bersuara.
“Karena itu,” lanjut Dario dengan nada yang diatur sangat hati-hati, “kita tidak boleh membiarkan masa depan itu berdiri di atas kaki yang belum kokoh. Tuan Muda berusia lima tahun. Perbatasan utara sedang tidak tenang, Behemoth masih berkeliaran, dan dua hari lalu pembunuh masuk ke dalam kediaman ini.” Ia membuka kedua telapak tangannya, seolah menyajikan fakta yang tidak bisa dibantah siapa pun. “Dewan harus menunjuk wali pemerintahan. Bukan satu orang muda yang bahkan belum pernah memimpin wilayah, tetapi sebuah majelis wali. Tiga orang, lima orang, yang penting berpengalaman.”
Janda pemegang perbendaharaan, Lady Maribel, memutar cincin di jarinya. “Majelis wali berarti keputusan dibagi. Keputusan yang dibagi adalah keputusan yang lambat, dan perbatasan utara tidak menunggu rapat.”
“Lady Maribel benar,” sahut jenderal tua, Barden. “Satu wali, satu suara. Kalau ada yang salah, kita tahu harus memenggal siapa.”
“Kata-kata yang kasar, Jenderal.” Dario tersenyum tipis. “Tapi aku mengerti maksudnya. Kalau begitu, izinkan aku mengusulkan nama yang tidak bisa dibantai siapa pun: seseorang dari garis tertua, yang sudah mengurus wilayah selama puluhan tahun, yang disegani para bangsawan maupun rakyat.” Ia tidak menyebut nama. Ia tidak perlu.
Francis akhirnya bersuara, dan suaranya tenang seperti air telaga. “Kalau Lord Dario bermaksud mengusulkan dirinya sendiri, lebih terhormat mengatakannya langsung.”
Udara di ruangan itu turun beberapa derajat. Dua bangsawan tua saling berpandangan. Dario sendiri hanya tertawa kecil, tidak tersinggung — justru itulah yang paling menyebalkan dari dirinya.
“Aku mengusulkan siapa pun yang terbaik untuk Tuan Muda,” katanya ringan. “Jika Dewan menilai itu Francis, aku akan menjadi orang pertama yang mengangkat gelas. Tapi izinkan aku bertanya sebagai orang yang juga mencintai keluarga ini: apakah wali pemerintahan yang pantas adalah orang yang di bawah penjagaannya, pembunuh bisa berjalan masuk ke kamar Tuan Muda? Dua malam lalu, Francis. Di rumahmu sendiri.”
Pukulan itu tepat di tempat yang paling sakit, dan semua orang di meja tahu. Beberapa pasang mata menunggu Francis tersinggung, berharap darah muda yang panas akan membuatnya kehilangan kata-kata.
Namun Francis hanya mengangguk pelan. “Lord Dario benar. Dua malam lalu pembunuh masuk ke kediaman ini, dan itu kegagalan yang menjadi tanggung jawabku sepenuhnya.” Ia berdiri, dan suaranya tetap tidak naik satu tingkat pun. “Karena itu, izinkan aku menyampaikan apa yang sudah kami temukan. Para pembunuh itu anggota jaringan Simpul — disewa lewat perantara, dibayar untuk tidak tahu siapa pemesannya. Mereka bergerak dengan peta rumah ini di kepala mereka: kamar Tuan Muda, jadwal rotasi penjaga, bahkan kebiasaan jendela sayap utama.”
Ia membiarkan kalimat itu mengendap. Satu per satu wajah di meja berubah.
“Artinya,” Francis melanjutkan, “seseorang yang mengetahui rumah ini dari dalam memberikannya kepada mereka. Dan orang dalam itu bukan pelayan dapur — pelayan tidak tahu jadwal rotasi penjaga. Orang dalam itu duduk di lingkaran yang cukup tinggi untuk mengetahui semuanya.” Ia menyapu pandang ke sekeliling meja, berhenti sesaat di wajah Dario yang masih tersenyum, lalu bergerak lagi. “Jadi mari kita bicara wali pemerintahan setelah kita bicara fakta bahwa musuh Tuan Muda mungkin sedang duduk mendengarkan rapat ini.”
Hening yang turun kali ini berbeda. Jenderal Barden mengetuk meja dengan satu jari, pelan dan berat. “Ada bukti?”
“Penyelidikan sedang berjalan. Aku tidak akan menuduh tanpa bukti, dan aku minta tidak ada yang membicarakan ini di luar ruangan.”
“Kalau begitu posisi wali ditunda sampai penyelidikan selesai,” putuskan Lady Maribel, dan jari-jarinya berhenti memutar cincin. “Terlalu berbahaya menyerahkan kunci gudang dan segel perintah kepada siapa pun sekarang.”
“Ditunda tidak bisa,” potong Dario, masih dengan suara yang ramah. “Hukum kerajaan jelas: jika kepala keluarga gugur dan pewarisnya di bawah umur, seorang wali harus ditetapkan dalam tujuh hari, atau hak menetapkan jatuh ke tangan Yang Mulia Raja.” Ia mengetukkan jari ke meja dengan sopan. “Dan aku ragu, ragu sekali, ada yang ingin Raja dan para menterinya ikut mencampuri rumah tangga Aurum. Terutama dengan berita bahwa pewaris utara … diasuh oleh seorang fakir tanpa nama.”
Kalimat terakhir itu diucapkannya seperti orang membaca cuaca. Tetapi mata Francis menajam.
“Berita itu sampai ke telingamu cepat sekali, Lord Dario. Kejadiannya baru dua hari, dan kau baru tiba kemarin pagi.”
“Berita buruk punya kaki yang panjang, Francis. Kau akan belajar itu seiring waktu.” Dario bangkit dari kursinya dan memberi hormat kecil ke sekeliling meja. “Aku hanya meminta Dewan berpikir dengan kepala dingin. Kita semua menginginkan hal yang sama: Tuan Muda tumbuh besar, aman, dan naik takhta utara di waktunya.”
Ia berjalan keluar dengan langkah yang tidak tergesa sedikit pun.
oOo
Malam itu, Lenard terbangun oleh mimpinya sendiri. Ia tidak menjerit — ia hanya terduduk di tempat tidur dengan napas cepat dan tangan gemetar, dan di kepalanya sumur itu masih gelap seperti pertama kali.
Kiyo, yang tidur di kamar sebelah dengan pintu penghubung terbuka, sudah duduk di tepi ranjang sebelum Lenard sempat memanggilnya.
“Sumur lagi?” tanyanya.
Lenard mengangguk kecil.
“Sini.” Kiyo menepuk lututnya, dan bocah itu merangkak ke gendongannya seperti anak kucing. “Kau tahu, di duniaku dulu, ada cerita tentang kucing yang jatuh ke dalam sumur.”
“Kucing … bisa cerita?”
“Semua kucing bisa cerita. Manusia saja yang tidak mau mendengarkan.” Kiyo membenarkan letak selimut di pundak Lenard. “Kucing itu jatuh ke sumur yang gelap, dan dia tidak bisa memanjat keluar karena dindingnya licin. Jadi apa yang dia lakukan? Dia berhenti memanjat. Dia duduk, membersihkan kukunya, dan mendengarkan. Di gelap, telinganya jadi sepuluh kali lebih tajam. Dia bisa mendengar napas tikus di lubang dinding, bisa mendengar air menetes tiga lantai di bawahnya. Dan ketika pemilik rumah datang menurunkan ember untuk menimba air, kucing itu sudah tahu dari suaranya — dan dia melompat ke dalam ember sebelum ember itu menyentuh air.”
Lenard mendengarkan dengan mata yang masih basah tapi sudah tidak gemetar. “Lalu dia selamat?”
“Dia selamat. Dan sejak itu, setiap kucing di kampung itu diajari triknya: kalau kau jatuh ke tempat gelap, jangan panik memanjat. Duduk, bersihkan kukumu, dan dengarkan.” Kiyo menepuk punggungnya pelan. “Kau sudah melakukannya sekali di sumur sungguhan. Kau menangis — tidak apa-apa, kucing itu juga mengeong — tapi kau tetap di sana sampai pertolongan datang. Sekarang tugasmu cuma satu: jadikan gelap itu milikmu. Kalau gelap sudah jadi milikmu, dia tidak bisa menakutimu lagi.”
“Bagaimana caranya menjadikan gelap milikku?”
“Besok kita mulai. Aku akan mengajarimu hal-hal yang tidak diajarkan guru bangsawan.” Kiyo menyeringai dalam gelap. “Cara mendengar langkah kaki, cara membaca pintu yang baru saja dibuka, cara tahu seseorang berbohong dari suaranya. Supaya lain kali ada yang mencoba menculikmu, kau bukan hanya selamat — kau yang membuat mereka menyesal.”
Mata Lenard berbinar di tengah sisa air mata. “Sungguh? Aku boleh belajar itu?”
“Syaratnya: tidur sekarang. Murid yang kurang tidur tidak bisa mendengar apa pun.”
Lenard langsung merebahkan diri dengan patuh, dan kali ini ketika matanya terpejam, sumur di kepalanya tidak lagi hanya berisi kegelapan. Ada seekor kucing di sana, duduk membersihkan kuku, menunggu ember turun.
oOo
Di ruang kerjanya, Francis masih terjaga jauh lewat tengah malam. Di atas mejanya ada daftar nama semua orang yang bertugas di sayap utama, dan di sebelahnya surat-surat yang belum sempat ia sentuh sejak pemakaman.
Tujuh hari. Batas yang disebut Dario bukan gertakan — hukum kerajaan memang berkata begitu, dan hari ketiga sudah lewat. Jika Dewan menolak menetapkan wali, istana yang akan memilihkan untuk mereka, dan orang pilihan istana belum tentu punya hati untuk Lenard.
Ia sedang menekan segel lilin pada sebuah surat ketika suara terompet dari gerbang depan memecah keheningan malam. Bukan terompet bahaya — terompet penanda kedatangan utusan resmi. Francis berdiri begitu cepat hingga kursinya menggeser lantai.
Di serambi depan, di bawah cahaya obor, seorang kurir dengan lambang mahkota di dadanya turun dari kuda dan mengangkat sebuah tabung surat bersegel emas.
“Dari ibu kota,” kata kurir itu dengan hormat yang kaku. “Titah Yang Mulia Raja untuk keluarga Aurum.”